Episode 060: Kerinduan Sang Ibu Dan Kembalinya I La Galigo
Sawerigading masih merayakan suasana bahagia setelah upacara selesai, saat suara tepuk tangan dan teriakan ceria mengisi Istana Malimongan. "La Galigo, kembalilah! Tunjukkan tarianmu yang luar biasa itu!" sorak para bangsawan dengan gemuruh.
"Baik, Ayah! Lihatlah mustika ini," seru La Galigo, berkilauan dengan mustika keemasan yang diberikan oleh Datu Patoto'e. Mustika itu bersinar menawan, berganti bentuk dari kain sutra menjadi pelangi, memukau semua yang hadir. "Aku akan menari untuk semua orang!" Ia melompat, menggerakkan tubuhnya dengan semangat.
"Indah sekali, Galigo!" seru We Cudai dari sisi, tak dapat menahan senyumnya sendiri. Namun, percuma karena berbading terbalik dengan rasa sepinya. Ia hanya menyaksikan keceriaan di sekelilingnya.
Salah satu pelayan yang diperintahkan oleh We Cudai akhirnya tiba di sana, namun terpesona oleh pertunjukan, ia batal menegur. "Bagaimana aku bisa menghentikan kesenangan ini?" batinnya, terdiam di tempat.
Setelah pertunjukan berakhir, Sawerigading mencari We Cudai di dalam istana. "Apakah kau tidak menikmati pertunjukan itu?" tanyanya dengan lembut.
We Cudai menggeleng, matanya menatap ke bawah. "Apa yang bisa ku nikmati dalam kesunyian ini? Sementara semua orang bersenang-senang, aku hanya merasa hampa."
"Saya tahu ini berat, namun kita harus mengingat bahwa semua ini untuk masa depan La Galigo," jawab Sawerigading.
"Kadang aku merasa, apakah aku hanya beban bagimu?" tanyanya dengan nada pilu. "Tak pernah ku beritahu, namun hatiku juga merindukanmu."
Mendengar itu, Sawerigading terdiam. Ia menyadari betapa dalam hubungan mereka menyimpan kerumitan. "Mendengar rindu itu dari mulutmu, sangat berarti. Namun, kita harus bertahan demi Galigo."
"Benar. Saat ia tumbuh, semakin nyata betapa besarnya harapan kita padanya," We Cudai memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh. Mereka ditemani oleh pelayan, yang melihat sepasang suami istri itu, memahami kerinduan yang begitu dalam.
Malam itu di Istana Malimongan, pesta meriah berkepanjangan, suara tawa menghangatkan suasana. Lagu-lagu riang dan tarian perdamaian, kerinduan We Cudai menjadi latar belakang hebat.
Tak jauh dari situ, di dalam kamarnya, We Tenriabeng merasakan kesepian. "La Galigo, apakah kau tahu betapa ku merindukanmu?" gerutunya, merasa terasing dalam keramaian. Namun, guliran perutnya menjelaskannya akan semangat menunggu.
Sebuah suara memanggilnya dari luar. "We Tenri, apakah kau ingin ikut merayakan?" tanya We Nyili' Timo, menggenggam harapan.
"Toh, aku tidak pantas berada di tempat bahagia itu," jawab We Tenri, sedikit ragu.
"Jangan khawatir! Kita semua mendukungmu," We Nyili' Timo memohon, meyakinkannya. Akhirnya, kedua sahabat itu pun menuju ke tengah keceriaan, berbagi sedikit duka mereka.
Di tempat lain, rencana untuk mengadakan perlombaan sabung ayam digulirkan. "Itu ide yang brilian!" sahut Datu Patoto'e dengan senyum lebar. "La Galigo pasti akan sangat antusias!"
"Begitu banyak ruang untuk berkumpul!" jawab We Nyili' Timo, tak sabar lebih jauh untuk melihat Ribuan jubel warga berkumpul.
Sebagai malam berlanjut, harapan akan pertemuan kembali semakin menguat, dan kerinduan di antara mereka berujung kepada keputusan untuk bersama lagi demi masa depan.