Episode 036: Batara Lattu Kepada We Datu Sengeng
We Datu Sengeng terdiam, terkejut dengan lamaran Batara Lattu yang baru saja ditolak. "Siapa yang berani menolak putra mahkota? Ini bisa menjadi bencana bagi Tompotikka," gumam We Adiluhu, khawatir.
La Pangoriseng menambahkan, "Saatnya kita menghadapi Batara Lattu dan memastikan komitmennya terhadap We Datu."
Mendengar hal itu, We Adiluhu segera menuju Batara Lattu. "Kau harus bersumpah untuk mencintainya, tanpa menyakiti hatinya," tegasnya. "Kalau memang cinta, buatlah aku percaya."
Batara Lattu mengangguk, mengambil pisau kecil dari sabuknya, dan mengiris jarinya. "Aku berani bersumpah dengan darahku," serunya penuh tekad. "Tunjukkan ini kepada We Datu, semoga ia percaya."
We Temmala segera mengambil darah Batara Lattu dan mengantarkannya kepada We Datu. "Cinta sejati tidak bisa dipermainkan," katanya.
We Datu Sengeng tidak ragu lagi. "Baiklah, jika kau memang tulus, aku akan mengiris jariku juga," katanya dengan berani, menunjukkan kesetaraan.
Setelah dua tetesan darah putih seperti susu terjatuh, Batara Lattu menghela napas lega. "Ini adalah bukti bahwa kita sederajat," ujarnya.
"Maka, katakan kepada semua penghuni langit, bumi, dan pertiwi bahwa aku, Batara Lattu, siap untuk mencintaimu selamanya," seru We Datu.
Semua yang hadir merasakan perubahan dalam tensi ruangan. Senyum manis menghias wajah We Datu. Tidak ada lagi keraguan. "Aku menerima lamaranmu," ungkapnya tulus.
Batara Lattu bergegas kembali, mempersiapkan hadiah pernikahan untuk We Datu. "Sampai tak sabar menunggu hari bahagia kita," pikirnya penuh semangat.
We Adiluhu tersenyum, merangkul adiknya. "Semoga orang tua kita melihat kita, bahagia di sana," ucapnya, menghapus air mata haru di pipinya.
Kematangan cinta Batara Lattu dan We Datu Sengeng akan segera terbukti. Keduanya pun siap merayakan pernikahan yang telah ditunggu-tunggu. Keesokan harinya, sebuah pesta besar akan digelar, menandai awal sebuah perjalanan baru yang penuh harapan.