Episode 057: Tangisan I We Cudai Dan Hadiah Untuk I La Galigo
Sawerigading berdiri di tengah istana, menatap wajah Iwe Cimpao yang penuh kesedihan. "Kita harus melakukan hal yang benar untuk La Galigo," katanya tegas. Air mata menetes dari mata Iwe Cimpao, merasakan beratnya keputusan yang harus diambil.
"Mengapa kau mengabaikan perasaanku, Sawerigading? Dia adalah anak kita!" Iwe Cimpao terisak, suaranya hampir menderai. "Aku tak bisa menerima semua ini!"
"Anakku akan mendapatkan yang terbaik, Iwe. Ini adalah langkah terbaik untuk dia," jawab Sawerigading, berusaha tegar meski hatinya bergetar. "Bawalah dia ke istana, seperti yang dijanjikan."
Dengan tangan bergetar, Iwe Cimpao menerima anaknya, La Galigo, dan menyelimuti bayi itu dengan sarung. "Dia tidak akan pernah menggantikanmu," ucapnya, menahan emosi.
"Buku di hatiku akan selalu terbuka untukmu," kata Iwe Cimpao sambil menatap Sawerigading, penuh kesedihan namun ada harapan. "Jangan biarkan dia merasakan betapa sakitnya kehilangan ibunya."
Dari sudut ruangan, We Cudai menyaksikan tanpa suara, menahan rasa cemburu dan marah ketika melihat Sawerigading dan Iwe Cimpao bersama. "Dia lebih pantas dari diriku!" desisnya dalam hati, mendengar isakan lirih La Galigo. Sikap We Cudai yang dingin semakin memperparah suasana.
"Dia adalah darahku!" teriaknya dalam batin. "Mengapa kau lebih memperhatikan dia?" Sebuah rasa empati mendalam dalam hati We Cudai terbangun, walau dia tak ingin mengakuinya.
Di tempat lain, Datu Palinge' mengamati situasi ini dengan prihatin. "Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini, Patoto'e?" tanyanya kepada Datu Patoto'e, berharap solusi bisa datang. "Anak ini tidak bersalah."
Patoto'e mengangguk, "Aku akan menurunkan hadiah untuk La Galigo agar semua perdamaian kembali lagi." Dalam waktu singkat, suara guntur menghentak bumi, menyampaikan kehadiran mustika keemasan.
"Lihat, mustika itu datang!" seru Sawerigading, mengamati keindahan hadiahnya sambil menenangkan semua orang yang cemas. "Ini adalah tanda bahwa anak ini ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar."
La Galigo, yang tampak seolah telah tumbuh, menggenggam mustika keemasan itu dengan erat. Semua yang hadir terpesona, penuh rasa hormat melihat keajaiban yang menyelimuti anak itu. "Dia bukan sekadar bayi biasa," ucap seorang pengawal dengan nada kagum.
"Dia adalah keturunan Dewa!" seru yang lain, menatap Sawerigading dan La Galigo dengan rasa senang. Momen yang penuh harapan menyelimuti mereka, membawa pesan bahwa meskipun ada kesedihan, cinta dalam keluarga selalu dapat menemukan jalan.
Setiap mata terfokus pada La Galigo, menyadari bahwa di tengah segala kesedihan, ada janji baru yang lahir dari tangisan. Meskipun Iwe Cimpao harus merelakan putranya, ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah-bukan hanya bagi Ila, tetapi seluruh kerajaan Ale Cina.