Episode 039: Batara Lattu Dan Kekesalan We Nyiliq Timo

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
hopeful
Themes
grief and recovery, family reunion, leadership and responsibility, belonging and acceptance
Plot Summary
After restoring order to the kingdom of Sinking Wero following the death of its monarchs, Batara Lattu decides to return to his homeland, Ale Luwu, with We Datu Sengeng. The sea journey is filled with longing, but upon arrival, We Datu Sengeng is distraught when only concubines greet them, not her husband, Batara Guru. Batara Lattu reassures her, and soon Batara Guru and We Nyili' Timo arrive, warmly embracing them and welcoming We Datu Sengeng into the family, resolving her sadness. The family celebrates their reunion, looking forward to a new life together.

Episode 039: Batara Lattu Dan Kekesalan We Nyiliq Timo

Tiga bulan telah berlalu sejak wafatnya raja dan ratu dari kerajaan Sinking Wero. Kerajaan itu kini terpuruk, kehilangan kekuatannya dan tak lagi menguasai Tompotikka. Batara Lattu, setelah memimpin pemulihan, berkumpul dengan para pembesar Tompotikka. "Kita harus segera menyusun rencana untuk membangun kembali stabilitas kerajaan," kata Batara Lattu, suaranya tegas.

We Datu Sengeng, melihat pemulihan yang begitu cepat, menjawab, "Aku percaya dengan kerja keras kita, Tompotikka akan kembali berjaya."

Sementara itu, Batara Ratu mengenang momen indah bersama kedua orang tuanya. "Sudah saatnya kita merenovasi makam mereka. Mereka layak mendapatkan penghormatan." Usul Batara Lattu.

"Betul," sahut We Nyili' Timo. "Mereka adalah fondasi bagi kita. Kita harus menghormati keturunan yang telah berjuang."

Setelah pembagian wilayah kekuasaan antara Wadi Luwu dan We Datu Sengeng, Batara Lattu memutuskan untuk kembali ke Ale Luwu. Dalam perjalanan, Batara Lattu meminta agar semua awak kapal berjuang lebih keras. "Kami harus segera pulang. Rindu ini tak tertahankan."

"Kapten, kami sudah berusaha sekuat tenaga!" balas seorang pendayung. "Kami akan tiba di Ale Luwu secepatnya!"

Saat mendekati tepi pantai Ale Luwu, kegembiraan terbayang di wajah Batara Lattu. "Akhirnya, kampung halaman kita!" serunya penuh harap. Namun saat mereka tiba, penyambutan yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi We Datu Sengeng. Ia mencari sosok suaminya, tetapi yang menyambut hanyalah para selir Batara Guru.

"Apa ini? Seharusnya Batara Guru yang menyambut kita!" protes We Datu Sengeng, air matanya menetes.

Batara Lattu mencoba menenangkan, "Jangan khawatir, kita akan melihatnya segera."

Tak lama, Batara Guru dan We Nyili' Timo datang menyambut. "Kami sangat merindukanmu, Lattu!" kata Batara Guru sambil memeluk anaknya.

We Nyili' Timo, dengan bahagia merangkul We Datu Sengeng, "Kau kini bagian dari keluarga kami."

Kekesalan We Datu Sengeng mulai memudar. "Terima kasih, Ibu. Aku siap menjalani hidup baru di Ale Luwu," ujarnya, menatap harapan baru di matanya.

Saat mereka beriringan menuju istana, Batara Lattu merasakan bahwa segala rindu dan kesulitan yang telah dilalui kini terbayar. "Dengan kalian di sisiku, aku siap menghadapi semua tantangan," ujarnya, suara penuh optimisme.

Hari itu, mereka merayakan kebersamaan yang telah lama terpisah, ditandai dengan upacara penyambutan yang megah.

Tokoh dalam Episode Ini

Batara Lattu (protagonist) We Datu Sengeng (supporting) We Nyili' Timo (supporting) Batara Guru (supporting) The Pendayung (minor)