Episode 110: We Tenriabeng Datu Palinge' Dan Datu Patoto'e
Keesokan harinya, suasana kerajaan Ale Luwu bersemarak. Sawerigading, dengan wajah penuh harapan, menunggu kedatangan We Tenriabeng dan para tamu terhormat lainnya. Ia menatap ke arah laut, memikirkan bagaimana reaksi We Tenriabeng saat melihatnya kembali. "Aku harap dia mengerti," gumamnya pada diri sendiri.
Dari kejauhan, We Cudai menghampiri Sawerigading. "Kau tampak gelisah, Sawerigading," ucapnya ceria. "Apakah kau merindukan We Tenriabeng?"
"Ya, aku ingin dia mengetahui bahwa aku telah kembali," jawab Sawerigading dengan nada kesal. "Tetapi bagaimana jika dia merasa dikhianati?"
We Cudai menggelengkan kepala, "Jangan berpikir seperti itu. Cintamu padanya adalah yang terpenting. Dia pasti merindukanmu sama seperti kau merindukannya."
Sambil mempersiapkan jamuan, Batara Lattu datang. "Sawerigading, kita harus bersiap! Mereka akan tiba kapan saja," serunya dengan semangat. "Ini saatnya keluarga kita berkumpul kembali."
Namun, saat kegembiraan menyelimuti ruangan, Lapangan Terang datang menghampiri. "Sawerigading, ada kabar yang mengejutkan," katanya tegas. "Ramang Rilangi, suami We Tenriabeng, juga akan datang."
"Ramang? Kenapa dia ingin ikut?" Sawerigading merasakan gelombang kecemasan. "Apa yang harus kulakukan jika dia berkonfrontasi denganku?"
"Sikat saja omonganmu, tunjukkan jika kau layak di sisinya," jawab Lapangan Terang optimis. "Ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki semuanya."
Saat itu, We Panangareng muncul di belakang, "Berani kau mendekatinya?" tanyanya pedas. "Kau tahu betapa cemburunya dia."
Sawerigading merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. "Tapi aku juga mencintainya, We Panangareng," ungkapnya dengan getir. "Tidak ada yang bisa merubah itu."
Dengan raut wajah serius, We Panangareng menjawab, "Cinta bukan segalanya. Kadang, kita harus memilih untuk melindungi orang yang kita kasih sayang."
Hingar bingar acara pun berlangsung ketika tamu mulai berdatangan, namun dalam hati Sawerigading, perasaan tak menentu terus menghantuinya. Ia bercita-cita agar momen manis ini tidak ternodai oleh kekecewaan yang mungkin akan datang.
"Biarkan saudaramu datang dan menjelaskan segalanya," kata Batara Lattu, penuhan harapan di matanya. "Hanya dengan kejujuran, kita bisa melanjutkan."
Di luar istana, We Tenriabeng akhirnya terlihat. Dia turun dengan anggun, disusul Ramang Rilangi yang terlihat skeptis. Sebuah detakan keras terasa di hati Sawerigading saat mereka berdua mendekat, membawa janji dan harapan yang mungkin ditakdirkan.