Episode 050: Kesombongan Rakyat Ale Cina Dan Kemarahan Sawerigading
Setelah berlayar selama tujuh hari tujuh malam, Sawerigading dan rombongan akhirnya mendekati Ale Cina. Dari kejauhan, ia melihat gunung menjulang tinggi sambil memperhatikan para nelayan yang sedang menangkap ikan. "Apa nama negeri subur ini?" tanyanya kepada seorang nelayan yang tampak tidak menghiraukannya.
Nelayan itu menjawab dengan nada meremehkan, "Inilah Ale Cina, tanah Ugi!" Senyuman di wajah Sawerigading pudar mendengar nada angkuh tersebut. "Tunggu! Siapa pemimpin negeri ini?" tanyanya lagi, ingin mendapatkan informasi lebih mendalam.
"Kamulah yang harus tahu. Jauh-jauh kau berlayar tapi tidak tahu nama negeri ini?" ujar nelayan tersebut dengan nada mengejek sebelum pergi. Merasa terhina, Sawerigading bergetar dalam kemarahan. "Di mana rasa hormat mereka?" pikirnya, menyadari bahwa sambutan hangat yang diharapkan tidak ada.
Ia berdoa kepada Datu Patoto'e, meminta petunjuk. Saat itu juga, langit mendung dan badai pun datang, menyebabkan kekacauan di Ale Cina. Rumah-rumah terbakar karena sambaran petir, dan suara teriakan panik menghujani udara.
Melihat situasi tak terkendali, La Togeq Langi' mencoba meredakan kemarahan Sawerigading. "Berhentilah! Jangan sampai tindakanmu merugikan orang-orang yang tak bersalah!" La Togeq mengingatkan.
Sawerigading terdiam, mengingat tujuan kedatangannya. "Baiklah, aku akan mencabut doaku." Dengan tekad, ia berdoa lagi, dan tiba-tiba langit cerah kembali. "Ini baru merendahkan hati," kata Sawerigading saat ia bertemu seorang warga lagi.
"Warga Ale Cina, namakah negeri ini?" tanya Sawerigading. "Ale Cina, yang terhormat," jawab warga tersebut, menunduk sebagai tanda hormat.
"Siapa pemimpin di sini?" tanya Sawerigading lagi. "Ale Cina terbagi, ada Cina Barat dipimpin Laso Tempugi, dan Cina Timur oleh Abang," jawab warga itu, menambahkan, "Namun keduanya bersatu karena pernikahan mereka."
Mendengar ini, Sawerigading merasa lega. "Apakah ada putri yang belum menikah di negeri ini?" Ia teringat pada cita-citanya. "Ya, dua putri: We Tenri dan si bungsu Dai. Namun, We Tenri telah bertunangan selama tiga tahun dengan Setia Bonga," jawabnya, sambil lembut mencerminkan harapan.
"Baiklah, ajak mereka ke perahuku!" seru Sawerigading penuh semangat. Lalu, rombongan pun bersiap melanjutkan perjalanan menuju Ale Cina, siap berhadapan dengan tantangan baru sekaligus harapan pernikahan yang ditunggu.