Episode 107: Akhir Pertempuran Dan Hukuman Dari Datu Patoto'e
Suasana di Pujananting menggema dengan sorakan kemenangan setelah Ajila Ide dan La Mappanganro berhasil mengejar mundur tiga dewa. Dalam kelegaan, Ajila menepuk bahu saudaranya, "Kita berhasil! Namun, ini baru permulaan."
La Mappanganro mengangguk, wajahnya serius, "Kita harus bersiap, Dewa Tampeding mungkin tidak menerima kekalahannya dengan cara yang biasa."
Saat itu, Dewa Tampeding, terlihat marah, bertekad mengubah wujudnya menjadi ular untuk membalas dendam. "Mereka manusia, tidak seharusnya merasakan kemenangan ini!" teriaknya penuh kebencian.
Namun, saat dia meluncur ke bumi, secara kebetulan berpapasan dengan Dewa Langi Pasaung. "Hei, Ular! Apa yang kau rencanakan?" tanya Langi Pasaung, mengawasi dengan waspada.
Dewa Tampeding nyaris terperdaya, tetapi niat buruknya terbaca jelas bagi Langi Pasaung. "Kau berencana untuk mengganggu anak-anak manusia yang tidak tahu apa-apa? Ini jelas bukan tindakan dewa!" Langi menegaskan.
Dengan sigap, dia mengintensifkan energi dari kerisnya, memercikkan darah yang membuat Tampeding terjebak dalam wujud ularnya. "Ini adalah hukuman untukmu!" Langi Pasaung menegaskan.
Kembali di Pujananting, Ajila dan La Mappanganro bersiap merayakan kemenangan. Namun, mereka juga merasakan gelisah. "Kita harus menghentikan Dewa Tampeding selamanya," ujar Ajila. "Kalau tidak, akan ada konsekuensi di belakang hari."
Saat malam tiba, sebuah perayaan besar berlangsung. "Kita harus memperkuat jajaran pasukan kita," La Mappanganro berseloroh kepada Ajila, sambil mengangkat gelas, "Untuk kita dan semua yang berjuang! Kita tidak akan mundur!"
Di tengah kesenangan, berhembus kabar bahwa Dewa Tampeding telah ditangkap, dan Datu Patoto'e berkenan untuk memberikan ampunan. "Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita," ujar Datu Patoto'e dalam rapat dewan, "Dalam kekuasaan, ada batasan yang tidak boleh dilanggar."
Ajila menarik napas berat. "Mengapa kita harus memberi ampun pada mereka?" tanyanya penuh keraguan.
Datu Patoto'e tersenyum bijak, "Kita manusia harus bisa memikirkan belas kasihan. Itu yang membedakan kita dengan mereka."
Dengan suasana yang tegang, Ajila dan La Mappanganro saling memasang tatapan penuh pengertian. "Kita harus belajar dari semua ini," kata La Mappanganro, "Agar kita tidak terjebak dalam siklus kebencian yang tidak ada ujungnya."
Ketika fajar menjelang, Ajila dan La Mappanganro mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan berikutnya, dengan hati bertekad mengubah penderitaan menjadi kekuatan.