Episode 040: Tunas Kembar Sawerigading Dan We Tenriabeng
Setahun telah berlalu sejak kepulangan Batara Ratu dari Tompotikka. Kini, Batara Lattu hidup bahagia bersama dengan We Datu Sengeng. Di balik senyuman, Batara Lattu menyimpan kerinduan yang mendalam terhadap Tompotikka serta kakak kandungnya, Sawerigading.
"Apakah kau tidak merindukan Tompotikka?" tanya We Datu Sengeng, melihat gelisah di mata suaminya.
"Rindu, tentu saja," jawab Batara Lattu dengan nada lembut. "Tapi kita di sini, dan kita harus menjaga satu sama lain."
We Datu Sengeng mengingat harapan untuk segera mengandung anak, namun masa itu belum juga tiba. "Aku seharusnya sudah mengandung," keluhnya, berusaha tegar.
"Kita harus bersabar. Patoto'e akan memberikan rezeki pada waktunya," sahut Batara Lattu, berusaha menenangkan.
Di tengah kesedihan itu, We Datu Sengeng bermimpi aneh. Dalam mimpinya, dia berada di tengah lautan dan menemukan bakul berisi telur. Saat telur menetas, lahir dua anak ayam, satu jantan dan satu betina. Si jantan terbang ke Ale Cina, sementara betina menuju kerajaan langit. "Mimpiku mungkin berarti ada sesuatu yang akan datang," katanya saat terbangun.
"Iya, mungkin ini adalah pertanda baik," respons Batara Lattu, langsung membawanya untuk berdoa kepada Patoto'e.
Setelah berdoa, mereka pergi menemui Batara Guru. "Ayah, mimpi We Datu tentang telur mungkin ada maknanya," kata Batara Lattu.
Batara Guru menjawab, "Mimpi itu adalah kabar baik. Patoto'e mengabarkan bahwa kalian akan segera memiliki keturunan kembar."
We Datu Sengeng tak bisa menahan air mata bahagianya. "Tapi, ayah, apa mereka akan jauh dari kita?" tanyanya, harap-harap cemas.
"Anak laki-lakimu akan mengembara ke Ale Cina, dan perempuanmu menuju kerajaan langit. Namun jangan khawatir, mereka tetap akan pulang," ujar Batara Guru.
Batara Guru kemudian bersiap kembali ke kerajaan langit untuk meminta izin Patoto'e. Ketika tiba, para pengawal menghalanginya, tetapi ia dengan tegas memperkenalkan diri. "Aku adalah putra Datu Patoto'e! Izinkan aku masuk!"
Dengan kedatangan Batara Guru, Datu Patoto'e tengah menunggu sambil tersenyum. "Anakku, mimpi mengisyaratkan bahwa kamu sudah siap untuk mendapatkan tunas," ujar Patoto'e.
"Namun," lanjut Patoto'e, "jika tunas tersebut lahir di bulan keramat ini, keduanya akan saling jatuh cinta. Aku sarankan agar mereka dipisahkan saat lahir."
"Tidak! Kami ingin mereka lahir sekarang!" seru Batara Guru penuh penekanan.
"Baiklah," sahut Patoto'e, "namai mereka Sawerigading untuk yang jantan dan We Tenriabeng untuk yang betina."
Pulanglah Batara Guru ke Ale Luwu, membawa kabar bahagia itu. "Kita akan segera menyambut mereka!" teriaknya, disambut sorak gembira oleh seluruh penghuni istana.
Kini, harapan baru kembali menyebar di Ale Luwu, dan Batara Guru merasakan tugasnya di bumi perlahan-lahan mendekati akhir.