Episode 000: Prolog

Story DNA

Genre
myth
Tone
solemn
Themes
responsibility, balance of nature, sacrifice, divine mandate
Plot Summary
From the Sky World, cosmic rulers Datu Patoto'e and Datu Palinge' decide to send their divine son, La Togeq Langi', to the empty Earth to become its first human caretaker, despite his mother's sorrow. After an assembly with other deities and a purification ritual, La Togeq Langi', now named Batara Guru, descends to Earth carrying symbolic items. Upon arrival, he scatters these items, instantly creating plants and animals, bringing life to the barren world. The story concludes with Batara Guru ready to face his human trials, establishing a new cosmic order and humanity's mandate to care for Earth.

Episode 000: Prolog

Dari balik tirai kelam Boting Langi', istana Datu Patoto'e berdenyut dalam kesunyian yang monumental. Di sanalah Datu Patoto'e duduk bersama Datu Palinge', istri yang selalu menentramkan hatinya. Mereka adalah pusat keputusan kosmis: tiga lapis dunia-Langit, Pertiwi, dan Bumi-menunggu penataan. Pembicaraan mereka bukan retorika; itu mandat yang akan menurunkan garis keturunan, menggerakkan nasib makhluk, dan menetapkan hukum pertama di muka Bumi.

Datu Patoto'e menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke bawah, ke hamparan Bumi yang masih hampa. "Bumi kosong," ucapnya, suaranya berat tetapi tegas. "Tidak ada yang mengurusnya. Air menguap, tanah tak dipelihara. Jika biarkan kosong, alam akan kacau dan dua dunia lain-Langit dan Pertiwi-akan kehilangan keseimbangan."

Datu Palinge' menunduk, jemarinya menyapu kain kebesaran. "Kakanda, kita tahu risikonya. Menurunkan keturunan kita berarti merelakan pertemuan menjadi amat jarang. Kita adalah penguasa Langit; anak kita akan menjadi manusia, rentan akan cobaan. Aku takut akan kehilangan dia."

Datu Patoto'e meraih tangan Palinge', lembut namun tegas. "Aku paham, istriku. Namun hukum kosmos menuntut keseimbangan: ada yang harus tinggal menangani tanah. Aku tak mau membiarkan Bumi dikuasai makhluk lain yang tak berkewajiban. Anak kita-yang kelak dinamai Batara Guru oleh para dewa-akan turun. Ia harus diuji sebagai manusia, menata bumi, mengatur makhluk-makhluk yang akan datang."

Di ruang yang sama, para dewa penjaga-matahari, bulan, bintang-mendengarkan. Matahari, yang bertugas menerangi, mengangkat kepalanya: "Jika aku menyalakan siang untuk rumah yang kosong, apakah itu bukan sia-sia?" Suaranya bergetar, kesal sekaligus prihatin.

Datu Patoto'e menatap balik. "Jika aku tidak memilih, cahaya kita menjadi tanpa tujuan. Menurunkan seorang putra bukan penghinaan, melainkan amanat. Ia akan menjaga Bumi. Ia harus menjadi yang pertama, sehingga manusia-manusia kelak mengerti hukum alam."

Suasana terguncang oleh kabar yang datang dari gelanggang: dua penjaga ayam-Rum dan Rukeleng Poa-menghilang, ditemukan sedang berjalan-jalan di permukaan Bumi. Datu Patoto'e murka. "Kalian mengerti konsekuensinya-ayam yang berkeliaran berubah menjadi monster bagi manusia jika waktunya tidak tertib. Kalian lalai."

Rum menunduk, suaranya kecil: "Tuanku, kami tak sengaja. Bumi itu menakjubkan. Kami hanya ingin melihat."

Rukeleng Poa menambahkan, cemas: "Kami menyaksikan keadaan Bumi. Sunyi, kosong, namun penuh kemungkinan."

Datu Patoto'e menghela napas panjang, lalu berkata lebih lembut daripada sebelumnya: "Diam-diam kalian memberi bukti. Bumi memang perlu penjaga. Maka aku tetapkan: manusia akan menjadi makhluk pertama yang menghuni Bumi. Makhluk lain yang datang setelahnya akan menjadi penopang bagi manusia."

Kedua penjaga tertegun, rasa bersalah bercampur lega saat hukuman yang keras bisa beralih menjadi tugas: "Tuanku, kami mohon ampun. Kami akan melaksanakan perintah."

Kabar keputusan ini dibawa ke kerajaan-kerajaan lain di bawah naungan Pertiwi. Utusan segera berangkat mengundang Sinauk Toja dan Guru Riselek, penguasa Pertiwi, datang ke Langit. Alasan undangan itu segera terjawab dalam pertemuan agung: Datu Patoto'e hendak menurunkan putranya, La Togeq Langi', sebagai manusia pertama yang akan mengurus Bumi-tetapi hanya setelah ia mampu hidup mandiri di muka tanah. Sebelum itu, rencana perjodohan disampaikan: La Togeq Langi' akan dikawinkan dengan We Nyili' Timo, putri terindah Sinauk Toja dan Guru Riselek. Ia harus menguji dirinya dulu sebagai manusia; jika lulus, barulah ikatan itu dipertegas.

Sinauk Toja memandang Datu Palinge', bertanya dengan nada hati-hati: "Apakah memang harus La Togeq Langi' yang turun, Datu Patoto'e? Banyak anak-anak Langit yang mampu."

Datu Patoto'e menjawab tanpa ragu: "Anak sulungku punya sifat-sifat yang cocok: keteguhan, belas kasih, dan keberanian. Ia harus belajar hidup tanpa kemustahilan Langit."

