Episode 062: Pembalasan Kejam La Galigo Kepada I We Cudai

Story DNA

Genre
folk tale
Tone
hopeful
Themes
reconciliation, parental love, justice vs. mercy, coming of age
Plot Summary
As Sawerigading's group journeys to Ale Cina, his son Galigo, unaware of his mother I We Cudai's presence, demonstrates a harsh sense of justice by magically binding innocent shepherds. Despite his father's disapproval, Galigo releases them, still believing in his actions. Upon arrival, Galigo's joyful participation in a cockfight is observed by a tearful I We Cudai, who recognizes her grown son, leading to a bittersweet reunion of sorts as past tensions linger amidst present happiness.

Episode 062: Pembalasan Kejam La Galigo Kepada I We Cudai

Di sebuah perjalanan menuju Ale Cina, suasana tegang melingkupi rombongan Sawerigading. "Sawerigading, bagaimana jika Galigo bertemu Iwa Judai?" tanya La Togeq Langi' dengan nada cemas. "Aku hanya berharap Galigo dapat memahami segalanya," jawab Sawerigading, kehilangan fokus.

We Cudai mengawasi dari kejauhan, hatinya berdebar, "Apa Galigo masih menganggapku ibu?" Ia mengingat semua kenangan pahit dan berharap tidak ada benih kebencian yang tertanam dalam diri anaknya.

Dalam perjalanan, Galigo yang penuh rasa ingin tahu bertanya kepada ayahnya, "Ayah, apa itu Ale Cina?" Sawerigading menjawab, "Tempat yang penuh cerita, Galigo. Siapkan dirimu."

Di tengah perjalanan, mereka melewati bukit tempat Galigo sering bermain. "Ayah, mari kita berhenti di sini!" pinta Galigo. Sawerigading yang melihat keteguhan putranya, akhirnya mengangguk, "Baiklah, kita berhenti sejenak."

Di bukit, Galigo memperhatikan sekelompok penggembala. "Hai, kalian! Pegang tangan satu sama lain!" perintah Galigo, tegas. Para penggembala bingung, namun akhirnya mengikuti perintahnya. Dengan segera, Galigo menggunakan kesaktiannya, membuat mereka terikat.

Melihat itu, Lapangan Terang berkomentar, "Galigo, tidakkah kau merasa ini terlalu berlebihan?" Namun, Galigo menjawab, "Ini hukum untuk mereka!" Kemarahan dan kesedihan tampak di wajah Sawerigading yang menyaksikan tindakan putranya.

Setelah beberapa saat, Galigo membawa para penggembala yang terikat itu menuju Ale Cina. Kerumunan warga yang melihat pun terheran, bertanya-tanya tentang anak yang berani melakukan hal itu.

"Saya tidak tahu kenapa kau berani melakukan ini," gumam Lapangan Terang kesal. "Mereka tidak bersalah, Galigo. Lepaskan mereka!" desak Sawerigading, meski hatinya berat melihat putranya terjerumus dalam kebencian.

Akhirnya, Galigo berdamai dan melepaskan mereka. "Cepat! Tinggalkan tempat ini!" teriaknya. Para penggembala melarikan diri tanpa menatap kembali, sementara Galigo tersenyum puas.

"Bagaimana, Ayah? Sudah kubuktikan mereka harus dihukum!" cetus Galigo. Tetapi Sawerigading, dengan berat hati, menjawab, "Kau harus belajar, Galigo. Ada cara lain untuk mengajarkan pelajaran."

Setibanya di Istana Ale Cina, mereka disambut meriah. Galigo tidak mempedulikan sambutan itu, melainkan langsung mendatangi gelanggang sabung ayam. "Ayamku siap!" teriaknya, bersemangat.

Sawerigading, meski merasa cemas, ikut serta. "Galigo, ingatlah siapa dirimu. Ini bukan tentang kemenangan semata!"

Ketika mereka menang, Galigo menari dengan gembira, mengajak penduduk Ale Cina bergabung. "Mari kita rayakan!", serunya ceria. Di sisi lain, We Cudai mendengar suara tawa itu lalu melongok dari jendela, hatinya berdebar.

"Anakku...," bisiknya, air mata bahagia meluncur. "Dia telah tumbuh menjadi anak yang luar biasa."

Namun, sorotan matanya beralih ke Sawerigading yang tertawa bersama Galigo. "Siapa dia?" tanyanya kepada We Tenriabeng. "Itu Sawerigading," jawab sahabatnya. Dalam tikungan waktu, perasaan campur aduk menyelimuti hati We Cudai, merindukan sosok kecilnya, namun sekarang telah tumbuh dewasa.

Di panggung, Galigo bersorak, "Kita semua menang!" Kegembiraan mengalir di antara warga dan lagu-lagu riang menggema, tetapi ketegangan masa lalu tetap membayangi hati We Cudai.

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) Sawerigading (supporting) I We Cudai (supporting) La Togeq Langi' (minor) Lapangan Terang (minor) We Tenriabeng (minor)