Episode 012: Manusia Pertama Yang Diturunkan Ke Bumi
Di kerajaan Langit, di balik keindahan gemerlap, Datu Patoto'e merenung sambil mengamati Putra pertamanya, La Togeq Langi'. "Dia, anakku, sangat mirip manusia," pikirnya. "Sikapnya mandiri, tak ingin menggantungkan diri pada siapapun meski dia seorang dewa."
La Togeq Langi' sedang berlatih dengan penuh semangat, beradu kekuatan dengan dua panglima perang, La Pencing dan La Bulen. "Lihat ayahku, aku bisa membuktikan kemampuanku!" teriak La Togeq Langi' sambil mengalahkan keduanya secara bersamaan. Datu Patoto'e tersenyum bangga, "Dia layak menjadi pemimpin bumi."
Namun, pikiran Datu Patoto'e kembali teralihkan oleh nasib bumi yang suram. "Sia-sia jika bumi tetap kosong. Keluarga dan matahari berjuang tanpa makhluk di sana," gumamnya. Ia menyadari bahwa bumi memerlukan penduduk untuk memberikan makna pada keindahannya.
Saat Patoto'e bangkit dari lamunannya, suara gaduh dari latihan pasukan dewa di luar jendela menyita perhatian. "Apa yang mereka lakukan di sana?" tanyanya dalam hati, lalu beranjak menghampiri jendela. Pandangannya tertangkap pada La Togeq Langi', yang masih berlatih di tengah kerumunan. "Tumbuhlah, nak. Kau adalah harapan kami," bisiknya.
Tapi saat menelusuri tempat lain, Patoto'e menemukan gelanggang sabung ayam kosong. Suara jiwanya hampir mendidih saat dia menanya, "Mak Ompong, Rukeling Poba-ke mana kalian?" Ketidakhadiran keduanya mengguncang hatinya. "Jika mereka tak segera kembali dan melakukan tugas mereka, bencana akan melanda!"
Tiba-tiba, bumi bergetar, menandakan sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi. "Jika kalian tidak kembali dengan berita baik, kalian akan kutuk selamanya," ancam Patoto'e. Keduanya berlari pulang, takut akan hukuman.
Setiba di kerajaan Langit, keduanya tampak ketakutan saat dihadapkan kepada Datu Patoto'e. "Kami, hamba, tidak tahu sedang terwukir apa di bumi," ucap Rukeling Poba. "Mendengar hal ini, hatiku bergetar," ujar Patoto'e. "Manusia harus menjadi makhluk pertama yang menghuni bumi."
Keduanya terkejut. "Kami minta ampun," ucap Mak Ompong ketakutan. Namun, Datu Patoto'e melanjutkan, "Keberadaan manusia penting. Mereka akan menjadi penopang kehidupan di bumi."
Setelah mengatur ketegangan, Mak Ompong dan Rukeling Poba memberi ide yang bermanfaat. "Usulkan kepada tuan untuk mendatangkan La Togeq Langi' menjadi manusia. Dia pasti mampu memimpin," ide mereka sembari berharap.
"Baiklah, aku akan minta pendapat padanya, dan lebih penting lagi, pada Datu Palinge'." Datu Patoto'e memutuskan untuk berbicara dengan istrinya, meyakinkan bahwa ini untuk kepentingan semua.
"Sudah saatnya bumi memiliki bangsa manusia," ujarnya pada diri sendiri, ketika langkahnya mantap menuju istana. Ia merasa menemukan cahaya baru di tengah kesunyian bumi yang kelam. Dengan keputusan itu, era baru akan dimulai, dan La Togeq Langi' akan menjelajahi kepemimpinannya di dunia yang penuh tantangan.