Episode 070: Duka Di Ale Luwu Dan Kebenaran Yang Baru Terungkap
Di pelabuhan Ale Luwu, suasana penuh harapan menyelimuti La Galigo dan rombongannya. Mereka kini sudah mengungkap identitas mereka. "Aku adalah La Galigo, putra Sawerigading," katanya penuh percaya diri. Wajah semua orang tampak terkejut, air mata mengalir dari pandangan haru.
Salah satu bangsawan bertanya, "Akankah kau tinggal di sini, untuk menghidupkan Ale Luwu kembali?" La Galigo menatap wajah-wajah penuh harapan itu, namun ia menggeleng. "Misi pertamaku adalah mengumpulkan peralatan penyembuhan bagi We Cudai."
"Jadi kau pergi lagi setelah ini?" tanya seorang pengurus dengan nada kecewa. "Kami berharap kau bisa menjadi pemimpin kami."
"Saya akan kembali," balas La Galigo tegas. "Tapi saat ini, saudariku memerlukan bantuan segera."
Di dalam istana, La Togeq Langi' memperhatikan kondisi bangunan yang tidak terawat. "Sejak Sawerigading pergi, segalanya terasa suram," ungkapnya. "Dapatkah kita mengubahnya?"
"Saya ingin memperbaiki gelanggang sabung ayam yang terbengkalai," usul La Galigo. "Kita perlu menghidupkan kembali semangat rakyat."
Sementara itu, saat mengamati keadaan, La Galigo melihat gelang sabung yang berdebu. "Ini dulunya meriah, banyak orang datang," ia bercakap sambil mengelus gelang yang sepi. "Biarkan aku menjadi jembatan untuk mengembalikan kehangatan itu."
Mendengar itu, salah satu bangsawan berkata, "Kami akan mengatur penyambutan. Biarkan semua orang tahu betapa pentingnya kembali hadirnya La Galigo di sini."
"Saya berjanji, saat babak baru dimulai, Ale Luwu akan kembali bersinar," La Galigo menegaskan dengan semangat yang membara.
Di Ale Cina, Sawerigading merasakan kerinduan. "La Galigo, kapan kamu akan kembali?" ucapnya penuh harap, memandang ke arah pelabuhan seolah menunggu kabar. "Setiap detik tanpa kamu membuatku semakin hampa."
Tak jauh darinya, We Tenriabeng melihat Sawerigading yang gelisah. "Kau misalnya melatih sabung ayam untuk mengalihkan perhatianmu," sarannya, namun Sawerigading hanya menggeleng.
"Jika hanya itu yang bisa kulakukan, aku memang tidak bisa melupakan apa yang terjadi."
Cerita di kedua belah pihak berlanjut, masing-masing berjuang dengan duka dan harapan, menunjukkan bagaimana satu keputusan di masa lalu dapat mengubah masa sekarang.