Episode 004: Sawerigading
Waktu bergulir; hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Sawerigading telah tumbuh dari bocah menjadi pemuda yang tangguh - tangan yang piawai mengayunkan tombak, mata yang mampu membaca medan, dan suara yang memberi perintah tanpa ragu. Di istana We Tenriabeng, We Tenriabeng diasuh seperti putri bangsawan: lemah lembut dalam tutur, tegas dalam sikap, dan misterius dalam asal-usulnya. Kedua anak ini, meski dipisah jarak dan tugas, terus terikat oleh benang yang tak kasat mata.
"Kita sudah lama di timur, Panglima," kata seorang pengawal, menuntun kuda yang menapak tanah lembab hutan. "Arah semakin kabur. Apa yang Paduka inginkan-kembali atau terus maju?"
Sawerigading menoleh, rambutnya berkibar, nada suaranya tenang tapi tegas. "Teruskan. Jika kita menemukan ayam bagus, aku ingin ikut pertarungan. Bukan untuk nama; untuk kehormatan dan uji kuat."
Pengawal mengangguk. "Begitu, Paduka."
Berhari-hari mereka menembus rimba sampai tanggal, tak sengaja, pasukan itu menatap sebuah perkampungan besar: deretan rumah, arena sabung ayam, dan sebuah istana kecil di bukit. Kabar segera sampai ke telinga Sawerigading: penguasa kampung itu seorang perempuan jelita, We Tenriabeng.
"Sungguh ada pemimpin perempuan di sini?" gumamnya, setengah meremehkan, setengah penasaran. "Bawakan ayamku. Aku ingin menguji keberuntungan kita."
Di gelanggang, Sawerigading menyamar sebagai orang biasa. Ia tak menonjolkan jubah bangsawan. Ketika ayamnya berlaga, kerumunan bersorak; kemenangan demi kemenangan mengangkat namanya tanpa diketahui identitas aslinya. Namun ada satu suara yang menantang: "Melawannya, ayam Datu Ale Luwu!" Kala penyebutan itu keluar, udara seketika membeku; gelar Batara Guru dan keluarga Ale Luwu tak bisa dilecehkan.
Seorang peserta menunduk cepat saat mereka sadar siapa pemilik ayam itu. Dari tepi gelanggang, utusan membawa kabar ke istana: We Tenriabeng menatap ke arah gelanggang, wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu. Ketika pandangannya bertemu dengan Sawerigading, ada jeda panjang - tatapan singkat namun sarat makna. Kedua hati dirundung geli asmara yang baru, meski tak saling mengenal.
"Siapa perempuan itu?" tanya Sawerigading pada salah satu perwiranya setelah berlaga.
"Penguasa kampung, Paduka. Nama: We Tenriabeng," jawab perwira. "Mereka bilang cantik, tak bersuami."
Sawerigading mendesah, setengah sinis. "Cantik atau bukan, yang kutahu gelanggang itu menarik. Tapi simpan-aku ingin tahu lebih banyak tentangnya."
Utusan istana We Tenriabeng datang membawa hadiah: gelang, cincin, bahkan helaian rambut sebagai bukti. Ketika barang-barang itu diserahkan ke pertemuan para pembesar Ale Luwu, sebuah nama terdengar: We Tenriabeng. Suasana rapat berubah menjadi panas saat kebenaran lama muncul ke permukaan - We Tenriabeng adalah saudara kembar Sawerigading.
Seorang penasihat berdiri, suaranya gemetar tapi tegas: "Paduka, fakta silsilah menyatakan bahwa We Tenriabeng adalah saudara kembar Sawerigading. Pernikahan sedarah dilarang oleh perintah Datu Patoto'e. Demi keselamatan Ale Luwu, kita harus menahan niat ini."
Sawerigading yang sedang berdiri di tengah ruangan mendengar. Matanya menghitam; amarah dan bingung bercampur. "Bohong!" teriaknya, tanpa memedulikan keagungan ruangan. "Aku tidak akan tunduk pada tradisi yang mengikat hati. Aku menyukai dia. Jika itu salah menurut aturan, maka biarkan aku bertanggung jawab."
Sejenak, hanyut dalam ledakan emosi, ia melayangkan tinju dan menghabisi penasihat yang berani menyebutkan batas itu - sebuah tindakan yang membuat ruangan sunyi dan kemudian gempar. Pamanrang segera menahan tubuhnya, menenangkan keributan. Meski begitu, tekad Sawerigading tak pudar: ia tetap berniat meminang We Tenriabeng.
Di sisi lain, We Tenriabeng sendiri, di dalam istananya, menyadari apa yang terjadi. Ia telah menahan perasaannya karena tahu bahwa Sawerigading adalah saudara kembarnya; ia tidak ingin menimbulkan kutukan atau fitnah. Ketika utusan dari Ale Luwu datang membawa benda-benda miliknya, ia menatap jauh ke cakrawala, termangu.
"Paduka," bisik utusan pada We Tenriabeng saat kembali ke hadapannya, "mereka tahu. Sawerigading sampai marah. Ia berjanji akan menemuimu, bahkan meminangmu."
