Episode 090: Dosa Sawerigading Dan Dosa Anak Anaknya
Waktu berlalu, La Mappanganro kini beranjak dewasa, perlahan-lahan belajar menghadapi kehilangan Ibu. Ia berdiri di depan cermin, merapikan busana raja yang dikenakannya. "Aku harus jadi pemimpin yang baik," tuturnya pada diri sendiri, menatap bayangannya.
Di Ale Cina, Sawerigading duduk termenung di taman istana, gelisah. "Apa semua ini hanya balasan dari kesalahanku?" pikirnya. Dalam batinnya, pertarungan antara rasa penyesalan dan harapan terus bergulir. Ia teringat masa lalu-keputusan yang mengubah jalan hidupnya.
"Bertindaklah, Ayah!" seru La Galigo saat ia mendekat. "Jangan biarkan masa lalu mengikatmu." Namun, Sawerigading menatapnya dengan tatapan kosong. "Lihatlah apa yang anak-anakku lakukan. Apakah mereka terkutuk karena kesalahanku?" tanya Sawerigading dengan nada putus asa.
La Galigo menyahut, "Kau ingin membebaskan mereka, bukan? Jika tidak, mereka akan terjatuh ke dalam jurang yang sama." Namun Sawerigading terdiam. Kenangan akan dosa-dosa masa lalu menghantuinya, kabut perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Di sisi lain, We Tenriabeng menyaksikan percakapan mereka dari jauh. "Sawerigading, semangatmu harus bangkit! Kita tidak bisa terus meratapi masa lalu," ujarnya, berusaha memberikan dukungan. Tetapi, Sawerigading menjawab, "Bagaimana bisa aku bangkit jika masa lalu terus menghantui langkahku?"
"Anak-anakmu membutuhkanmu sekarang," We Tenriabeng menegaskan. "Kamu adalah teladan mereka." Sekilas, Sawerigading teringat akan La Mappanganro yang berusaha menemukan jati diri di tengah ketidakpastian.
Mamalia kecil yang berlarian di sekeliling mereka tampak ceria, seolah menyingkirkan kegelapan suasana. La Galigo melanjutkan, "Kita bisa mengubah hal ini, Ayah! Mulai dari diri kita sendiri." Namun, nada pesimis kembali muncul dalam suara Sawerigading, "Apa yang bisa diperbaiki dari apa yang sudah terjadi?"
Di Pujaan Anting, La Mappanganro bersiap untuk memimpin upacara kerajaan. "Ini adalah saatnya," ucapnya kepada We Aji, yang berdiri di sampingnya. "Ibu pasti bangga jika melihatku."
"Bangga?" tanya We Aji ragu. "Mungkin lebih kepada harapan kita untuk memperbaiki segalanya." La Mappanganro mengangguk. "Ya, kita harus menuliskan sejarah baru."
Saat perayaan dimulai, suara riuh pengawal dan rakyat menggema. Namun, jauh di dalam dadanya, La Mappanganro merasa ada sesuatu yang hilang. Kesedihan dan harapan berbaur dalam hati. "Aku tidak ingin mengikuti jejak ayah," bisiknya pada We Aji. "Aku ingin menjadi raja yang adil."
"Berjuanglah, nak! Ini awal yang baru," sambut We Aji, berusaha menguatkan hatinya. Akan tetapi, di hati La Mappanganro, pertanyaan masih membayangi: dapatkah ia melenggang tanpa bayang-bayang dosa yang mengikuti langkah-langkahnya?