Episode 008: Bagian 5
Hari-hari berganti menjadi bulan, dan kemudian tahun. Kerajaan Luwu, meskipun tanpa pemimpin yang sah, tetap berdiri kokoh. Beberapa kerajaan kecil yang sebelumnya dikuasai Sawerigading bersiap untuk menyerang Ale Cina.
Di kerajaan langit, Datu Patoto'e memandangi kekacauan yang diciptakan oleh keturunannya. "Sawerigading, La Galigo, hanya membawa masalah. Satu selalu meminta bantuan, sementara lainnya semena-mena," ia menghela napas panjang.
Datu Palinge' bersuara, "Mereka perlu bimbingan. Jika kita tidak bertindak, kekacauan ini hanya akan memburuk." Keberadaan La Galigo, yang lebih senang bersenang-senang daripada memimpin, menjadi topik diskusi di antara para dewa.
"We Cudai setuju jika La Galigo diangkat menjadi raja Ale Cina. Walaupun kompetensinya diragukan, aku percaya dia bisa berubah," Sawerigading menambahkan, meski skeptis. "Jika dia menyatukan Luwu dan Ale Cina, kita bisa kuat kembali."
Setelah berdebat panjang, musyawarah pun menghasilkan keputusan. "La Galigo akan menjadi raja baru. Bersamaan dengan itu, kita akan melantik raja baru di kerajaan-kerajaan lain," kata Sawerigading menegaskan.
Dari jauh, Milik Nao mendengar berita ini. "La Galigo? Anak Sawerigading? Dia harus membayar untuk kematian kakekku," geramnya. Ia bersumpah untuk menyerang Ale Cina dan menghancurkan semua yang berdiri di jalannya.
Mendengar rencana ini, para pedagang di Ale Cina merasa terancam dan segera melapor. "Sawerigading, kami harus bersiap! Musuh sudah bersiap untuk menyerang!" teriak salah satu pedagang.
"Lapor kepada La Galigo, kita harus mengambil langkah cepat!" Sawerigading memastikan. Dia menyadari bahwa La Galigo tidak memberikan perhatian pada rencana ini.
Dengan tawa, La Galigo menyahut, "Siapa yang bisa menggoyahkan kekuatan Ale Cina? Kita akan menghancurkan mereka sebelum mereka menghampiri."
Namun, di sisi lain, La Galigo cepat mendapat ide. "Kita akan menyerang lebih dulu, mengganggu rencana mereka." Sawerigading menyetujui, "Semua persiapan harus dilakukan. Kita akan membuat perahu raksasa dari kayu yang paling kuat."
Dua panglima perang, Lapananang dan Lamaguni, siap memimpin. "Aku akan mengatur strategi, sedangkan kau, Lapananang, sediakan tempat mengundang." Mereka pun sepakat dan mulai bekerja.
Saat La Galigo memakai sebuah keris pusaka yang membuat semangatnya meluap-luap, ia mengerahkan semua kekuatan untuk memberangkatkan pasukan. "Mulai dari hari ini, kita akan menaklukkan Nao!" teriaknya.
Di malam hari, mereka merayakan kemenangan di sore hari sebelum berjuang. "Kita akan membawa harta rampasan dan menaklukkan Nao," tanya Lamaguni. "Kita harus ingat, ini bukan sekadar pertempuran, tapi juga untuk masa depan," jawab La Galigo dengan tegas.
Namun, ketika berita penyergapan menyebar, Sawerigading memerintahkan semua pasukan untuk bersiap. "Jangan anggap remeh musuh kita. Mereka pasti telah bersiap!" teriaknya, meninjau raut wajah pasukannya yang penuh semangat.
"Bersiap untuk pertempuran, kita akan berperang demi Luwu dan Ale Cina!" semua bersorak, memompa semangat satu sama lain.
Dari jauh, Milik Nao dengan angkuhnya bersiap. "Dan kini, saatnya aku membalaskan dendam kakekku," ujarnya dengan penuh tekad, mengetahui bahwa pertempuran yang disiapkan akan menentukan nasib banyak jiwa.
Perang pun tidak terelakkan, dan semangat tinggi menjadi daya tarik utama para prajurit yang siap menghancurkan segala rintangan di hadapan mereka.