Episode 002: Batara Lattu Ayah Sawerigading Bagian 1

Story DNA

Genre
legend
Tone
solemn
Themes
duty vs. desire, fate vs. free will, leadership and responsibility, lineage and succession
Plot Summary
Prince Batara Lattu, burdened by his royal destiny, is commanded by his father, King Batara Guru, to marry one of the two surviving princesses from the fallen kingdom of Tompotikka to secure their lineage. Despite Batara Lattu's internal conflict between duty and personal desire, elaborate preparations for the sacred Manurung ceremony are made for his journey. As he embarks, grappling with the weight of his responsibilities, news of his expedition reaches rival factions, setting the stage for a complex interplay of personal choice, political maneuvering, and the future of the kingdom.

Episode 002: Batara Lattu Ayah Sawerigading Bagian 1

Batara Lattu selalu tahu bagaimana membuat kerumunan terdiam hanya dengan berdiri. Wajahnya tampan, tubuhnya tegap, rambutnya dibiarkan panjang mengurai-ciri-ciri yang diwarisi dari ibu dan ayahnya; ia membawa pesona itu tanpa sadar. Namun di balik senyum yang meluluhkan hati para gadis, terselip kegelisahan yang mulai menggerogoti: bisakah ia memilih sendiri, ataukah takdir keluarganya akan menuntun setiap langkahnya?

Malam sebelum perahu-perahu Manurung berangkat, Batara Guru memanggil para pembesar istana. Ruang rapat dipenuhi bisik-bisik yang menahan tawa, sampai Batara Guru membuka pembicaraan dengan suara tegas namun letih.

"Kita berkumpul bukan untuk merayakan," kata Batara Guru. "Batar Lattu harus mendapat pendamping - bukan sekadar gadis yang menjerat hati, tetapi yang mampu menjaga garis kita."

Seorang pembesar tua mengangkat tangan. "Baginda, ada usul: jodohkanlah ia dengan putri dari kerajaan langit. Darah bangsawan akan mengikatkan martabat Luwu."

Batara Guru menggeleng. "Tidak. Manusia tak bisa bersanding dengan penghuni Langit. Itu melukai hukum yang ditetapkan Datu Patoto'e. Tetapi calon harus bangsawan-setidaknya sederajat dalam tatanan Ale Luwu."

"Kalau begitu dari Pertiwi?" tanya La Oro, cemas menakar kehidupan politik.

"Aneh juga," sahut lainnya, "tak ada darah bangsawan setara di Ale Luwu. Semua tinggi hatinya tak memadai untuk menjadi permaisuri putra baginda."

We Nyili' Timo, duduk di samping Batara Guru, menatap ke lantai. "Jika memang tak ada yang setara, kita harus melihat keluar-Tompotikka. Katanya pewaris mereka masih hidup."

Pembicaraan terhenti. Nama Tompotikka membawa keruh memori lama-kehancuran yang menoreh luka. Batara Guru menunduk, lalu menatap satu per satu pembesar. "Suruh Batar Lattu berlayar menjemput. Jika dua putri Tompotikka masih hidup, salah satunya pantas dijadikan permaisuri. Kita akan mengutus perahu Manurung; perahu emas akan mengantar mahar dan hadiah."

"Perahu Manurung?" tanya Puang Matoa, suara tanpa intonasi biasa yang tetap mengandung bobot. "Upacara itu memerlukan ritual-bambu emas, ribuan kerbau cemara, tarian bisu. Lima hari malam. Tanpa itu, restu tak lengkap."

Batara Guru mengangguk. "Lakukan sesuai arahan Datu Palinge'. Siapkan juga rombongan penyelamat untuk mengambil kedua putri-jika memang mereka terancam."

Di sebuah sudut, Batara Lattu sendiri duduk terpisah, tampak samar dalam kerumunan. Ketika undangan rapat disampaikan padanya, wajahnya tak berubah kecuali sekelumit kerut di kening. Setelah rapat usai, Batara Guru mendekat. Di bawah cahaya lentera, suara ayah dan anak itu nyaris berbisik.

"Ayah," Batara Lattu memulai, "apakah aku harus berlayar membawa kehendak ayah dan ibu? Ataukah aku boleh berlayar membawa hatiku sendiri?"

Batara Guru memandangnya lama. Busana bangsawan sang raja sedikit berdebu akibat tugas di Ale Luwu; rambutnya terurai, tangan yang biasa menggenggam kapak kini mengepal oleh beban. "Nak," jawab Batara Guru, "hukum Langit mengikat kita. Aku menolak tinggal di Langit demi menguji diri di Bumi-tapi bukan berarti aku menidakkan garis keturunan. Tanggung jawabmu bukan hanya hati; ia juga melindungi rakyat."

Batara Lattu menunduk. "Tapi jika di sana ada gadis yang sudah kucintai... apakah aku masih layak menunggu?"

We Nyili' Timo, yang mendengar dari sisi lain, maju. Matanya lembut namun tegas. "Cinta boleh tumbuh di mana saja, tapi pernikahan seorang putra raja adalah perjanjian yang mengikat banyak jiwa. Jika kau mencintai seorang biasa, kita harus pastikan dia mampu memikul itu."

Percakapan memanas ketika La Oro melontarkan kekhawatiran: "Kalau kita mengirim perahu, kita membuka jalan bagi pengaruh luar. Kerajaan-kerajaan lain akan memandang posisi Luwu. Kita butuh keamanan."

