Episode 065: Akhir Hidup I We Cimpauq Dan Deklarasi Perang La Galigo
Hari di Ale Cina terasa penuh energi baru. We Cudai merasakan kehangatan di hatinya, saat melihat tayangan bahagia putranya, La Galigo, yang kini begitu dekat dengan Sawerigading. "Aku melihat bagaimana cinta bisa menyembuhkan luka," kata We Cudai sambil tersenyum.
Sawerigading, yang tampak bertenaga, berkata, "Setiap detik bersamamu adalah anugerah. Semoga Galigo tumbuh menjadi pemimpin yang kuat." Keduanya mulanya merayakan kehamilan kedua We Cudai dengan penuh harapan. Namun, lapisan ketegangan mulai muncul ketika Sawerigading mulai menceritakan kisah masa lalunya.
"La Galigo, kau tidak tahu betapa banyaknya rintangan yang telah kulewati," ujar Sawerigading, mengingat masa-masa sulitnya. "Kau adalah cahaya di tengah kegelapan yang pernah menyelimutkanku."
Sebaliknya, La Galigo justru berfokus pada 70 pengawal yang baru saja ia pilih dari sepupunya. "Kami akan melindungimu, bukan hanya sebagai pengawal, tetapi sebagai keluarga," seru salah satu sepupunya dengan bersemangat.
Sementara itu, di sisi lain, situasi semakin mendesak. We Cudai, masih tertegun mendengar berita tentang kepulangan We Cimpau yang kali ini akan berujung pada konfrontasi. "Mengapa mereka belum mengerti? Aku hanya menjalankan tugas!" gumamnya sembari menatap ke arah istana.
Ketika We Cudai dan Sawerigading berkumpul, La Galigo tiba-tiba bersuara, "Ibu, apakah kita akan menghadapi ancaman lagi?" Suaranya menggema di ruangan, membangkitkan kesadaran akan situasi yang lebih rumit.
"Saatnya beraksi, Galigo! Ketika cintaku padamu berhadapan dengan ancaman, aku akan melindungimu!" seru Sawerigading penuh semangat, menunjukkan ruang gerak untuk berstrategi.
We Cudai mengangguk, "Kita harus bersatu untuk melindungi yang kita cintai. Iwe Cimpau tak bersalah!" Namun, suasana harapan itu segera terguncang saat We Cudai mendengar suara keributan dari luar istana. "Ayo, kita pergi! Mereka membutuhkan kita!"
La Galigo merasakan detik-detik krusial itu. Dengan berani, ia mengumpulkan semangat dan berteriak, "Aku tidak takut! Siapa pun yang berani menyakiti Ibu, hadapilah aku!" Pengawalnya bersiap-siap, menunjukkan persatuan dan tekad yang tak tergoyahkan.
La Galigo juga menebarkan tantangan lebih jauh, "Jika ada yang berani menghabisi Ibu, aku akan menganggapnya perang dan bersiap-siaplah!"
Suara itu menggema, menandakan tak akan ada yang mundur. "Kami akan menghadapinya bersama! Jika harus berperang, kita akan berperang demi keadilan!" seru pengawalnya dengan penuh semangat.
Sementara itu, We Cudai, dalam kebingungan, hanya bisa terdiam, merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Apa yang telah kuperbuat?" pikirnya sambil menatap ke arah La Galigo dan Sawerigading yang bersatu. Pertarungan demi cinta dan keadilan kini ada di depan mata.