Episode 061: Kenyataan Pahit Yang Menggetarkan Hati I La Galigo
Di Istana Malimongan, suasana semakin menggembirakan seiring dengan persiapan acara sabung ayam yang besar. Datu Patoto'e mengumumkan, "Setelah lama kita tidak menggelar perayaan, kini saatnya kita bersatu! Kegiatan ini akan membawa keceriaan bagi semua!"
We Tenriabeng tertegun mendengar itu. "Apa benar kita akan merayakan sesuatu yang besar seperti ini? Aku berharap galigo bisa ikut serta."
"Di sini, kita semua berharap dan berdoa untuk kembalinya senyuman anak-anak kita," jawab Sawerigading sambil membayangkan wajah ceria La Galigo.
Dalam perjalanan menuju Istana Ale Cina, We Nyili' Timo merasa ragu. "Setumpugi, bagaimana jika La Galigo menjadi sasaran ejekan? Kita tanpa memikirkan dampaknya."
Setumpugi mengangguk, "Kami semua ingin yang terbaik untuknya, tetapi kita tidak bisa menutupinya selamanya."
Tak jauh dari sana, La Galigo, dengan rasa ingin tahunya, meminta izin kepada Lapangan Terang. "Paman, aku ingin pergi ke acara itu! Aku ingin melihat semua orang bersenang-senang!"
Lapangan Terang berusaha menahan, "Tetapi Ale Cina sangat jauh, dan banyak yang berbahaya di luar sana, Galigo!"
"Jangan khawatir, Paman! Aku ingin melihat ibuku!" suara La Galigo menggema, penuh keyakinan.
Mendengar itu, Lapangan Terang tertegun, merasakan berat tanggung jawab di pundaknya. "Baiklah, tetapi kau harus berjanji untuk menjaga diri."
Setelah beberapa saat, dalam perjalanan yang penuh ketegangan, La Galigo tersenyum penuh harapan. "Suatu saat nanti, aku akan menunjukkan kepada dunia siapa diriku dan akan mengubah segalanya."
Dengan semua keputusan yang diambil, suasana di Istana Ale Cina semakin mendekat. Namun, Sawerigading yang berusaha melindungi putranya dari kenyataan pahit perlu menemukan cara untuk menghadapi konfliknya sendiri.
Menjelang malam, meskipun penuh harapan, masih ada keraguan yang membayangi. "Apa yang akan terjadi jika Galigo mengetahui fakta tentang ibunya?" gumam Sawerigading dalam hati. Pandangannya kosong, teringat akan kisah kelam yang mengikat mereka semua.
"Demi masa depan, kita harus berani menghadapi kegelapan yang ada," sahut We Cudai di sampingnya, seolah membaca pikiran Sawerigading.
Akhirnya, kerinduan akan bagian dari masa lalu harus dihadapi. Keduanya, menatap ke depan dengan harapan dan ketakutan yang bercampur. "Mungkin ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk memulai yang baru," ujar Datu Patoto'e, menekankan harapannya.
Semua berkumpul, bersiap-siap untuk acara yang akan mengubah segalanya, di mana kebenaran akan terungkap dan hubungan antara mereka akan diuji seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.