Episode 100: Cinta La Mappanganro Dan Perang Melawan Tompotikka
Di tengah kesibukan kerajaan Pujananting, La Mappanganro memandang laut dengan hati yang bergejolak. "Apa yang harus kulakukan? Batari Bana sudah menunggu, tapi hati ini terikat pada We Tenri Pamarang," ujarnya pada diri sendiri, seraya mengusap pelipisnya.
Kembali di kerajaan Cina, We Tenri Pamarang merasakan keraguan yang mendalam. "La Mappanganro, jika kau mencintai saya, apakah kau berani menghadapi konsekuensi dari pilihanmu?" Ia bertanya, menatap matanya penuh harapan.
"Ini semua rumit. Ayahku menginginkanku menikah dengan Batari Bana, dan aku tidak ingin menyebabkan perang," balas La Mappanganro, suaranya penuh ketegangan. "Aku tahu aku berutang kepadanya, tapi aku tak bisa menolak perasaanku."
Di sisi lain, kabar mengenai pernikahan diam-diam La Mappanganro dengan We Tenri Pamarang telah sampai ke telinga kerajaan Bima. Datu Palinge' berteriak marah, "Ketika aku menganggap La Mappanganro sebagai sekutu, ia malah berkhianat! Kita harus bertindak sekarang!"
Batari Bana, yang mendengar pernyataan itu, mengangkat dagunya dengan angkuh. "Jika dia memilih, maka kita harus menunjukkan betapa berartinya dia bagiku," katanya, matanya tajam menatap Datu Palinge'.
Di Pujananting, La Mappanganro bertemu dengan Ajila Ide, saudara laki-lakinya. "Kita harus menemui Sawerigading. Dia mungkin bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini tanpa pertumpahan darah," saran Ajila, mencermati lelucon-lelucon La Mappanganro. "Kau tidak bisa bertindak sendiri. Satu keputusan salah bisa membuat segalanya hancur."
Sesampainya di kerajaan Ale Cina, Sawerigading menyambut La Mappanganro dengan senyuman, meskipun hatinya berdebar. "Apa yang membawamu ke sini, sahabat?" tanya Sawerigading. "Atau kau hanya ingin menambah kekacauan?"
La Mappanganro mengangguk, matanya penuh seriusi. "Aku butuh bantuanmu. Aku mencintai We Tenri, tetapi pernikahan dengan Batari Bana adalah sebuah kontrak. Kerajaan Bima sudah marah. Kita perlu menemukan jalan keluar."
"Satu hal yang kuingat, Mappanganro: cinta di antara kita sering kali perlu diupayakan dengan pengorbanan. Apa kau siap mendengarkan hati?" Sawerigading mengingatkan, merasakannya dalam dalam napasnya.
La Mappanganro berdiri tegar, menatap jauh. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan mundur dari cinta ini," ujarnya dengan tekad. "Aku tidak ingin menjadi raja yang ditakuti, tetapi raja yang dicintai."
Namun ketegangan semakin meningkat, seiring kabar bahwa Pangeran Lawe dari Tompotikka siap melamar Batari Bana. "Jika dia menang, perang tidak dapat dihindari," La Mappanganro merasakannya. Apakah kebahagiaan yang dia cari akan membawa kehancuran bagi kerajaannya?
Saat malam tiba, La Mappanganro menatap bintang-bintang, "Hanya waktu yang bisa menjawab semua ini." Ketegangan pun semakin mewarnai perjalanan cinta ini.