Episode 005: Bagian 2

Story DNA

Genre
legend
Tone
solemn
Themes
honor and redemption, perseverance against adversity, the nature of leadership, love and destiny
Plot Summary
Sawerigading embarks on a long sea journey to Ale Cina to propose to We Cudai, facing numerous pirate attacks and conflicts along the way. Despite the violence, he demonstrates compassionate leadership by sparing his enemies and relying on his loyal companions. Rumors spread by a rival, Setia Bonga, poison Ale Cina against him, leading to the rejection of his offerings and further confrontations. Angered by the continuous insults, Sawerigading invokes a destructive storm, but is convinced by his lieutenant to stop. Learning about Ale Cina's internal divisions, Sawerigading and his companions resort to disguise to gather intelligence and understand We Cudai, maintaining his ultimate goal of a peaceful union.

Episode 005: Bagian 2

Perahu Walen Renge menyeret jejak busa di lautan panjang menuju Ale Cina. Sudah berbulan-bulan mereka berlayar; luka, lelah, dan kemenangan mengendap di badan serta jiwa anak buah Sawerigading. Namun meski tubuh penat, kepala Sawerigading tak pernah tenang - ada beban yang menekan di dalamnya: dosa masa lalu, nama yang tercemar, dan janji yang harus ditepati. Di tengah malam ke-10, ketika layar diturunkan atas perintahnya, kapal bergoyang seperti tubuh yang sedang berdoa. Batara Lattu, yang duduk di buritan, menatap putranya yang termenung.

"Saat kau memanggul luka itu, bagaimana kau tahu ini bukan sekadar bayangan?" tanya Batara Lattu pelan.

Sawerigading menunduk, jemari menyentuh permukaan air. "Bayangan menjadi nyata bila tidak kutatap, Bapa. Aku harus melihatnya agar dapat menebus."

Lapanan Rang, tangan kanan Sawerigading, menyelinap mendekat. "Tuan, saya melihat sesuatu di cakrawala. Kapal yang bergerak mendekat-dan mereka bukan pedagang."

"Waktu berhenti," ujar Sawerigading. "Siapkan semuanya. Jangan sampai mereka mencuri langkah sebelum kita tahu maksud mereka."

Lapanan Rang mengangguk. Suara komando perlahan mengalun di geladak; awak menutup layar, mengencangkan simpul-simpul, menyembunyikan mahkota di dalam peti. Ketegangan memelintir angin. Saat kapal lain muncul, bukan sekadar patroli: itu kawanan Banyinyak Paguling - perompak yang haus konflik. Mereka mengangkat seruling perang, meneriakkan tantangan. Perjalanan yang sekadar untuk melamar berubah menjadi arena uji.

"Jangan cari mati, tapi jangan pula tunduk," kata Sawerigading, menatap tajam pemimpin perompak yang menonjol di kapal lawan.

Lapanan Rang melangkah maju mewakili Sawerigading: "Kami bukan untuk berperang, tapi jika kalian memaksa, kami akan membela diri sampai napas terakhir."

Pemimpin Banyinyak Paguling meringis. "Nama besarmu menyebar sampai ke laut terpencil. Uji keberanianmu, anak manusia!"

Duel pun meletus; adu tombak, benturan bedil dan teriakan memenuhi malam. Lapanan Rang memimpin barisan, lamaaguni melompat bagaikan elang, mengoyak formasi musuh. Tujuh hari dan tujuh malam bergulung; korban bertambah namun Sawerigading dan pasukannya tak tergoyahkan. Saat akhirnya pemimpin perompak terjungkal di depan Lapanan Rang, suasana berubah dari kemarahan menjadi kesunyian yang getir.

"Ambil mereka hidup-hidup," perintah Sawerigading setelah perang reda. "Beri makanan. Luka bukan untuk dibalas dengan durhaka."

Lapanan Rang menatap laki-laki yang kini tergeletak, napas berat. "Tuan, mengampuni mereka... apakah itu tanda kelemahan?"

"Sebuah tanda manusia yang ingin tetap manusiawi," jawab Sawerigading. "Jika kita menumpuk dendam, kelak anak cucu kita yang akan menanggungnya."

Beberapa hari kemudian, musuh lain muncul: Latupuk Solo. Strategi menghindar tujuh kali ke kiri dan tujuh kali ke kanan tak lagi cukup. Pertempuran kembali pecah; kali ini harga diri gugur ketika seorang bangsawan dari Walen Renge dibunuh. Amarah merebak. Lamaguni, yang dikenal pemberani, turun tangan dan menantang Latupuk Solo sendiri. Duel dua panglima itu membakar semangat barisan. Setelah adu panjang, Lamaguni menang. Barisan musuh mengendur; kemenangan kembali berpihak pada Sawerigading.

"Begitulah laut menguji kita," gumam Lapanan Rang di samping api unggun. "Setiap musuh tampak lebih kuat, namun kita tumbuh dalam caranya sendiri."

"Aku tak ingin tumbuh sebagai penakluk," sahut Sawerigading sambil menatap bintang. "Aku datang untuk memohon, bukan menaklukkan. Namun jika mereka menodai niatku, aku akan menjawab."

