Episode 034: Batara Lattu Dan Cinta Pada Pandangan Pertamanya
Rombongan pasukan dari Ale Luwu telah tiba di depan Istana Tompotikka. La Pangoriseng mengamati kondisi istana yang megah, tetapi tampak kusam dan tak terurus. "Kita harus hati-hati dengan lantainya," ujarnya sambil memperhatikan setiap langkah. We Temmala yang mengawasi, tampak cemas.
"Haruskah kita melaporkan keadaan ini?" tanya La Hendri Giling.
"Biarkan kami memeriksa lebih dalam," jawab La Pangoriseng. "Mungkin ada yang tinggal."
Tiba-tiba, dua putri Tompotikka muncul, wajah mereka bersinar di antara debu dan kesunyian istana. "Siapa kalian?" tanya We Adiluhu, matanya menyala penasaran.
"Kami dari Ale Luwu, datang dengan misi damai," jawab La Pangoriseng. "Kami ingin menginap di sini dan merenovasi istana agar layak untuk dihuni."
"Sebisa mungkin, tapi kondisi di sini..." We Tenriabeng mengerutkan dahi, ragu.
"We Datu Sengeng, kita harus memperlakukan tamu dengan hormat," potong We Temmala, tegas.
Setelah perundingan, mereka sepakat. "Kami setuju, tapi jangan lupa untuk memperbaiki keadaan di sini," kata We Adiluhu menyetujui usulan itu.
La Pangoriseng kembali ke perahu Tanete Manurung, menyampaikan hasil pertemuan kepada Batara Lattu. "Mereka setuju, tapi kita harus segera bergerak," ujarnya.
Batara Lattu hanya mengangguk, namun pikirannya terfokus pada kecantikan kedua putri. "Aku ingin bertemu mereka," ia menggumam.
"Bagaimana kalau kita menyamar?" usul La Pangoriseng. "Kita bisa berpura-pura menjadi pekerja renovasi."
"Kedengarannya baik. Yuk, kita ubah pakaian," sahut La Hendri Giling.
Ketiga lelaki itu berpakaian seperti pasukan Ale Luwu, menutupi wajah dan kepala. Ketika mereka tiba kembali di istana, Batara Lattu menyapu setiap sudut dengan matanya, mencari kedua putri.
Tak lama, matanya mengarah ke We Adiluhu dan We Tenriabeng. Betapa menawannya! Ketika melihat mereka, hatinya berdebar.
"Sungguh, tak ada yang lebih indah," ucap Batara Lattu, terpesona. Namun, rasa malu tiba-tiba menghantamnya. "Aku harus pergi," ia berlari kembali ke perahu.
"We Pangoriseng, apa yang terjadi dengannya?" tanya La Hendri Giling dengan heran.
"Dia pasti terpesona. Kita mesti cepat menyelesaikan rencana ini," jawab La Pangoriseng.
Sesampainya di perahu, Batara Lattu berbaring, mengeluh karena merasa demam. "Kau harus segera melamar salah satu dari mereka!" desak La Hendri Giling, sambil tertawa.
La Pangoriseng menatap Batara Lattu dengan serius, "Ayo kita rencanakan pertemuan besok."
"Semoga mereka mau menerimanya," ucap Batara Lattu, meski hatinya masih bergetar oleh perasaan baru.