Episode 018: Oro Dan Tomanurung
Dini hari yang tenang, Batara Guru terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Langit mulai cerah, seolah memberi isyarat akan kedatangan sesuatu yang istimewa. Dalam ketidaksadarannya, sebuah suara datang menyeruak keheningan. "Tuanku, aku diutus oleh Patoto'e untuk membantumu," kata seorang keling yang bernama La Oro Keling, sambil bersujud dengan penuh hormat. Dia membawa sebuah kapak sebagai tanda pengabdian.
Batara Guru tersenyum. "Kau datang tepat pada waktunya, Oro. Bersama kita akan membangun bumi ini." Dengan semangat, keduanya mulai merencanakan lahan pertanian. Namun, hanya ada satu kapak di tangan Oro.
"Ambil kapak ini," perintah Batara Guru. "Tebang pohon-pohon tersebut." Oro mencoba, tetapi terlihat lesu dan lambat. Melihat hal itu, Batara Guru berkomentar, "Kadang, dibutuhkan lebih dari sekadar kekuatan untuk menyelesaikan sesuatu."
"Oro, biar aku yang melakukannya," ujarnya sambil mengambil kapak. Dalam satu ayunan, pohon besar tumbang, mengakibatkan pohon lain ikut rubuh. "Luar biasa, Tuanku! Andai aku yang melakukannya, mungkin butuh bertahun-tahun!" Oro memuji.
"Jangan hanya mengandalkan otot, pikirkan juga cara-cara efektif." Batara Guru menyerahkan kembali kapak kepada Oro dan kembali duduk. Tapi, saat menyaksikan bawahannya kelelahan, dia pun punya ide. "Kita bakar saja batang pohon yang sudah roboh. Arangnya bisa jadi pupuk."
Bagaimana caranya, Tuanku? Oro tampak bingung. Batara Guru menengadah, memperhatikan mendung yang datang. Tiba-tiba, hujan turun bersamaan dengan guntur. "Tenang, Oro. Petir akan membantu kita."
Setelah petir menyambar, bara api terbentuk. "Lihatlah, sudah mulai terbakar," Batara Guru meniup bara tersebut. Begitu mudah cara tuannya, Oro takjub. Hari-hari mereka pun berlalu dengan menanam berbagai tanaman.
Melihat kerja keras Batara Guru yang efisien, Oro merasa bersyukur tak perlu berjuang sendirian. Semua proses ini diawasi oleh Patoto'e. "Batara Guru, kini kau telah layak menjadi manusia sejati, menyiapkan bumi untuk kehidupan," ungkapnya dalam hati, merasakan kebanggaan.
Menjelang malam, bumi bergemuruh sebagai tanda istana diturunkan. Batara Guru dan Oro terlelap tanpa menyadari apa yang terjadi. Keesokan paginya, Batara Guru terbangun, terkejut melihat sebuah istana megah di depannya. "Oro! Ayo lihat!" serunya.
Mereka memasuki istana Manurung Ale Luwu. "Bagaimana mungkin begitu cepat?" Oro bertanya kagum. "Ini adalah pengakuan atas kerjaku," jawab Batara Guru, merasakan bangga.
Dalam istana, makanan melimpah disajikan. Batara Guru memanggil Oro untuk bergabung, tapi Oro menyadari posisinya. "Tidak, Tuanku. Aku tidak pantas," jawab Oro rendah hati. Batara Guru meminta dayang untuk menyampaikan makanan kepada bawahannya.
Selesai menikmati makanan, Batara Guru melakukan ritual penyembahan kepada Patoto'e. "Terima kasih atas anugerah ini," ucapnya dengan rasa syukur yang mendalam. Hari baru dimulai, namun perjalanan mereka di bumi ini baru saja dimulai.