Mereka lalu menjumpai Latu-pugelang, Laend R Pulak, Panglima Malaka bernama Lawi - lawan demi lawan jatuh, sampai akhirnya rombongan Sawerigading terlalu lelah untuk berperang lagi. Pada saat itu, bantuan tak terduga datang: armada dari Kerajaan Langit, pasukan Remang Rilangi - suami We Tenriabeng - tiba bak turunnya bala penolong. Bersama bala langit, Sawerigading bergerak tanpa ampun; lawan-lawannya takluk satu per satu. Di antara reruntuhan peperangan itu, Sawerigading menyerahkan ikat pinggang emasnya kepada Remang Rilangi. "Bawakan ini kepada We Tenriabeng," katanya. "Beri ia tahu rinduku tetap hidup."

Remang mengangguk, mata berkaca. "Akan kugenggam pesanmu. Ia akan tahu."

Setelah laga, Lapanan Rang mengusulkan singgah di Wangkang Tanah, daerah kekuasaan Latirinuwi. Di sana mereka mendapati seorang janda, Wrin Nareng, berduka karena suaminya tewas. Tawaran Lapanan Rang agar Sawerigading mengambil istri itu sebagai permaisuri ditolak - bukan karena Sawerigading tak terpesona, melainkan karena tujuan besar selalu menuntut satu fokus. Tawaran itu lalu diberikan kepada Lamaguni; tawa pecah, Lamaguni setuju, menikahi Wrin Nareng dan kemudian menetap memerintah Wangkang Tanah. Perpisahan hangat namun penuh makna; rombongan melanjutkan pelayaran.

Seiring mendekatnya Ale Cina, rumor yang dibangun Setia Bonga sudah merosot menjadi badai kebencian: bahwa orang Ale Luwu adalah primitif, kotor, pemakan ular. Ketika harta kiriman Sawerigading dipulangkan secara separuh oleh pihak Ale Cina, amarahnya memuncak. "Itu bukan pengembalian-itu pencurian," ujar Sawerigading mencakar udara, matanya merah.

Lapanan Rang menyarankan kebijaksanaan. "Taruh semua amarahmu di pedangmu, Tuan. Tampil sebagai penawar damai dulu."

Namun ketika delegasi yang dikirim menemui pengirim, Setia Bonga dan penasihatnya La Bolong tak dapat menahan diri. Penghinaan mencetus, tombak terlempar; perang kembali berkecamuk. Perbedaan dihadapi bukan semata kekerasan: Sawerigading menegaskan ia tak ingin penghancuran Ale Cina; tujuan utamanya tetap satu: melamar We Cudai. Kata-kata itu meredam sedikit bara. Dalam theatrum perang, Babak baru muncul: kabar dari mulut bisu yang memiliki kemampuan supranatural menyebut bahwa We Cudai sudah bertunangan - dan kabar itu membuat Sawerigading bimbang.

"Apa yang kita lakukan kalau ia telah bertunangan?" tanya Lapanan Rang.

"Kita akan menjadi pengantin yang datang menjemput, bukan yang merebut," jawab Sawerigading. "Jika harus berpura-pura demi mencuri hati, maka kita lakoni."

Lapanan Rang mengusulkan rencana: Sawerigading harus mengaku sebagai tunangan We Cudai demi memancing reaksi pihak lain-sebuah sandiwara beresiko, namun mudah dikendalikan. Ketika kapal Setia Bonga datang menantang lagi, Lapanan Rang berperan sebagai perwakilan; dialog tegang berlangsung di atas geladak, emosi memuncak, lalu berujung pada peperangan kecil yang Sawerigading minta ditangani tanpa membunuh pemimpin Setia Bonga. Ia bersikeras: "Tangkap hidup-hidup. Aku tak mau menumpahkan kebencian yang akan menuntun pada perang berkepanjangan."

Setia Bonga, kalah muka, akhirnya mundur - tapi dendam menggerogoti hatinya. Kabar fitnahnya merembes lebih cepat dari lembah. Di Ale Cina berita itu menjadi racun yang membuat We Cudai menolak lamaran Sawerigading; ia mengurung diri, menolak bertemu. Ketika Sawerigading dan rombongan datang ke Ale Cina, mereka disambut sinis: nelayan angkuh, warga yang tak ramah. Lalu Sawerigading, tak terima dengan penghinaan itu, berdoa kepada sang Patoe - sebuah doa yang memanggil badai. Petir menyambar, api melahap beberapa rumah. Kepanikan menyebar; Sawerigading segera membatalkan doa itu setelah mendengar Lapanan Rang memohon agar ia jangan merusak tujuan suci pelayarannya.

Di tengah kekacauan, seorang nelayan tunduk: "Negeri ini terbagi dua: Cina Barat dipimpin Las Tumpugi, Cina Timur dipimpin We Tenriabeng. Mereka bersatu karena pernikahan; tapi hati rakyat terbelah."

Informasi itu membuka jalan. Sawerigading menahan pasukannya, menunjukkan lagi bahwa tujuannya bukan menaklukkan negeri. Ia meminta We Cudai melihatnya bukan dari bisik-bisik orang. Lapanan Rang dan Lamaguni lalu menjalankan taktik penyamaran: mereka menyamar sebagai hamba, berkeliling kota untuk mengumpulkan kabar, memetakan kebiasaan istana, mempelajari wajah We Cudai.

Lewat penyamaran itu, Sawerigading akhirnya menyaksikan We Cudai dari dekat: kecantikan yang tak kalah dari We Tenriabeng, namun hati yang tertutup rapat.

Tokoh dalam Episode Ini

Sawerigading (protagonist) Batara Lattu (supporting) Lapanan Rang (supporting) Lamaguni (supporting) Setia Bonga (antagonist) We Cudai (supporting) Remang Rilangi (supporting) Wrin Nareng (minor)