Episode 075: Kekecewaan Datu Patoto'e Dan Pernikahan Yang Tidak Diinginkan
Setelah upacara pemakaman toh ada Nacha, suasana di Ale Cina masih diliputi duka. Meskipun demikian, acara sabung ayam tetap digelar. La Galigo, meski sedang merasakan kesedihan mendalam, ambil bagian dengan antusias. "Hari ini harusnya menjadi perayaan! Mari kita lupakan kesedihan sejenak!" serunya, menggenggam pedang dengan semangat.
Namun, tidak ada yang mau menantang La Galigo. "Semua peserta lebih memilih pergi," keluh We Tenriabeng di sisi lapangan. "Suasana ini terlalu kelam."
Dari jauh, Pallawa Gau, yang datang jauh dari Kompot, merelakan dirinya untuk melawan La Galigo. Namun, sekali lagi ayam andalan Pallawa Gau kandas, membuat suasana semakin muram. La Galigo menggerutu, "Kenapa semua ini jadi membosankan? Aku butuh tantangan!"
Akhirnya, seorang petarung baru muncul: La Galigo Toraja Keling. "Aku menantangmu!" teriak Toraja Keling, membawa kepercayaan diri yang besar. Pertarungan berlangsung sengit, tetapi setelah beberapa saat, ayam milik La Galigo keluar sebagai pemenang. Namun, alih-alih merayakan, La Galigo melampiaskan kemarahan dengan membunuh ayam lawan. "Kau kalah, itu hakku!" teriaknya, tidak peduli dengan desakan para saksi.
Melihat tindakan brutal tersebut, We Cudai berkata sedih, "Apa yang kau lakukan, La Galigo? Ini bukan cara seorang pemimpin." Kekecewaan menyelimuti para pengunjung, dan mereka berangsur-angsur meninggalkan arena dalam keheningan. "Kita tidak merasa aman di sini," bisik salah satu prajurit saat beranjak pergi.
Di sisi lain, We White terkurung dalam pikirannya. "Mengapa aku merasa bimbang?" gumamnya, menatap jendela. "Aku bisu, mengapa harus menikahi manusia? Tapi aku juga terikat dengan rasa ini untuk La Galigo." Hatinya terancam terjebak dalam kebingungan.
Sementara itu, saat La Galigo kembali ke rumahnya, dia bergegas menemui Sawerigading. "Aku akan pergi ke Sabang Paruh untuk melamar We White!" serunya penuh semangat. Sawerigading tertegun. "Mengapa kau melakukan ini, Galigo? Ingatlah siapa dirimu! Ini bukan jalan yang sederhana."
"Aku adalah keturunan Dewa! Aku berhak mencintainya!" La Galigo menjawab, mengepalkan tangannya. "Hanya cinta yang bisa mengatasi semua ini!"
Sawerigading merasakan getaran emosi di dalam hatinya. Kenangan masa lalu terbayang jelas, saat ia berjuang untuk cinta terlarang. "Kau tidak paham risikonya!" tegur Sawerigading. "Kami berdua pernah melewati jalan ini, ingatkah kau?"
La Galigo tersentak, "Tapi aku tidak bisa menolak perasaanku!"
Kekhawatiran dan pertikaian batin melanda, membuat Sawerigading merasa berat untuk menghalangi langkah adiknya. "Semoga kau siap dengan konsekuensinya," gumamnya, saat La Galigo bergegas pergi. Dalam kebisuan, Sawerigading hanya bisa merenungkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berharap adiknya tidak mengulangi kesalahan yang sama.