Episode 003: Batara Lattu Bagian 2 Perang Besar Di Tompotikka

Story DNA

Genre
fairy tale
Tone
solemn
Themes
love vs. duty, political intrigue, honor and reputation, trust and suspicion
Plot Summary
Prince Batara Lattu of Ale Luwu, smitten by the princesses of Tompotikka, sails to their kingdom under the guise of offering palace renovations. Despite his initial shyness and the political machinations of rival factions, Batara Lattu formally declares his intention to marry, not conquer, but is challenged by the princesses to prove his sincerity through actions. The story concludes on a tense note, with the fate of Tompotikka and the possibility of war or alliance hanging in the balance, as all parties prepare for a decisive confrontation.

Episode 003: Batara Lattu Bagian 2 Perang Besar Di Tompotikka

Perahu Tanete Manurung memotong pagi dengan lambaian layar keemasan. Di haluan, Batara Lattu menunduk, rambut panjangnya basah oleh embun laut, dada masih memanas oleh demam rindu yang baru saja melumpuhkan tubuhnya. Ia memegang erat selimut yang menutupi badan, namun pikirannya tak henti berputar tentang dua putri Tompotikka: We Datuk Sengeng dan We Adil Luwu. Tiga bulan perjalanan, serangkaian singgah yang dingin, dan kini garis takdir menuntunnya pada pelabuhan yang konon kusam namun menyimpan kecantikan tak terperi.

La Pangoriseng datang menghampiri, langkahnya mantap meski wajahnya memperlihatkan kelelahan. "Adikku," katanya tanpa basa-basi, "kau tak boleh terus bersembunyi. Aku dan La Temalureng sudah bicara - kita akan melamarkanmu kepada We Datuk Sengeng. Itu yang patut dilakukan sekarang."

Batara Lattu mengangkat kepala, mata merah karena demam. "Bagaimana caranya? Kita bukan sekadar tamu; pasukan Singingwero mengawasi. Mereka tahu sesuatu tak beres di istana-"

"La Pangoriseng," potong La Temalureng tegas, "mereka takut pada nama Ale Luwu. Kita punya kapal, kita punya seribu pasukan. Kita akan bertingkah sebagai perbaiki istana. Kita masuk tanpa menimbulkan kegaduhan. Ini bukan peperangan, ini manuver."

Di tepi istana Tompotikka, We Mamala menunduk saat La Pangoriseng dan La Temalureng membawa beras dan tawaran renovasi. Wajah pengasuh itu berkerut antara curiga dan harap. "Jika mereka dari Ale Luwu, apa maksud datangnya? Bukankah istana kita lemah, penjagaan tipis?" gumamnya kepada dirinya sendiri sebelum menjawab dengan nada terbata, "Jika mereka berjanji membetulkan, tidakkah itu membawa keselamatan?"

"Keselamatan atau penaklukan?" tanya La Pangoriseng sambil tersenyum halus. "Kami bukan penakluk. Kami sekadar membawa tangan yang dapat membangun kembali lantai yang keropos."

We Mamala menimbang beberapa tarikan napas. "Baiklah. Tapi jangan sampai ada suara besar. Dua putri-mereka harus tetap aman."

Malam sebelumnya, mimpi We Datuk Sengeng masih terasa hangat. Di ambang jendela ia menatap lautan yang lalu-lalang kapal, memegang kain pinggangnya seolah menahan sesuatu yang tak terkatakan. "Adikku," bisiknya pada We Adil Luwu, "aku bermimpi perahu emas. Di atasnya ada pangeran yang menatapku sampai jantungku berhenti."

We Adil Luwu tersenyum samar, tangan terlipat. "Jika memang demikian, biarlah ia datang. Namun jangan biarkan harapmu menjadi alasan kita lengah."

Tangisan diam We Nyili' Timo mengiringi kepergian Putra mereka. Di dermaga, ia merapikan ujung kainnya, menatap langit sebelum mendoakan keselamatan Batara Lattu. "Jangan jadikan cinta sebagai lepasan kewajiban, nak. Jadilah raja yang adil, bukan pencari mahkota yang gersang." Suaranya terisak tapi tegas. Batara Lattu menunduk, memeluk ibu sebentar sebelum melangkah ke perahu.

