Episode 072: Seorang Yang Bisu

Story DNA

Genre
legend
Tone
hopeful
Themes
duty vs. desire, reunion and reconciliation, leadership and responsibility, jealousy and unspoken feelings
Plot Summary
La Galigo, a king, returns to his homeland, Ale Cina, after a period away, torn between his duties and personal desires. His magical drum-playing from afar miraculously restores the voice of We Cudai, who has been mute. Upon his grand return, he reunites with his family, but a confrontation with We Cudai reveals her jealousy over an unnamed person from his travels. La Galigo acknowledges the complex situation, resolving to address both family issues and kingdom responsibilities, while a rival prince grumbles about his return.

Episode 072: Seorang Yang Bisu

La Galigo berdiri di atas kapal Walen Renge, memandang lautan luas di depannya. Ia merasa perasaannya campur aduk. "Aku harus kembali," gumamnya, mengingat kewajibannya di Ale Cina. "Keluargaku dan rakyat menantiku."

La Togeq Langi' yang berdiri di sampingnya berkata, "La Galigo, apakah benar kau akan meninggalkan Ale Luwu? Banyak yang menginginkanmu di sini."

"Aku menghargai penawaran itu, tetapi raja tidak bisa tinggal terlalu lama di satu tempat. Aku harus memenuhi janjiku," jawab La Galigo tegas.

Ketika kapal mulai berlayar, sebuah mimpi indah menghampiri La Galigo saat ia tertidur. Dalam mimpinya, ia melihat We Cudai menari-nari dalam cahaya bulan. Setetes air mata mengalir di pipinya ketika ia terbangun. "We Cudai..." bisiknya, merindukan sosok itu.

Sementara itu, di Ale Cina, suara gendang Manurung yang dihasilkan oleh La Galigo secara gaib membangunkan We Cudai. Ia menjulurkan tangan dan berusaha berbicara, "Apa ini? Suara... si dia!" Suaranya masih serak, tetapi semangatnya mulai meningkat.

Bersamaan dengan itu, Datu Patoto'e mendengar kegembiraan di dalam istana. "Anakku, selamat datang kembali!" ucapnya penuh haru ketika melihat We Cudai bangkit dari tempat tidurnya. "Akhirnya suara itu kembali! Aku bersyukur kepada Datu Patoto'e."

"Segera persiapkan upacara penyambutan!" perintah We Tenriabeng dengan semangat. "Seluruh rakyat harus mengetahui kembalinya La Galigo!"

Di pelabuhan, keramaian meningkat. Sawerigading menatap alun-alun dengan rasa bangga. "Dia benar-benar pulang," ujarnya, berbagi kegembiraan dengan We Tenriabeng. "Mari kita rayakan!"

La Galigo pun mendekati dermaga, dan deru sorak sorai terdengar. "Aku kembali, Ale Cina!" teriaknya, sambil memukulkan gendang Manurung. Semua orang bersorak ketika ia menginjakkan kaki di tanah kelahiran.

Ketika pertemuan dengan keluarganya dimulai, We Cudai menyambutnya, suaranya penuh emosional, "Kakak, aku merindukanmu!" Keduanya berpelukan erat, membiarkan air mata kebahagiaan mengalir.

Cerita pun mengalir dari La Galigo tentang pengalamannya di Ale Luwu. "Aku bertemu banyak orang hebat, melihat kebudayaan yang luar biasa!" katanya dengan semangat.

Namun, ketika cerita itu berlanjut, perubahan ekspresi di wajah We Cudai terlihat. "La Galigo, kenapa kau tidak menyebutkan satu nama, We Cudai," tanyanya menantang, menunggu penjelasan.

"Itu...," La Galigo terdiam, menyadari perasaan cemburu yang mungkin diperolehnya. "Dia penting bagiku, tapi kita harus melanjutkan hidup."

Sementara itu, di Sarong Paru, berita tentang kedatangan La Galigo pun terdengar. "Dia pasti semakin berpikiran tinggi setelah pulang dari Ale Luwu," gerutu seorang pangeran, mengingatkan semua orang tentang keangkuhannya.

La Galigo, yang kini dikelilingi orang-orang terkasihnya, merasakan diskusi yang tajam, tetapi ia tahu bahwa langkah selanjutnya adalah untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi di dalam keluarga dan kerajaan. "Akan ada missi baru, dan aku siap menanggung konsekuensinya," ujarnya dalam hati.

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) La Togeq Langi' (supporting) We Cudai (supporting) Datu Patoto'e (supporting) We Tenriabeng (supporting) Sawerigading (supporting) The Prince from Sarong Paru (antagonist)