We Tenriabeng menutup mata, menahan gemuruh di dadanya. "Kembalilah," katanya lirih. "Beri mereka gelang dan rambut itu. Katakan padanya: jika ia benar-benar ingin menikah, carilah sepupuku di Ale Cina, anak dari Lasa Tumpugi. Cantiknya sepadan. Demi keselamatan Ale Luwu, itulah jalan yang benar."
Kabar pulang ke Ale Luwu menyulut perubahan lebih besar. Sawerigading, menerima nasihat itu, tidak luluh. Ia lalu mengumumkan keputusan yang menimbulkan gempar: ia bersumpah untuk meninggalkan Ale Luwu selamanya, tak akan kembali, demi menebus kesalahannya dan melunasi rasa yang salah di hatinya. Para pembesar menangis, protes, dan berusaha meredamnya. Namun Watak Sawerigading keras; sekali ia bersuara, ia tak menarik kembali ucapannya.
"Jika aku pergi, siapa yang memimpin Ale Luwu?" tanya seorang pembesar, suaranya penuh takut.
"Saat aku pergi, kepemimpinan akan kembali ke tangan para pembesar secara kolektif," jawab Sawerigading datar. "Aku pergi untuk menebus. Jika aku hidup, mungkin aku akan kembali dalam bentuk lain."
Sumpah itu memicu gejolak di langit-bukan hanya kata-kata. Kilat dan petir menggelegar; awan menutup matahari, dan dari kerlip langit turun dua sosok: Batara Lattu dan We Datuk Sengeng. Datang mereka bukan untuk menegur, melainkan untuk menyaksikan. Sawerigading, terperangah sekaligus bersujud, melihat ayah yang tak pernah dikenalnya. Air mata mengalir dari kedua orang tua yang muncul bagai bayangan yang kembali menemui anaknya.
"Bapa... Ibu..." suaranya patah. "Aku... aku mohon ampun."
Batara Lattu mendekat, suaranya lembut namun bercampur otoritas: "Nak, sumpahmu adalah uji. Jangan biarkan amarah mengatasi akal. Aku datang untuk melihat apakah hatimu kuat atau hanya gelap oleh nafsu."
We Datuk Sengeng menatap tajam pada para pembesar. "Jaga Ale Luwu saat aku dan istriku naik ke Boting Langi. Jangan biarkan kegundahan merobohkan istana."
Di istana We Tenriabeng, berita kedatangan Batara Lattu dan We Datuk Sengeng mereda jadi kelegaan. We Tenriabeng sendiri dipersilakan naik ke Boting Langi; calon suaminya dari kerajaan langit juga menanti. Namun sebelum semua berangkat, Sawerigading melakukan satu tindakan yang menggetarkan: ia menunda pelayarannya ke Ale Cina. Ia memerintahkan burung pembawa pesan agar memberitahu We Tenriabeng dan kedua orang tuanya bahwa ia tidak akan melanjutkan keberangkatan sebelum melihat mereka naik ke Boting Langi.
Utusan membawa sebuah ikat pinggang We Tenriabeng kembali kepada Sawerigading sebagai tanda hubungan yang belum selesai. Pagi berikutnya, langit gelap tanpa dentuman, tetapi damai menyelimuti; Batara Lattu, We Datuk Sengeng, dan We Tenriabeng naik dengan upacara yang khidmat. Ketika We Tenriabeng memandang ke arah pelabuhan, air matanya jatuh - hujan turun, menyiram daratan dan lautan Ale Luwu. Air itu membasahi Sawerigading, yang mematung di haluan perahu barunya; tatapannya kosong, namun hatinya merapat pada sumpah yang diucapkan.
"Berlayarlah, nak," ucap Batara Lattu menenangkan, memegang bahu anaknya. "Pergilah jauhi nama dan warisan jika itu harus kau lakukan. Tapi ingat-keputusanmu membawa konsekuensi. Jaga nyalimu, bukan hanya demi dirimu, tapi demi yang kau tinggalkan."
Sawerigading mengangguk, suaranya serak: "Baik, Bapa. Aku pergi bukan karena melarikan diri, tapi karena ingin menebus. Jika kelak aku kembali, semoga bukan untuk merebut, tapi untuk menebus."
Perahu Walen Renge, baru dibuat, menggantikan Tanete Manurung yang dikembalikan ke langit. Pelayaran Sawerigading disaksikan oleh seluruh Ale Luwu: isyarat perpisahan, penyesalan, dan harapan. Ia menatap sekali lagi ke arah istana, ke arah We Tenriabeng yang kini naik ke Boting Langi bersama ayah-ibunya. Hatinya hancur, namun tekadnya membaja.
"Semoga kelak keturunanku tak menanggung dosa yang sama," bisiknya pada layar yang mengembang. Angin menelan pesan itu, membawanya ke laut lepas dan ke arah Ale Cina. Di belakangnya, Ale Luwu tetap berdiri, kosong tapi tegap - menunggu hari ketika nama dan darah akan diuji kembali. Konflik bukan selesai; ia bergeser ke laut dan langit, tempat nasib, cinta, dan kewajiban akan diuji sampai titik pengorbanan terakhir.