Rukeleng, kepala pengawal, angkat bicara dengan nada praktis. "Saya akan menyiapkan kapal pengawal. Ribuan kerbau cemara sudah siap, air suci dari Latijong sudah ada. Tugas kami adalah memastikan upacara berjalan tanpa cela."

"Pastikan juga pengiriman pesan ke Tompotikka," tegas Batara Guru. "Jangan hanya mengandalkan berita; kita butuh bukti bahwa kedua putri itu masih selamat."

Beberapa hari berlalu di bawah ritme kerja yang cepat-kerbau dikumpulkan, bambu emas dipatahkan, guci-guci berisi air pegunungan Latijong ditata rapi. Puang Matoa memimpin tarian bisu, wajahnya datar namun gerakannya menyimpan doa panjang. Warga Ale Luwu menonton dengan air mata tertahan ketika barisan prajurit mengangkat perahu Manurung ke laut pada fajar kelima.

Di depan dermaga, Batara Lattu berjalan pelan menyusuri papan kayu. Gadis-gadis yang biasanya mengerumuninya kali ini menunduk; ritual lebih besar dari pesona remaja. Ia bertemu We Nyili' Timo yang kali ini berdiri tegap, mengenakan kain upacara. Ia menoleh, suaranya rendah.

"Katakan padaku yang sebenarnya, We Nyili' Timo. Jika aku pergi dan menemukan calon yang pantas-apakah ayah akan merestui kalau hatiku telah terpaut pada orang lain?"

We Nyili' Timo menyeka sudut matanya, lalu menatap lurus. "Restu bukan sekadar formalitas. Aku akan mendukung apa pun yang membuatmu menepati kewajiban-asal kau sendiri tidak mengkhianati rakyat. Jika cinta itu kuat dan tak merusak tatanan, aku akan membantumu menegakkan jalan itu."

Di atas perahu emas, Batara Guru berdiri memandang cakrawala. Angin laut meniup busana bangsawan yang sedikit kotor. Di sampingnya, Ruma dan Rukeleng saling bertukar pandang-mereka tahu tugas berat menanti.

"Ini bukan sekadar upacara," ujar Ruma. "Jika Tompotikka kehilangan warisannya, anak-anak itu bisa menjadi simbol penyatuan-atau pemicu konflik."

"Makanya kita harus cepat," balas Rukeleng. "Jangan beri kesempatan bagi Singingwero untuk menguasai situasi."

Perahu bergerak perlahan. Rangkaian upacara lima hari malam diakhiri dengan doa bersama; Batara Guru memastikan setiap warga makan sebelum ia menyentuh nasi di piringnya-tanda kepemimpinan yang tak hanya simbolis. Ketika rombongan menatap laut, Batara Lattu merasakan getar di dadanya: bukan hanya rasa ingin tahu remaja, melainkan beban sejarah dan harapan yang menuntun.

Di pagi yang sama, jauh di utara, La Hendri Giling dan We Hendri Jelok memeriksa sisa-sisa istana Tompotikka. Mereka tidak menemukan perhiasan raja-hanya bukti bahwa dua putri pernah melarikan diri. Seorang pelayan tua, We Mamala, membantu menyembunyikan barang berharga itu sampai saat bahaya berlalu. Ketika berita bahwa rombongan Batara Guru menuju Tompotikka sampai ke telinga mereka, La Hendri Giling tersenyum sinis: kesempatan untuk memperkuat posisi Singingwero.

"Kita harus mengamankan istana," kata We Hendri Jelok. "Tapi jangan menyinggung dua putri itu-mereka senjata politik. Jika Ale Luwu ikut campur, peta kekuasaan bergeser."

Kembali di perahu Manurung, Batara Lattu berdiri di haluan, memandang luas samudra. Di hatinya bercampur rasa takut dan desakan keinginan-untuk memilih, untuk membela, untuk mencintai tanpa mengkhianati. Ia berbisik pada dirinya sendiri, "Jika aku pulang membawa seorang permaisuri yang bukan pilihan hatiku, apakah aku masih menjadi pemuda yang bebas? Atau aku akan menjadi bayangan seorang raja?"

Suara Batara Guru di belakangnya memotong keresahan itu. "Nak, ingat: menjadi raja bukan berarti kau kehilangan hak menjadi manusia. Kau boleh jatuh cinta, tetapi jangan biarkan cinta itu merusak tatanan yang harus kau lindungi."

Batara Lattu menoleh, menatap ayahnya, lalu menatap laut sekali lagi. Gelombang memantulkan sinar mentari pagi; di bawahnya, bayang-bayang kapal-kapal kecil mengiring. Perjalanan menuju Tompotikka baru saja dimulai-namun di dalam setiap hati yang ikut serta, pertanyaan tentang identitas, tanggung jawab, dan cinta sudah mengadang seperti badai yang menunggu waktu untuk meledak. Konflik yang lebih besar dari sekadar perjodohan perlahan mengambil bentuk: upacara penyambutan hanyalah permulaan dari permainan kuasa yang akan menentukan nasib Luwu dan garis keturunannya.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Lattu (protagonist) Batara Guru (supporting) We Nyili' Timo (supporting) La Oro (minor) Puang Matoa (minor) Rukeleng (minor) La Hendri Giling (antagonist) We Hendri Jelok (antagonist)