Episode 041: Sawerigading Dan Kepergian Batara Guru
Hari-hari berlalu dalam ketegangan di istana Ale Luwu. We Datu Sengeng, yang telah memasuki bulan ketujuh kehamilannya, merasakan kontraksi yang semakin mendalam. "Batara, aku merasa sudah dekat," ucapnya sambil menggenggam tangan Batara Lattu.
"Aku tahu, cintaku. Kita harus bersiap-siap," balas Batara Lattu, wajahnya kencang penuh harap.
Setelah menyiapkan upacara penyambutan, Batara Guru memanggil para bisu. "Persiapkan ritual, kita harus menarik berkah dari langit untuk kelahiran ini!" perintahnya.
We Nyili' Timo menguatkan, "Kita harus berdoa, satu bulan penuh bersabar demi anak kami."
Waktu berlalu dan We Datu Sengeng terpaksa merasakan sakit yang tak tertahankan. "Kenapa ini bisa terjadi?" ia merintih, air mata mengalir. "Apakah aku tidak layak melahirkan?"
Batara Guru, gelisah melihat menantunya, berujar, "Ini semua mungkin akibat dari ketidaksabaranku memohon berkah dari Patoto'e."
"Berdoalah, Batara! Kita harus yakin," ucap We Nyili' Timo, menekankan harapan meski dalam ketidakpastian.
Dua bulan berlalu, We Datu Sengeng masih berjuang. "Saya berharap tidak ada yang salah," bisik Batara Lattu, tertekan dengan kondisi istrinya.
Pada saat itu, Batara Guru menyadari cobaannya sebenarnya adalah pelajaran berharga. "Kesabaran adalah kuncinya, tidak ada lagi ketidakpuasan! Semua ini karena kecemburuanku," ucapnya, menyesal.
Seiring batin yang berkecamuk, suara guntur mengguncang atmosfer. "Kami mohon, izinkanlah kami," seru Batara Guru dan We Nyili' Timo berdoa bersama, tanpanya menyadari bahwa dua jiwa telah hilang.
Cahaya tiba-tiba memudar, dan saat itu juga, Batara Lattu merasakan kesedihan yang mendalam. "Apa yang terjadi pada orang tuaku?" tanyanya dalam hati, tak tahu jawabannya.
Di saat paling gelap, We Datu Sengeng merasakan dorongan untuk melahirkan. "Ini dia!" pekiknya seiring rasa sakit memuncak.
Ketika bayi pertama lahir, para bisu bersorak. "Ini laki-laki!" teriak mereka. Namun saat anak kedua lahir, tangis gembira berubah menjadi duka, "Batara Guru dan Weni Nyili' Timo telah pergi!"
Batara Lattu yang masih menginginkan kebersamaan dengan kedua orang tuanya, meneteskan air mata. "Kenapa kalian pergi? Tinggalkan kami dalam keadaan ini?" teriaknya, meratapi kepergian mereka.
Kedua bayi, yang kini terlahir sebagai pewaris Ale Luwu, diliputi rasa duka yang mendalam oleh semua penghuni istana. Tarian sukacita berubah menjadi ritual berduka.
"Lanjutkan tarian, tetapi ingat, kita juga merayakan kehilangan," kata Bacang Matoa, seraya menunduk dalam hiba.
Semua mengerti, momen ini adalah paradox, antara joy dan sorrow, di mana harapan baru ada, namun disertai dengan kehilangan yang menyakitkan.
"Nasib Ale Luwu tergantung kepada kita," ucap Batara Lattu, membuang air mata. "Mari kita jaga warisan yang ada," ungkapnya, dengan tekad yang membara di hatinya.
Dan saat kegelapan kembali meliputi ruangan, semua mengetahui satu hal: setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru.