Episode 011: Langit Dan Hakikat Manusia
Di kerajaan Langit, Datu Patoto'e, Dewa penentu nasib, sedang berdiskusi dengan istrinya, Datu Palinge'. "Adinda, kita harus membahas tentang anak kita," ujar Datu Patoto'e dengan nada serius.
"Anakku adalah bagian dari kita. Mungkin bumi bukan tempatnya," jawab Datu Palinge', wajahnya penuh kekhawatiran. "Kau tahu betapa berat cobaan yang akan dihadapi?"
Datu Patoto'e menjawab, "Tapi hidup adalah ujian, Adinda. Dia perlu belajar menghadapi dunia. Ini bagian dari takdir."
Datu Palinge' menggelengkan kepala. "Menghadapi cobaan berbeda dengan menjalani kehidupan sejahtera di sini. Di bumi, dia harus berjuang untuk segalanya. Kita tidak bisa membiarkan dia terjatuh dalam keputusasaan."
"Dia adalah keturunan kita, pasti dia bisa. Jangan kau ragukan kemampuannya," tegas Datu Patoto'e, berusaha meyakinkan istrinya.
Datu Palinge' berdoa dalam hati. "Hanya jika dia bisa kembali kepada kita. Aku tidak ingin kehilangan anak kita."
Datu Patoto'e menatap ke luar, merenungi masa depan. "Baiklah, jika ini keputusan kita, biarkanlah bumi kosong untuk sementara. Namun, aku harap suatu saat dia bisa kembali dan memimpin. Itu adalah tujuan kita ketika menciptakan bumi."
Datu Palinge' berbisik lembut, "Kakanda, hatiku berat. Bumi bisa mengubahnya."
"Adinda," ujar Datu Patoto'e, bersimpuh, "hanya waktu yang akan menjawab. Biarkanlah segala sesuatunya berjalan sesuai rencana."
Dengan keputusan tersebut, mereka berpisah, masing-masing terbenam dalam pemikiran tentang anak mereka yang mungkin mesti menjelajahi dunia yang penuh tantangan. Datu Patoto'e berharap akan kebesaran takdir, sementara Datu Palinge' berkutat pada rasa cemas yang mendalam. Di antara dua dunia ini, nasib sang anak dan semua yang mereka cintai menanti di cakrawala.