Episode 052: Akhir Peperangan Dan Syarat Yang Tidak Masuk Akal
Suasana di Ale Cina semakin memanas saat pasukan Ale Luwu melancarkan serangan. Dengan semangat yang membara, Sawerigading berdiri di tengah medan tempur, suara pedang beradu menggema di udara. "Kita tidak akan mundur! Untuk kehormatan Ale Luwu!" teriaknya, mengangkat pedang ke langit.
Di sisi lain, We Cudai merasa terperangkap antara cintanya yang dalam dan tuntutan perang ini. "We Tenri, tidakkah kau tahu? Jika kita terus begini, akan ada lebih banyak korban!" serunya pada saudarinya, yang hanya terdiam menatap pertempuran dengan rasa cemas.
We Tenriabeng hanya bisa menggeleng. "Aku tidak bisa menikahi Sawerigading! Ia adalah pria kasar yang selalu mengikuti kata hatinya tanpa peduli konsekuensi!" jawabnya penuh emosi.
La Togeq Langi' muncul, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka. "Tapi, We Tenri, jika kita tidak bertindak cepat, semua ini bisa berakhir dengan bencana!" Ia menatap We Cudai dengan serius, "Kau harus berbicara dengan Sawerigading dan memberi tahu dia tentang kekecewaanmu."
"Dia tidak akan mengerti, La Togeq," We Cudai menjawab. "Kami tidak memiliki sejengkal pun kesamaan. Dia mungkin memenangkan peperangan, tetapi cinta tidak bisa dipaksakan."
Sementara itu, Sawerigading mendekati istana setelah menembus barikade terakhir. "Aku tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk melamar We Tenri!" teriaknya, suaranya menggema di sekeliling. "Biarkan aku bicara dengan pemimpinmu!"
La Panangareng, sebagai juru bicara Ale Cina, turun dari istana dan menghadapi Sawerigading. "Kami mendengarmu, tetapi lamaranmu tidak akan diterima jika peperangan ini terus berlanjut!"
"Saya siap untuk melakukan apa pun, bahkan mengorbankan diri demi cinta!" Sawerigading menjawab dengan berapi-api.
Tak lama kemudian, We Tenriabeng muncul di jendela, mendengar semua ucapan itu. "Jika lamaran itu tulus, aku akan memberikan satu syarat yang tidak masuk akal bagi siapapun!"
Semua mata tertuju pada We Tenri. "Kau hanya bisa datang ke sini pada malam hari, tanpa ada perayaan, dan tidak boleh berlama-lama!" Ia melanjutkan, "Setiap langkahmu harus penuh ketentuan yang aneh - seperti tidak menyentuh dinding rumahku dan tidur dalam tujuh lapisan kelambu!"
Sontak suasana menjadi hening, semua merenungkan permintaan itu. Sawerigading hanya tersenyum. "Kau pikir syarat itu bisa menghalangiku? Bahkan, aku melihat ini sebagai tantangan. Kalau itu yang kau mau, aku terima!"
Para pasukan di belakang Sawerigading bersorak, semangat mereka kembali menyala. Jika ada harapan untuk berakhir dengan damai, semua akan dilakukan demi cinta.
Tantangan itu kini menjadi lebih daripada sekadar pernikahan; ini adalah perjalanan untuk menembus batasan yang ada, satu langkah demi satu langkah menuju hati We Tenriabeng. Hingga saat itu tiba, pertempuran akan berlanjut - tetapi harapan cinta membawa harapan yang baru.