Episode 032: Batara Lattu Dan Mimpi Yang Terkabul
Perahu Tanete Manurung melaju dengan megah di atas lautan tenang, diiringi ratusan perahu kecil lainnya. Batara Lattu duduk di haluan, matanya memperhatikan para awak kapalnya yang sibuk, memberikan semangat kepada mereka. "Dapatkah kita melihat daratan segera?" tanyanya, suaranya tegas namun penuh harap.
"Sabar, Adinda! Kita akan segera sampai di kerajaan Pujananti," jawab La Togeq Langi' dengan nada meyakinkan. "Kerajaan ini masih di bawah naungan Ale Luwu."
Tidak lama kemudian, pemandangan pulau terlihat di ufuk, karya Tuhan yang seolah menyambut kedatangan mereka. "Tampaknya, daratan sudah terlihat," seru Batara Lattu, senyumnya merekah. Namun, tawaran untuk singgah di Pujananti ditolak dengan halus. "Kami harus segera menuju Tompotikka," jelasnya, "waktu adalah hal yang berharga."
Setelah menikmati hidangan yang disajikan, mereka melanjutkan pelayaran, menjelajahi kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Selama tiga bulan, mereka merasakan perjalanan yang tidak pernah terputus, meski selalu mengganti perahu.
Di Tompotikka, Wadi Luwu dan We Datuk Sengeng terbangun di pagi yang cerah. "Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi hari ini," ucap We Datuk Sengeng dengan semangat, memasang pakaian kebesaran mereka. "Kita harus bersiap-siap menghadap tamu penting."
"Adik, apakah mimpiku akan menjadi kenyataan?" tanya Wadi Luwu, melirik ke laut yang tak berujung. Melihat kapal-kapal kecil berlalu, ia mencoba membayangkan wajah sang pangeran.
Tiba-tiba We Datuk Sengeng berteriak, "Lihat! Perahu besar mendekat dari kejauhan!" Keduanya bergegas ke jendela, memandangi perahu emas raksasa yang mendekat. Meskipun kegirangan meliputi hati mereka, We Temmala mengingatkan untuk tidak terlalu berharap.
"Kita tidak tahu apa maksud kedatangan mereka," ujar We Temmala, berhati-hati. "Meski begitu, ada harapan dibalik kedatangan perahu ini."
Dalam istana sebelah, La Hendri Giling menerima laporan mengenai perahu emas besar tersebut. "Apakah ini tanda bahaya?" tanyanya pada bawahannya. Tatapan gelisah menyelimuti wajahnya. "Harusnya kita waspada."
"Saya rasa mereka mungkin tidak berniat jahat," jawab bawahannya, berusaha menenangkan. "Namun kita harus bersiap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi."
Kekhawatiran mulai memenuhi pikiran La Hendri, menyusun berbagai rencana untuk mengantisipasi kedatangan Batara Lattu. Ketegangan meliputi kerajaan ketika perahu Tanete Manurung mendekat. Apakah kedatangan ini membawa harapan atau kehancuran? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab di episode mendatang.