Episode 088: La Galigo Dan La Mappanganro Yang Tak Lagi Dianggap Anak
La Galigo memandang La Mappanganro dengan penuh rasa bangga dan haru, melihat putranya yang kini telah tumbuh dewasa. "Anakku, kau tak hanya membawa namaku, tetapi juga masa depan Ale Cina dan seluruh kerajaan," ujarnya dengan mata berbinar.
La Mappanganro tersenyum, namun ada ketegangan di wajahnya. "Ayah, kehadiranku di sini bukanlah untuk mewarisi tahta. Aku hanya ingin mengenal siapa dirimu dan kakekku." Suaranya mantap meski hatinya bergetar.
"Namun kau adalah ahli waris yang ditakdirkan! Mengapa tidak mempertimbangkan tawaranku untuk tinggal di sini?" La Galigo berusaha meyakinkan, nada suaranya mulai tinggi.
"Maaf, Ayah. Aku telah berjanji kepada Ibu untuk kembali ke Pujananting. Daku tidak bisa melanggar janji itu," La Mappanganro menjawab tegas, menatap mata La Galigo langsung.
La Galigo merasa terjebak antara kebanggaan dan kemarahan. "Jadi, semua ini hanya untuk menepati janji pada ibumu? Aku adalah ayahmu! Kenapa kau tidak mau bergabung denganku?" teriaknya, suaranya menggema di dalam istana.
"Aku ingin memenuhi janjiku, bukan karena kebencian. Aku tidak ingin memperburuk nama kita di mata ibuku," La Mappanganro menjawab dengan tegas, meskipun ada keraguan di dalam hatinya.
Rasa kecewa La Galigo semakin mendalam. "Kau tidak mengerti, La Mappanganro. Aku berjuang mati-matian untuk mengubah nasib kita! Dan kini, hanya untuk mengikuti kata ibumu?" Dia memutar badan, meninggalkan La Mappanganro yang tersisa kebingungan.
"Saya akan kembali ke Pujananting, Ayah. Seperti yang telah kuungkapkan," La Mappanganro berusaha menahan air matanya sambil mengedipkan mata, merasakan betapa perasaannya terluka.
Di dalam kamarnya, La Galigo menutup pintu dengan keras, tanda kemarahan yang membara. "Keputusan ini adalah kesalahan!" teriaknya, menyesali perilakunya. Apa yang terjadi dengan anakku?
Sawerigading mendekati La Mappanganro, mencoba memberikan dukungan. "Ayahmu mungkin sedang terbakar oleh emosi. Dia tidak ingin kehilanganmu, tapi tidak tahu cara mengungkapkan itu," ujarnya dengan tatapan lembut.
"Apa aku akan pergi sebagai La Mappanganro, bukan sebagai putra mahkota?" La Mappanganro bertanya, hati tertusuk ragu.
"Di mana ada kasih sayang, di situ ada rumah. Ingat itu, cucuku," Sawerigading memeluknya erat, memberikan kekuatan di saat lemah.
Dengan langkah berat, La Mappanganro beranjak pergi meninggalkan istana, membawa harapan dan rasa duka. Keberangkatannya bukan sebagai seorang pangeran, tetapi seorang pemuda yang terjebak antara dua dunia-bulan demi bulan yang akan datang, harapannya kembali kepada ibunya.