Episode 031: Batara Lattu Dan Mimpi Putri Tompotikka
Di tengah keheningan, Batara Lattu berdiri di pelabuhan, menatap perahu Tanete Manurung yang siap berlayar. "Tidak mudah bagiku meninggalkan Ale Luwu. Apakah aku harus menjemput seseorang yang belum pernah kutemui?" gumamnya, penuh keraguan. Sebelum berlayar, ia mendekati We Nyili' Timo. "Ibu, bagaimana jika aku bukan yang diharapkannya?" tanyanya.
We Nyili' Timo melingkarkan tangannya ke bahu Batara Lattu, "Kau akan selalu menjadi pewaris. Keberanianmu adalah keindahan sejati. Ingat, sang putri sedang menantimu." Ia tersenyum, namun sorot matanya menyiratkan kekhawatiran akan perjalanan berbahaya ini.
Sesaat kemudian, Batara Guru memberikan instruksi, "Lattu, pastikan semua awak kapal siap. Misi ini bukan hanya untuk dirimu, tapi untuk masa depan kerajaan." Tugas itu terasa berat, dan Batara Lattu mengangguk, "Aku akan melaksanakannya demi kehormatan."
Saat pelayaran dimulai, Batara Lattu merasakan desakan angin, yang terasa seolah mengikuti langkahnya. Di laut yang tenang, pikiran Batara Lattu melayang-layang, membayangkan bagaimana rupa putri Tompotikka. "Bagaimana kalau wajahnya tidak sesuai harapan?" pikirnya, jantungnya berdegup keras.
Di istana Tompotikka, We Datuk Sengeng dan We Adiluhu terkurung dalam kesedihan. "Tak akan selamanya kita terjebak di sini," bisik We Datuk Sengeng. Ia menatap keluar jendela, berharap untuk melihat perahu yang akan membawa mereka jauh dari segala ketakutan. "Aku bermimpi tentang pangeran, yang akan datang menyelamatkan kita," ungkapnya penuh harapan.
"Seharusnya kita percaya pada mimpimu. Siapa tahu itu adalah tanda dari pembebasan kita," kata We Adiluhu, berusaha menghibur. Mereka berdua menghela napas, berharap mimpi indah itu menjadi kenyataan. Malam itu, keduanya melarikan diri ke pantai, mencuri kesempatan dari penjagaan. "Kita tidak bisa terus bersembunyi," ujar We Adiluhu dengan tegas.
Dalam keheningan malam, We Datuk Sengeng melihat langit. "Jika pangeran itu nyata, apakah dia akan membawaku pergi?" tanyanya pada bintang-bintang. Dengan kerinduan mendalam, ia mendapati dirinya terjebak dalam rindu akan kebebasan.
Sementara itu, Batara Lattu mulai merasa semangatnya terbangun. "Aku harus membuktikan bahwa ini bukan hanya tentang putri, tetapi tentang harapan untuk seluruh kerajaan." Ia berjanji dalam hati, terbayang wajah ibunya dan nasib putri yang menanti. "Selamat tinggal, Ale Luwu. Aku akan kembali dengan bintang kejora di tanganku," katanya sambil menatap cakrawala.
Kedua dunia ini, terpisah oleh lautan, bergetar akan harapan dan keraguan masing-masing. Apakah mimpinya akan terwujud, dan apakah Batara Lattu akan menemukan mencintai lebih dari sekadar sekadar tugas? Dengan penuh harapan, mereka bersiap menghadapi nasib yang tak terduga.