Datu Palinge' meletakkan tangan di bahu Datu Patoto'e, suaranya pecah menahan air mata: "Jika demikian, aku merelakan. Aku hanya ingin agar putra kita mengerti cinta, bukan hanya tugas."

Diantara yang hadir, dua penjaga yang sempat lalai-Rum dan Rukeleng Poa-berbisik, penuh khayal: "Bayangkan kita sendiri yang menjadi pelayan penguasa Bumi," kata Rukeleng Poa, setengah bercanda. "Tapi hidup sebagai Oro-hamba-bukanlah kehinaan jika kita menjaga keseimbangan."

Rum menanggapi dengan senyum sinis namun menyimpan rindu: "Kalau begitu, setidaknya kita bisa melihat Bumi lebih lama."

Permusyawaratan pun berlanjut. Dewa-dewa dari lapisan lain, termasuk penjaga pintu langit, menurunkan pelangi tangga, satu-satu gerbang langit terbuka. Petir dan guntur menjadi saksi haru ketika La Togeq Langi' dimandikan dalam ritual penyucian-momen untuk mengubah wujud dari dewa menjadi manusia. Batara Guru, itulah nama yang kelak diucapkan para dewa untuk menanda pekerjaan suci itu, mengusap kening orang tuanya sebelum turun.

La Togeq Langi' menatap kelopak langit yang terbelah, suaranya nyaris sumbang oleh air mata: "Ayah, Ibu... aku akan menjalani ini demi keseimbangan."

Datu Palinge' membalas, suaranya bergetar: "Ingat pesan kami: ajarilah manusia menyembah dan merawat Bumi, jangan merusaknya. Jika kalian melanggarnya, bencana akan turun."

Datu Patoto'e menambahkan, tegas dan penuh wibawa: "Semua keturunanmu kelak harus menghormati aturan ini. Hukum Langit bukan hanya kuasa-itu tanggung jawab."

Saat gerbang-langit terbuka dan bambu betung diangkat menjadi wahana turun, Batara Guru-berseragam kebesaran yang telah disucikan-menggenggam beras warna-warni, daun sirih, batang tebu, dan benda-benda yang akan menjadi unsur pokok kehidupan di Bumi. Setiap barang yang ia bawa memiliki makna: beras untuk makanan, daun sirih untuk perjanjian, tebu untuk manisnya komunitas, dan lain-lain-semua akan disebarkan untuk membentuk siklus hidup.

Sebelum turun, dua adiknya-Talaga Unruk dan Kanya-memeluknya, air mata menetes di pipi mereka. Talaga berbisik, ada nada ketakutan: "Kakak, apakah kau pasti kuat?"

Batara Guru menggenggam bahu mereka, nada tegas namun sayang: "Aku harus. Ini bukan sekadar tugas-ini penegakan tatanan tiga dunia. Jika aku tak turun, keseimbangan akan terus rapuh."

Langit pun mengguncang: petir menyambar, angin kenang menurunkan hembusannya, bunyi gemuruh menjadi seruan pelepasan. Bambu betung mengangkat Batara Guru, menurunkannya pada tarikan pelangi tangga menuju Bumi yang masih sepi. Di bawah, tanah menanti, kosong tetapi penuh potensi.

Setibanya, Batara Guru meletakkan beras warna-warni di permukaan Bumi. Sekonyong-konyong, biji-biji itu meledak menjadi rimbunnya padang dan pepohonan kecil, kemudian beranjak berubah menjadi hewan-hewan melata-biawak, ular-yang mengisi ruang-ruang baru. Ia menaburkan butir berkilat; dari sana bermunculan satwa bersuara nyaring, memenuhi sunyi Bumi dengan kehidupan pertama. Bumi, yang barusan hampa, kini mulai bernapas.

Batara Guru berdiri di tengah hamparan baru ini, tubuhnya masih mengenakan busana kebesaran yang sedikit berdebu. Tak lama lagi akan dimulai ujian: menjadi manusia berarti lapar, lelah, dan menghadapi cobaan. Namun langkah pertamanya telah menetapkan mandat: La Togeq Langi' turun sebagai Batara Guru, manusia pertama sekaligus pengatur Bumi. Di Langit, Datu Patoto'e dan Datu Palinge' menatap lega namun cemas; di Pertiwi, Sinauk Toja dan Guru Riselek menunggu hasil ujian yang akan menentukan nasib perjodohan; di antara para penjaga, Rum dan Rukeleng Poa menahan nafas, mengetahui peran mereka kini bergeser menjadi saksi dan pelaksana keseimbangan.

Dialog-dialog singkat bergema di antara mereka, mengikat keputusan itu menjadi hukum yang mengalir turun ke tiga dunia:

"Jangan merusak Bumi," kata Datu Palinge' lagi, seperti mantra.

"Aku akan menjaga," jawab Batara Guru, suaranya tegas, namun di baliknya ada sayatan kerinduan pada Langit.

"Kalau begitu mulailah," ujar Datu Patoto'e, mata menetes.

Batara Guru menatap cakrawala, langkahnya mencetak jejak pertama di tanah baru. Di sanalah Prolog berakhir: tatanan baru dimulai-tiga dunia terikat oleh satu mandat ilahi-dengan seorang manusia-dewa memikul beban turun-temurun. Konflik berikutnya akan lahir dari bagaimana manusia akan menanggapi amanah itu, tetapi untuk sekarang, keputusan telah diambil; garis keturunan turun, dan dunia menunggu untuk diuji.

Tokoh dalam Episode Ini

Datu Patoto'e (protagonist) Datu Palinge' (supporting) Batara Guru (protagonist) Rum (minor) Rukeleng Poa (minor) Sinauk Toja (supporting) Guru Riselek (supporting) We Nyili' Timo (minor)