Episode 092: Batara Guru Dengan La Galigo Dan Tertutupnya Pintu Langit
Hari-hari terus berganti, dan kehidupan di bumi semakin tak menentu. Batara Guru menatap dari langit, merasakan kegundahan rakyatnya yang terancam oleh kehadiran para dewa. "Apakah kita sudah membuat mereka tidak nyaman di rumah mereka sendiri?" batinnya penuh keraguan.
Sementara itu, Sawerigading sedang menyiapkan sambutan untuk Batara Guru, yang datang ke bumi setelah sekian lama. "Kakek, senang rasanya bisa melihatmu lagi," ucapnya dengan penuh rasa hormat, matanya berbinar-binar.
Batara Guru tersenyum, "Cuaca di bumi tampak muram, Sawerigading. Apa yang terjadi?" Sawerigading menggelengkan kepala, "Kita hanya berupaya bertahan, Kakek. Banyak yang merasa bahwa dewa-dewa telah mengambil alih kehidupan mereka."
La Galigo, yang menyaksikan pertemuan ini, berusaha tenggelam dalam kerumitan situasi, "Aku sudah mencoba yang terbaik, Kakek. Namun, kekuasaan bukanlah segalanya."
Dengan tatapan tajam, Batara Guru menyahut, "Kekuatanmu harus digunakan untuk melindungi, bukan untuk menakut-nakuti. Siapa yang kini memimpin di Ale Luwu?"
"Tak ada pewaris yang ku siapkan," La Galigo menjawab, kesombongan mulai mencuat. "Aku berkuasa di Ale Luwu dan Ale Cina, dan tidak ada yang bisa mengubah itu."
Tiba-tiba langit menggelegar, meringkakan suasana yang mendesak. "Apa yang kau lakukan, La Galigo? Ini adalah amaran," tutur Batara Guru, tersirat khawatir.
"Jika kau yakin kekuasaanmu akan bertahan selamanya, kau akan mengetahui bahwa segalanya bisa berbalik," jawab Batara Guru, mengisyaratkan ancaman yang lebih besar. "Aku harus kembali ke langit. Pintu ini akan segera ditutup."
Setelah peringatan itu, sebuah pelangi menyongsong ke langit, siap mengantarkan Batara Guru kembali. Saat itu, rumuhan dan rukleng menanti, merasakan ketegangan mendalam. "Apakah kita memang harus menutup ini selamanya?" perkataan mereka terhenti.
"Oleh karena itu, jika kalian memilih untuk menjadi manusia, ingatlah betapa beratnya nafsu yang harus kalian kendalikan. Jika salah langkah, bencana akan mengikutimu," peringatan Datu Patoto'e terdengar menusuk.
Pintu langit pun siap ditutup. Dalam kekhawatiran itu, para dewa yang masih berada di bumi terkesima dengan keindahan alam dan kehidupan para manusia. Namun, pesan Batara Guru terus membayangi pikiran mereka.
Ketika akhirnya pintu langit ditutup, aroma busuk dari bumi terasa, seolah memberi amaran bahwa dunia ini kian membusuk. Rukleng dan rumuhan saling memandang, lalu sepakat untuk melaksanakan keputusan akhir.
"Selamat tinggal, kehidupan yang tinggi, selamat datang, dunia yang penuh risiko," gumam mereka. Pintu langit ditutup rapat, meneruskan kisah yang tak terduga.
Kini, bumi menjadi panggung tanpa batas bagi keadilan dan ketidakadilan, kesedihan dan kebahagiaan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kegelapan kembali menyelimuti lawatan dewa dan manusia.