Ketika Tanete Manurung merapat, ribuan awak turun, mandi di sungai-baru untuk pertama kali setelah berbulan-bulan. Batara Lattu memerintahkan agar sebagian pasukan berjaga di pinggir sementara lainnya mengangkut bekal. "Tidak lama," ia berseru pada La Pangoriseng dan La Temalureng. "Kita harus segera tahu keadaan istana-apakah benar kosong seperti yang diduga."

La Pangoriseng menyelinap terlebih dahulu. Ia bertemu seorang nelayan yang menatapnya curiga. "Istana kosong, hanya ada pengasuh tua," kata sang nelayan. "Pasukan Singingwero berjaga luar, tapi mereka lebih banyak untuk pamer daripada menyerang."

La Pangoriseng mengangguk, memberikan sekarung beras sebagai suap kebaikan. "Terima kasih. Sampaikan kami tak berniat merusak."

Masuk ke halaman istana, ia mengikuti bayangan-bayangan lantai rapuh. Hatinya menegang saat ia melihat dua gadis duduk di dekat jendela, rambut mereka disisir rapi, pakaian kebesaran kusam namun masih menampakkan garis keanggunan. We Mamala berdiri tak jauh, menutup muka dengan rasa syukur dan was-was. La Pangoriseng menahan nafas: kecantikan mereka melampaui cerita-cerita yang pernah ia dengar.

Kembali, ia melaporkan pada Batara Lattu. "Dua putri itu ada. Mereka tampak lelah, tapi tenang. Mamala menjaga mereka. Ada penjagaan dari Singingwero di luar, tapi bukan pasukan lengkap."

"Kalau begitu," jawab Batara Lattu cepat, "kita tak boleh langsung menerjang. La Temalureng, kau dan Pangoriseng masuk lagi, tapi kali ini kita berpura-pura sebagai pekerja perbaikan. Kita perlu melihat wajah mereka-harus, demi tahu apakah hati ini benar menolak atau menerima takdir."

Dalam penyamaran, ketiganya melepas pakaian kebesaran dan mengenakan seragam pekerja. Batara Lattu menutup sebagian wajahnya, mencoba menahan degup jantungnya yang tak karuan. Mereka mengangkat guci, menyapu lantai, memunguti debu-tindakan sederhana yang menjadi ujian bagi kesabaran Lattu.

Di dekat jendela, We Datuk Sengeng dan We Adil Luwu berjalan beriringan. We Datuk Sengeng, yang mimpi perahu emas masih menempel pada rona wajahnya, sering menghentikan pandangan pada garis laut. Ketika Batara Lattu melihat We Datuk Sengeng lewat-sekilas saja-dunia seakan berhenti. Matanya membulat, lututnya lemas. La Pangoriseng dan La Temalureng tahu reaksi adiknya; mereka saling bertukar pandang.

La Temalureng menegur pelan, "Kendalikan dirimu, Lattu. Kita di sini atas nama kerajaan. Jangan jadi batu sandungan."

"Tapi ia-" suar Batara Lattu berhenti di bibirnya. Ia melompat dari pekerja menjadi bocah gugup, dan berlari menuju perahu, menutupi wajahnya dengan selimut. Demamnya tidak hilang; berganti malu dan takut akan perasaan yang meledak di dadanya.

Kabar tentang kapal Ale Luwu yang nampak di laut sampai ke telinga La Hendri Giling dan istrinya, We Hendri Jelok. Mereka mengumpat di aula, takut pada ramalan Puang Matoa yang menyebut: putra mahkota Ale Luwu akan menikahi seorang putri Tompotikka. "Jika itu benar," gumam We Hendri Jelok, "maka kedudukan kita bergoyang. Kita harus bertindak."

