Episode 020: Anak Pertama Batara Guru Dan Penjaga Gunung Latimojong
Sejak kedatangan We Nyili' Timo, hidup Batara Guru bertransformasi menjadi lebih bahagia. Ia tak lagi merasa cemas, selalu bergandeng tangan dengan We Nyili' Timo, menunjukkan kedekatan yang tak terpisahkan. "Kita harus bertemu Penjaga Sungai, Timo," kata Batara Guru ceria suatu pagi.
"Sebagai buktimu, aku bukanlah yang dia katakan," jawab We Nyili' Timo penuh semangat. Namun, saat mereka tiba di sungai, mereka terkejut melihat mata Penjaga Sungai yang buta dan aneh.
"Batara Guru, aku minta maaf atas kesalahanku," tangis si buaya. "Karma menimpaku!"
"We Nyili' Timo, mari kita bantu dia," ucap Batara Guru, merasa empati. Dengan satu sentuhan, We Nyili' Timo berusaha menyembuhkan, dan Batara Guru memberinya hadiah. "Ini sebagai ungkapan terima kasih atas kesetiaanmu," katanya sambil tersenyum.
Di sisi lain, Batara Guru berusaha membangun kerajaannya dengan para selirnya. "Aku tidak butuh selir, Timo!" protesnya.
"Tapi kau perlu keturunan untuk masa depan! Ambil kearifan dari para perempuan ini," jawab We Nyili' Timo menegaskan.
Setelah beberapa bulan berlalu, Batara Guru kini memiliki lima selir dan satu permaisuri. Dari Kerajaan Langit ada Apung, Talaga, dan Wellng, sementara dari Pertiwi ada Penderita Lunruk dan Apung Ritoja. Semua sibuk menyiapkan hidangan bagi mereka.
Namun, satu hal aneh terjadi: tanaman padi Tak kunjung tumbuh. We Nyili' Timo yang seharusnya bahagia, mendapati dirinya selalu melibatkan hal-hal aneh. "Pohon ini berbuah, bukan? Ambilkan!" katanya kepada pengawalnya.
"Tapi tuan putri, tidak ada buah di sana." Para pengawal bingung.
Di tengah keterpurukan, langit gelap mendatang, petir menyambar. Kemudian, Tomanurung, sang penjaga Gunung Latimojong, muncul. "Aku di sini untuk membantu menjaga kedamaian," ucapnya dengan suara booming.
Kabar aneh beredar. Isu kehamilan We Nyili' Timo menghangatkan perhatian. "Apa dia hamil?" tanya seorang selir dengan penuh antusiasme. Ternyata, itu bukanlah dia yang mengandung, melainkan We Saung.
Setelah tujuh bulan kehamilan, Batara Guru memiliki anak pertama, seornag putri yang dinamai We Odangdriuk. "Anak ini adalah harapanku," Batara Guru berujar dengan ceria.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan tujuh hari. "Anakku...!" rintih Batara Guru menatap makam putrinya. Dengan hati hancur, ia mengunjungi makam putrinya yang kini sudah ditumbuhi padi beraneka warna. "Bagaimana bisa ini terjadi?" teriaknya takjub.
Makam We Odangdriuk dihiasi oleh padi warna-warni dengan keindahan yang melebihi imajinasi. "Ada sesuatu yang luar biasa di sini," gumam Batara Guru dalam hati. Dia merasakan kehadiran yang mistis, menandakan bahwa kehidupan baru akan terus berlanjut, mengatasi sakit dan kehilangan.