Episode 116: La Mappanganro Cucu Sawerigading Bagian 2
Di kerajaan Pujananting, La Mappanganro terlihat gelisah. Setelah pernikahan diam-diamnya dengan We Tenri Pamarang, kini dirinya terjebak dalam sisi kelam cinta. "Apa yang harus kulakukan? Batari Banna telah menunggu, tetapi hatiku terpaut pada Tenri," keluhnya pada Aji Laide.
"Cinta bukanlah perkara sederhana, Mappanganro. Jika kau tetap melanjutkan hubungan ini, kehormatan Pujananting bisa hancur," nasihat Aji Laide, berusaha menenangkan.
"Aku tahu, tetapi bagaimana bisa aku membiarkan cinta ini sirna?" tanya La Mappanganro penuh keraguan. "Penikahan ini terasa tidak adil. Bagaimana bila aku memutuskan untuk mengejar Tenri?"
"Tapi, konsekuensinya bisa sangat besar. Kerajaan bisa terpecah antara dua cinta," sahut Aji Laide, menunjukkan rasa khawatirnya.
Di sisi lain, berita pernikahan La Mappanganro dengan We Tenri cepat menyebar hingga ke kerajaan Gima. "Kami tidak bisa menerima keputusan ini," protes Batari Banna saat mendengar kabar tersebut. "Ini penghinaan bagi kami!"
Ekspresi tidak puas mengemuka, dan ratu Gima pun berencana mengadakan pernikahan antara putrinya dengan La Wewang Langi. "Kami tidak akan membiarkan Pujananting menghinakan kami," tegas ratu dengan wajah marah.
Di istana Pujananting, La Mappanganro bertekad. "Aku harus memutuskan semuanya. Wewang tidak boleh menikahi Batari Banna!" Dengan tekad yang bulat, dia melangkah menuju Gima untuk menyelesaikan masalahnya.
Saat tiba di Gima, situasi semakin mencekam. Ratu Batari menginterogasi La Mappanganro, "Kenapa kau datang ke sini? Apakah kau berani melawan keputusan kerajaan?"
"Ini mengenai cinta dan kehormatan. Aku tidak akan menyerah pada apa yang kuinginkan!" jawabnya, bergolak dengan emosi. Keputusan yang sulit kini berada di tangannya, dan konsekuensi perang tampaknya tidak bisa dihindari.
"Baiklah, jika begitu, kita akan lihat siapa yang benar," tantangnya Ratu, menandakan bahwa pertempuran antara dua kerajaan mungkin sedang menunggu di depan mata.
La Mappanganro menarik napas dalam-dalam. Di dalam hatinya, ada peperangan yang lebih besar dari sekadar cinta; ada harga diri dan kehormatan yang harus dipertaruhkan. "Jika harus bertarung, aku akan melakukannya demi cintaku," tekadnya semakin menguat.