La Hendri Giling memanggil Puang Matoa, menanyakan celah-celah ramalan. Puang Matoa, berkedut matanya, menjawab setengah samar: "Ada garis yang tak dapat diubah, namun gerak-gerik manusia bisa menunda. Jika Ale Luwu datang dengan niat baik, ia akan membawa perubahan; jika berniat buruk, ia membawa api."

Ketegangan tumbuh. Singingwero bergerak cepat, menguatkan penjagaan di pelabuhan dan menata barisan pasukan. La Pangoriseng, mengetahui gelagat itu, berbisik pada Batara Lattu sambil menatap laut yang kini membentang tak bersahabat: "Kau harus siap, adikku. Bukan hanya untuk meminang-tapi untuk mempertahankan kalau mereka menolak."

Batara Lattu mengangkat dagu untuk pertama kali sejak ia demam. "Kalau perlu perang, kita akan perang. Namun aku datang bukan untuk memaksa cinta. Jika mereka menolak, kita mundur dengan kehormatan. Tapi kalau kita dimusuhi-kita tak boleh membiarkan Tompotikka jadi sasaran pembinasaan."

Hari itu, rombongan Ale Luwu resmi menempati sebagian halaman istana. Renovasi diputuskan dilakukan demi nama besar Ale Luwu; pekerja-pekerja dari dua pihak bekerja bersisian, sementara mata-mata dan penjaga saling mengukur. La Pangoriseng dan La Temalureng tetap waspada, menunggu kesempatan agar Batara Lattu dapat melihat kedua putri itu tanpa penghalang-bukan lagi dalam penyamaran, melainkan dengan wibawa seorang pangeran.

Suatu sore, saat matahari merendah, We Datuk Sengeng berdiri di teras dan menatap ke arah perahu yang sedang berlabuh. Batara Lattu, yang kebetulan berada di dekat situ berpakaian resmi kali ini, dituntun oleh kedua kakaknya untuk naik ke pelataran. Tubuhnya gemetar tetapi langkahnya tegap. Ketika mata mereka bertemu, ada jeda panjang di mana semua suara seolah ditarik menjauh.

We Datuk Sengeng menunduk sedikit, lalu mengangkat kepalanya. "Kau dari Ale Luwu," suaranya tenang namun tegas, "mengapa datang kemari? Untuk memperbaiki istana atau mengambil satu nyawa negara?"

Batara Lattu menelan dahak. "Kami datang karena perintah dan karena hati. Ayahku-Batara Guru-memerintahkan. Aku datang untuk melamar atas nama Ale Luwu, bukan untuk menaklukkan."

We Adil Luwu melangkah maju, wajahnya terjaga antara curiga dan harap. "Banyak janji telah dilontarkan, banyak janji pula yang hampa. Apa buktimu, Pangeran dari Ale Luwu?"

La Pangoriseng mengangkat tangan, memperkenalkan pembangunan yang sudah dijalankan-lantaian batu yang diangkat, pekerja yang menata lantai. La Temalureng menambahkan: "Kami membayar pekerjaan, kami memperbaiki, kami menjamin keselamatan kalian selama masa renovasi. Itu bukti kami bukan perampas."

We Mamala menatap kedua pemimpin Ale Luwu, lalu pada Batara Lattu. "Jika memang ada niat baik, buktikan pada putri-putri ini bahwa kedatanganmu tak akan membawa malapetaka. Jangan hanya kata-kata."

Batara Lattu mengangguk, "Aku mengerti, Mamala. Aku bersumpah di hadapan kalian dan hadapan Langit: niatku murni. Jika hatimu menolak, aku akan pergi. Jika hati membuka, aku akan menjaga."

We Datuk Sengeng menatap lama pada lelaki di depan dirinya. Ada panas yang memancar dari dalam ucapannya, bukan karena terpesona semata, melainkan karena ia menimbang konsekuensi atas setiap pilihan. "Jika kau bersungguh-sungguh, buktikanlah dengan tindakan yang lebih dari kata."

