Episode 035: Lamaran Batara Lattu Yang Ditolak

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
solemn
Themes
honor, tradition, unrequited love, political alliance
Plot Summary
Batara Lattu and his entourage journey to Istana Tompotikka to propose marriage to one of the princesses, hoping to forge an alliance. Upon arrival, they announce their intention, surprising the princesses. Batara Lattu specifically declares his desire to marry We Datu, but the guardian, We Temmala, explains a tradition preventing the eldest princess from marrying first and that a decision cannot be made immediately. Batara Lattu leaves disappointed but still hopeful, while an unseen threat from Singking Wero is hinted at.

Episode 035: Lamaran Batara Lattu Yang Ditolak

Batara Lattu dan rombongannya bergegas menuju Istana Tompotikka. Dalam perjalanan, La Pangoriseng berkata, "Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan. Lamaran ini adalah langkah besar."

La Togeq Langi' menambahkan, "Kita lihat saja bagaimana reaksi putri-putri itu. Mari fokus pada tujuan kita."

Sampai di istana, mereka disambut oleh We Temmala, yang tampak terkejut melihat kedatangan mereka. "Kehormatan apa yang membawa kalian kembali ke sini?" tanyanya, sambil mengamati pakaian mereka yang megah. "Kami datang untuk melamar salah satu dari putri kerajaan ini," jawab La Pangoriseng.

Mendengar hal itu, kedua putri, We Adiluhu dan We Datu, saling bertukar pandang dengan rasa malu. "Apa? Begitu cepat?" We Adiluhu terhenyak, merasakan ketegangan di udara.

"La Pangoriseng, sampaikan maksud kami!" seru Batara Lattu dengan penuh percaya diri. "Semua ini untuk kehormatan kami dan kebesaran Ale Luwu."

We Temmala terdiam, merenungkan situasi yang tidak terduga ini. "Mungkin yang memiliki wewenang untuk menentukan adalah Raja dan Ratu. Namun, sayangnya, mereka telah tiada," ujarnya perlahan.

La Pangoriseng menjelaskan, "Sebelum mereka meninggalkan kami, ada pesan untuk menjaga kesetaraan antara putri-putri ini. Putri yang tertua tidak boleh menikah lebih dahulu."

We Datu mendengarkan dengan cermat, hati berdebar. "Jadi, kalian benar-benar bermaksud mengajukan lamaran?" tanyanya, suaranya bergetar.

Batara Lattu menatap kedua putri dengan rasa penuh harap. "Kedatanganku ke sini sudah jelas. Aku ingin melamar We Datu untuk menjadi permaisuriku," kata Batara Lattu.

Mendengar pengakuan itu, suasana dalam ruangan menjadi tegang. We Datu, tampak bingung, "Aku perlu waktu untuk mempertimbangkan."

La Pangoriseng menambahkan, "Kami datang dengan niat baik. Semoga kerjasama antara Tompotikka dan Ale Luwu terjalin demi kedamaian."

Ketika mereka beranjak untuk menjalani makan siang, suasana hati Batara Lattu terasa berat. "Apa yang akan mereka putuskan?" bisiknya kepada La Togeq Langi'.

Setelah makan, We Temmala menghampiri mereka. "Terima kasih atas kesabaran kalian. Namun, jawabannya belum bisa disampaikan. Kami butuh waktu," paparnya.

Batara Lattu tampak kecewa tetapi berusaha memahami. "Baiklah, kami akan menunggu."

Dengan kepala penuh harapan dan ketidakpastian, mereka melangkah keluar istana. "Kita harus tetap tenang dan menunggu," fikir Batara Lattu, tertarik pada keindahan We Datu meski rasa hatinya terombang-ambing oleh penolakan itu.

Ketegangan menyelimuti setiap langkah mereka, sementara di tempat lain, rencana dari Singking Wero semakin mendekat. "Apa yang akan terjadi selanjutnya?" bisik We Temmala pada dirinya sendiri.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Lattu (protagonist) La Pangoriseng (supporting) La Togeq Langi' (supporting) We Temmala (supporting) We Adiluhu (minor) We Datu (supporting)