Episode 017: Air Mata Batara Guru
Setelah merasakan keindahan kerajaan Pertiwi, Batara Guru merasa sedikit terperangkap oleh harapan yang terlalu tinggi akan cinta. Di istana, Sinau Toja, bibi yang penuh semangat, bertanya, "Batara, apakah engkau sudah siap untuk menemukan calon permaisurimu di sini? Putraku, Lindrong Talaga, sangat menantikan kedatanganmu!"
Dengan canggung, Batara Guru menjawab, "Sebenarnya, aku ingin bertemu semua putri yang mungkin menjadi pendampingku, tapi aku juga harus dialog dengan ayahku terlebih dahulu."
Sinau Toja tersenyum lebar, "Oh, aku yakin mereka semua ingin menemuimu! Mereka pasti telah mendengar tentang kedatangan Sang Penguasa Bumi." Batara Guru hanya mengangguk, matanya meneliti para permaisuri yang berlalu lalang, tetapi satu pun tidak ada yang menarik perhatian enamuh.
Setelah perbincangan yang tidak begitu berarti, Batara Guru minta diri. "Mohon maaf, aku harus kembali ke bumi. Tugas di sana menanti," ucapnya sopan saat ia beranjak pergi. Sosoknya yang megah menyusut perlahan, saat Sinau Toja dan Gururesellet berusaha menahannya.
Gururesellet berkata, "Batara, sabar ya. Kehidupan di bumi bisa jadi penuh tantangan, tapi percayalah, ada kebahagiaan yang menanti."
"Ya, Bu," kata Batara Guru, terang-terangan merasakan ketidaksenangan. Namun, menyimpan rasa kesal tersebut di dalam hati adalah langkah yang lebih bijak. Sementara itu, buaya menantinya di tepi pantai.
"Gimana, Tuan?" tanya buaya, wajahnya tenang.
Batara Guru menghela napas, "Aku hanya merasa kesepian, seakan semua harapan begitu jauh."
"Mungkin permaisuri yang ditugaskan Worthy di sana bukan hanya sekadar pelengkap, batara," buaya memberi nasihat bijak.
Setibanya di bumi, Batara Guru kembali merasakan kesunyian yang begitu dalam. Hari demi hari, dia menyusuri hutan belantara, menahan lapar dan rasa dingin. Suatu malam, beban kesedihan akhirnya meluap, dan tanpa henti air matanya mengalir.
"Aku merasa ditinggalkan dan terasing," ratapnya, suaranya tenggelam dalam hening malam. "Jika ada suara menginspirasi, aku berharap itu datang dari Tuhan. Untuk kesenangan dan kebahagiaan yang lebih baik."
Tangisan ini ternyata sampai juga ke langit, membuat Datu Palinge' terbangun. "Batara Guru, mengapa kau bersedih?" Tanya Datu Palinge', suaranya penuh empati.
Patoto'e menggenggam tangannya. "Adinda, ini adalah bagian dari ujian hidupnya. Dia harus merasakan kesulitan agar mengerti makna menjadi pemimpin sejati."
Dalam lingkaran bintang, Batara Guru tersembunyi dari pandangan, namun betapa ingin ia mendengar dorongan dari keluarga, terutama orang tuanya. "Kenapa tidak kalian hadir menemaniku di sini?" batinnya bergumam sembari menahan air mata.
"Kesulitan ini tidaklah abadi," lanjut Patoto'e. "Setelah lima belas hari, akan ada cahaya baru di kehidupannya."
Batara Guru menggenggam tangan gaib yang tak terlihat, berharap bahwa ini semua hanya serpihan dari perjalanan panjangnya menuju pencapaian.
Dari kedalaman kesedihannya, dia terbangun dengan harapan bahwa mungkin cinta yang ditunggu akan datang bagai angin segar, membawa segalanya ke dalam harmoni. Dan perjalanan kerasnya baru saja dimulai.