Keputusan tergantung pada Benturan Politik: Singingwero masih menatap dari balik tirai kekuasaan, Puang Matoa meraba-raba nasib dengan ramalan separuh samar, We Hendri Jelok menyusun kemungkinan penghancuran, dan rakyat Tompotikka menunggu apakah perahu emas itu akan membawa harapan atau musibah. Batara Lattu tahu permainannya belum selesai: penyamaran hanyalah awal, lamaran hanyalah langkah simbolis-yang sesungguhnya menentukan adalah kemampuan Ale Luwu untuk menahan provokasi, menjaga kehormatan, dan bertahan bila perang benar-benar pecah.

Malam turun, dan perahu Tanete Manurung berkilau di bawah cahaya bulan. Di dek, trio bersaudara duduk berhadapan. La Pangoriseng memecah keheningan: "Besok kita tunjukkan pembangunan itu di hadapan semua. Biarkan mereka melihat tangan-tangan kita bekerja. Kalau perlu, aku dan Temalureng akan menjadi perisai."

La Temalureng menambah, "Dan kau, Lattu, jangan biarkan hatimu memutuskan sebelum kau mengenal mereka. Cinta bukan alasan untuk menyerobot nasib bangsa."

Batara Lattu menatap laut, menelan beban yang kini lebih besar dari rindunya sendiri. "Aku datang sebagai anak Batara Guru," katanya pelan. "Aku datang sebagai calon raja. Jika perang terpaksa terjadi demi melindungi mereka, maka biarlah aku yang memutuskan nasib itu. Tapi pertama, aku harus tahu: apakah hati mereka mau menerima kami atau memicu perang?"

Keesokan harinya, saat kerja perbaikan dipertontonkan, mata-mata bernama La Hendri Giling mengamati dari kejauhan bersama We Hendri Jelok. Mereka lapar akan kesempatan. "Jika Ale Luwu terlalu dekat, kita pancing mereka bertikai dengan Singingwero," ujar La Hendri Giling dingin. "Maka Tompotikka menjadi padang reruntuhan-dan kita mengumpulkan puing-puingnya."

We Hendri Jelok menggertak, "Jangan gegabah. Jika Ale Luwu menang, kita terhapus. Jika mereka kalah, kita juga. Pilihannya harus cerdik."

Di antara derasnya palu dan luncuran batu, Batara Lattu mengenang bisikan Batara Guru: menjadi raja bukan berarti kehilangan manusia. Kini ujian itu meruncing: menaklukkan hati seorang putri, menahan amukan pasukan Singingwero, dan menjaga kehormatan Ale Luwu. Konflik semakin membayangkan medan perang yang akan datang-bukan hanya antara tentara, tetapi antara kehendak, kesetiaan, dan cinta yang membara.

Dan di suatu sudut istana yang remang, We Datuk Sengeng menatap ke arah Batara Lattu sekali lagi. Ia menghela napas panjang, lalu berkata pada adiknya, pelan namun pasti: "Jika ia serius, kita akan tahu. Jika tidak, maka biarkan Langit yang mengambil keputusan." Mata We Datuk Sengeng memantulkan sinar bintang, penuh tekad dan ketakutan-pertanda bahwa perang besar bukan hanya soal pedang, melainkan soal hati yang mau memilih atau menolak.

Malam itu, Tompotikka tidur dengan napas yang tak menentu. Di geladak Tanete Manurung, Batara Lattu menutup mata dan berdoa. Di balik tirai istana, We Mamala berjaga memberikan nasihat kepada kedua putri: "Jangan tergesa membuat keputusan. Hati boleh bergetar, namun akal harus memutuskan." Di aula Singingwero, strategi disusun; di kapal-kapal Ale Luwu, pasukan bersiap. Esok adalah hari pembuktian-awal dari sesuatu yang mungkin akan menjadi perang besar atau penyatuan yang mengguncang peta kekuasaan di antara kerajaan-kerajaan.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Lattu (protagonist) We Datuk Sengeng (supporting) La Pangoriseng (supporting) La Temalureng (supporting) We Mamala (supporting) We Adil Luwu (supporting) We Nyili' Timo (minor) La Hendri Giling (antagonist)