Episode 009: Bagian 6
Di sebuah waktu yang lampau, sebelum kapal Sawerigading karam, Luwu dan Tompotikka menjalani masa yang penuh dinamika. Di Tompotikka, Wadi Luwu dan suaminya, Jiriu, bertekad mengembalikan kejayaan kerajaan mereka yang sempat goyah.
"Ini saatnya kita renovasi makam orang tua kita," ujar Wadi Luwu dengan nada tegas. "Kita perlu menghormati mereka dan menguatkan posisi kita di mata kerajaan lain."
"Benar," sahut Jiriu. "Kita harus mengundang semua kerajaan untuk upacara ini. Hal ini akan menunjukkan bahwa kita masih berdiri kokoh."
Setelah beberapa hari persiapan, undangan sudah disebar. Upacara itu akan dihadiri perwakilan dari Luwu, di mana Sawerigading ditugaskan untuk pergi ke Tompotikka.
"Saya akan berangkat ke Tompotikka ketiga datangnya undangan," ucap Sawerigading kepada para panglima perang. "Ini kesempatan untuk memperkuat aliansi kita."
Sesampainya di Tompotikka, Sawerigading disambut dengan meriah. Di tengah keramaian, ia bertemu sepupunya, Towau.
"Di mana La Galigo?" tanya Sawerigading, mencari sosok yang terkenal.
"Oh, La Galigo sudah kembali ke kerajaannya," jawab Towau dengan nada menyedihkan. "Namun, saya mendengar kabar... We China telah tiada."
Kejutan melanda Sawerigading. "Apa? Dia sudah berpindah alam?"
Kabar itu membuatnya syok. Beberapa saat, Sawerigading tenggelam dalam kesedihan. Para sahabatnya, Palawagau dan Lapananang, mencoba menghiburnya.
"Jangan biarkan kesedihan menguasaimu, Sawerigading. Kita bisa berjuang untuk mengubah takdir," kata Palawagau.
"Benar, kita akan mencari cara untuk membawanya kembali," ucap Lapananang penuh semangat.
Tak lama setelahnya, Sawerigading memutuskan untuk menjelajahi dunia bawah demi membuat keajaiban. "Saya akan berlayar menjemput We China," tegasnya.
"Itu gila!" protes Lapananang.
"Tidak, ini adalah takdirku. Saya akan mengalahkan semua yang menghalangi!" Sawerigading balas menantang.
Dengan tekad kuat, mereka bersiap berlayar. Di tengah malam, kapal mereka berangkat. Setelah tujuh hari berlayar, mereka tiba di sebuah air terjun besar.
"Hati-hati!" teriak Lapananang. Namun, kapal yang dipimpin Lamaguni jatuh ke dalamnya, hilang dalam kegelapan.
Pikiran Sawerigading berputar. "Haruskah kita mencari mereka?"
"Tidak, kita harus terus maju!" balas Palawagau penuh keberanian.
Seiring waktu, harapan baru muncul saat Lamaguni dan kapal lain muncul kembali. Mereka membawa hadiah: tumbuhan ajaib yang bisa menghidupkan We China.
"Saya akan pergi menjemputnya!" teriak Sawerigading berapi-api.
Namun, angin tiba-tiba memburuk. Sinuktoja, dewi dari kerajaan Pertiwi, muncul di samping mereka.
"Kau datang jauh ke sini untuk apa, Sawerigading?" tanyanya, mengagumi tekadnya.
"Untuk menyelamatkan We China," jawabnya mantap meskipun hatinya berdebar.
"Tarik napas dalam-dalam, Gading. Perjalanan ini akan penuh bahaya," ucap Sinuktoja, lalu menghilang seolah mempersiapkan jalan.
Kapal mereka berlayar di dinding perbatasan kerajaan langit. Namun tiba-tiba, Letwarani, setengah dewa, muncul dalam kemarahan. "Siapa kalian yang berani melanggar batas?" teriaknya.
Sawerigading hanya bisa berusaha menjelaskan. "Kami tidak punya niat jahat!"
"Tapi niat kalian sangat jelas!" Letwarani menunjuk dengan marah.
Perang tak dapat dihindari. Lapananang memimpin pasukannya dengan berani. "Berat kau bermain dengan api!" erangnya.
Peperangan dimulai, penuh suara gemuruh dan teriakan. Pasukan Sawerigading berjuang keras melawan prajurit langit. Dalam ketegangan, dia terlihat membantai musuh dengan cepat, hingga akhirnya Letwarani muncul berhadapan langsung.
"Bukan kau yang harus menghadapiku, tapi cucu dari Batara Guru!" teriaknya.
Panika melanda saat mereka beradu kekuatan.
"Tidak mungkin kita kalah!" Lapananang semangat, meski melihat banyak teman terjatuh.
Tiba-tiba, lejosan datang dari langit, sebuah Dewa bernama Lapunalangi terjun untuk membantu. "Kau tidak sendirian, Sawerigading. Kami akan membantumu!"
Satu demi satu, pasukan yang terjatuh hidup kembali, menambah semangat juang.
"Bersatu kita bisa melawan!" teriak Sawerigading, membangkitkan harapan baru.
Kemenangan terwujud setelah pertempuran panjang. Namun, ketika menghadap Letwarani, keduanya terdiam, mengenali darah yang mengalir antara mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini, cucuku?" bisik Letwarani dengan terharu.
Sang dewa memeluk Sawerigading, dan kedamaian mendamaikan hati mereka.
Dengan pertempuran itu, Sawerigading belajar bahwa cinta dan keluarga lebih berharga daripada apapun. Namun perjalanan mereka baru dimulai, dan banyak tantangan menanti di hadapan.