Episode 023: Batara Lattu Dan Kekacauan 15 Hari
Batara Guru duduk di ruangan istana, wajahnya dipenuhi kerumitan pikiran. Tiba-tiba, bumi bergetar, suara gemuruh dan petir bersahutan di langit. Dalam hati, ia merasakan pertanda sesuatu yang besar akan terjadi. "Apa ini artinya, ya? Mungkinkah seorang Manurung akan turun?" gumamnya.
Tak lama, datanglah We Sawamenga, bisu dari kerajaan langit, menghampiri dan bersujud di hadapan Batara Guru. "Kami datang untuk menghormati dan menyampaikan pesan dari Dewata," ucapnya, penuh rasa hormat.
Batara Guru segera memerintahkan, "Adakan upacara adat untuk memohon putra mahkota! Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini." We Nyili' Timo yang mendengarnya menatap suaminya, "Apakah ini saat yang tepat?"
"Ya, harapan kita berlandaskan doa dan pengorbanan," jawab Batara Guru menegaskan. Sesegera mungkin, para penghuni istana bersiap menggelar upacara. Di Gunung Latimojong, We Sawamenga bersemedi selama tujuh hari tujuh malam.
Ketika kabar baik datang, "Batara Guru, permintaan kita telah dikabulkan!" ucap We Sawamenga dengan gembira. Kegembiraan meliputi ruangan, We Nyili' Timo meneteskan air mata bahagia. "Akhirnya, setelah menunggu lama..."
Setelah upacara syukuran berlangsung, Batara Guru memberikan arahan khusus, "Pastikan semua kebutuhan We Nyili' Timo terpenuhi. Jika dia mengidam, carilah buah-buahan itu. Aku akan melakukan apapun untuknya."
Hari-hari berlalu, We Nyili' Timo semakin mendekati saat persalinannya. Ketika tiba waktu yang ditunggu, gaslah rasa sakit mulai menyiksa tubuhnya. "Batara Guru, terasa semakin berat…" lirih We Nyili' Timo.
"Bertahanlah, kasih. Ini adalah ujian bagi kita berdua," jawab Batara Guru, mencoba untuk memberi semangat. Tetapi rasa sakit yang diderita We Nyili' Timo tak kunjung reda, bahkan berlangsung hingga tujuh hari.
Di tengah kekacauan itu, Batara Guru akhirnya memanggil seluruh penghuni istana untuk bersiap menghadapi ritu rangan. "Kita perlu mengadakan ritual perang jika perlu!" pekiknya dengan penuh semangat.
"Apakah kita akan berperang di saat seperti ini?" tanya salah satu selir, terlihat cemas. Namun Batara Guru tetap teguh pada keputusan, "Ritual ini akan menjaga keselamatan kita semua."
Tiba-tiba, langit menjadi gelap, suara guntur terdengar menggelegar. Semua orang merasakan ketakutan, tapi Batara Guru tetap berusaha menenangkan istrinya. "Kita perlu bertahan! Percayalah, ini semua akan berakhir dengan baik."
Di saat semuanya tampak hilang harapan, muncul pelangi dari dekat We Nyili' Timo. "Anakku, lahirlah!" seru Batara Guru dengan bersemangat. Bayi yang dinanti-nanti akhirnya lahir di tengah hiruk-pikuk.
Uang Matoa mengambil bayi itu, dan We Sawamenga segera memukul gendang untuk mengabarkan kelahiran putra mahkota. "Selamat! Bayi ini adalah pewaris tunggal kerajaan Luwu!" sorak para hadirin.
Batara Guru dan We Nyili' Timo saling memandang, berdoa syukur kepada Dewata Patato'e atas karunia yang telah diberikan. Dalam suasana haru itu, Batara Guru memberi nama sang bayi. "Dialah Batara Lattu, pewaris kerajaan," katanya tegas.
Semua bersorak, perayaan berlangsung meriah. "Kami berjanji untuk melindungimu, Batara Lattu," ucap We Nyili' Timo. "Ibu dan ayah akan selalu ada untukmu."
Dengan penuh rasa syukur, mereka merayakan momen bersejarah ini, menyadari bahwa perjalanan mereka untuk menghadapi peluang dan tantangan baru baru saja dimulai.