Episode 047: Sengit Dan Bantuan Dari We Tenriabeng
Sawerigading berdiri tegak di dek kapal Walen Renge, memandang ke depan. "Kita harus lebih waspada! Musuh baru muncul di hadapan kita!" serunya dengan tegas. Di kejauhan, tampak armada yang antara lain dipimpin Latupuk Solo bersiap melawan mereka.
"Latupuk Solo? Dia sangat berbahaya!" jawab La Mappanganro, wajahnya gelisah. "Kami harus menghindari mereka."
Namun, Sawerigading menggelengkan kepala. "Tidak! Kita tidak akan mundur lagi. Kita telah melawan berkali-kali. Mari kita kalahkan mereka!"
Latupuk Solo menyerbu dengan ganas, mengarahkan senjata tajamnya ke arah kapal mereka. "Ayo, terjang mereka!" teriaknya, mengobarkan semangat para bawahannya.
Perang pun tak terhindarkan. Bentrokan terdengar memekakkan telinga. La Mappanganro menghadapi salah satu prajurit musuh. "Bersama kita bisa mengalahkan mereka!" teriaknya, memotivasi para awak kapal.
Lima hari berlalu dengan bertumpahnya darah. Di puncak pertempuran, Latupuk Solo berhasil membunuh salah satu bangsawan dari rombongan Sawerigading. Kejadian ini memantik kemarahan. "Ini tidak bisa dibiarkan!" seru La Togeq Langi'.
Baru saja kekecewaan itu muncul, Lama Sagu turun tangan, tak mau ketinggalan. "Akhirnya saatnya aku balas!" serunya, menghadapi Latupuk Solo.
Pertarungan antara mereka berlangsung sengit, di mana Lama Sagu pada akhirnya berhasil mengalahkan Latupuk Solo. Ketika para bawahannya melihat bos mereka terpuruk, satu per satu menyerah. "Kami tidak akan melawan lagi," ucap salah satu dari mereka, ketakutan.
Tak lama setelah kemenangan yang pertama, musuh baru kembali muncul, Latupuk Gelang. "Siapkan semuanya! Kita tidak boleh mundur!" teriak Sawerigading, mencoba membangkitkan semangat krunya.
Perang kembali terjadi, ditandai keberanian Lama Sagu yang melompat ke perahu musuh. "Aku akan menghadapi mereka sendiri!" teriaknya. Sekali lagi, keberaniannya membuahkan hasil. Ia mengalahkan Latupuk Gelang, dan pasukan musuh menyerah.
"Terima kasih atas keberanianmu, Lama Sagu," kata Sawerigading, bangga. Namun waktu tidak berpihak kepada mereka. Lagi-lagi, tantangan menghadang, panglima besar asal Malaka muncul. "Satu lagi musuh harus kita hadapi," ucapnya.
Dengan kelelahan yang semakin menumpuk, Sawerigading berdoa agar bala bantuan datang. Untuk menghujamkan keharapan, ia bersyukur ketika Rembang dari langit tiba dengan pasukan tambahan. "Akhirnya, kita memiliki kekuatan lebih!" serunya, semangat kembali tumbuh.
Saat pasukan kerajaan langit bergabung, mereka bergerak cepat, membantai musuh satu per satu. "Mari kita selesaikan ini!" seru Sawerigading, memimpin pasukan menuju kemenangan.
Setelah pertempuran epik, Sawerigading mengucapkan terima kasih kepada Rembang. "Keberanianmu sangat berarti, kakak ipar. Aku sangat berterima kasih."
"Aku datang untuk mendukungmu, Sawerigading. Jangan lupa tentang We Tenriabeng," Rembang menjawab sambil tersenyum.
Dengan rasa kerinduan dan harapan, Sawerigading memutuskan untuk memberikan ikat pinggang emas kepada We Tenriabeng untuk menunjukkan rasa cintanya. "Ini akan menjadi simbol harapanku padanya," bisiknya dengan penuh emosi.
"Semoga perjalanan kita ke Ale Cina berjalan mulus," katanya, menatap laut yang tenang. "Ayo, terus berlayar!"
Kru kapal menggelar layar, dan Walen Renge melaju penuh semangat ke arah yang dituju. "Menuju Ale Cina!" pekik Sawerigading, menguatkan tekad seluruh awak. Jalan menuju pertemuan takdir mereka semakin dekat.