Episode 080: Akhir Kisah Cinta We Tenriengka Dan Terpilihnya Raja Yang Baru
Suasana di istana Ale Cina sangat berat. Para dayang dan pelayan meratapi kepergian We White, air mata terus mengalir. Sawerigading, yang baru saja menerima berita duka, tidak bisa mendiamkan perasaannya. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa We White mendadak pergi?" tanyanya penuh kekhawatiran, menatap Las Lolipu dan Lavawe Narik yang terkesan cemas.
"Saya tidak tahu, tuanku. Kabar tentang kematiannya datang begitu mendalam," jawab Las Lolipu merendahkan suaranya, berusaha menenangkan suasana.
Di pelaminan, La Galigo menanti kehadiran We Tenriabeng dengan penuh harapan. "Cepatlah datang, We Tenriabeng," keluhnya dalam hati. Namun, waktu terus berlalu dan rasa marah menyelimuti pikirannya. "Mengapa semua ini terjadi di hari bahagia kami?!"
Dalam kesunyian, We Tenriabeng berjuang melawan kesedihan, merasakan hati yang terfragmentasi. "Kau takkan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan," katakan pada arwah Ila Paseweng, berharap bisa merasakan pelukan lembutnya sekali lagi.
Uniknya, saat upacara pernikahan berlangsung, hujan deras tiba-tiba turun. "Ini pasti ulah Patoto'e untuk menghentikanku!" teriak La Galigo, terperangah melihat langit yang tiba-tiba kelam. Hruc! Suara guruh menggema, membuat semua orang mundur ketakutan.
Sementara itu, Ila Paseweng, terbaring sakit di kerajaan Suluk, merasa tenang untuk sekadar berpikir. "Hidupku tak berarti tanpa cinta sejati," gumamnya, meresapi kehilangan yang sangat dalam. Dalam langkah kecilnya, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menemukan jalan baru melalui pernikahan yang direncanakan oleh ayahnya.
Dari jauh, Datu Patoto'e memperhatikan ketidakharmonisan yang terjadi. "La Galigo benar-benar tidak mengerti arti cinta dan kehilangan," dengusnya, marah akan tindakan putranya. "Dia perlu belajar!"
Seiring berjalannya waktu, La Galigo kembali bertanya-tanya. "Apa ini akhir dari semua harapan?" pikirnya. "Aku akan melupakan We Tenriabeng, meski hatiku terbelah." Namun bait-bait kenangan terus menggulung dalam pikirannya.
Sementara di kerajaan Pertiwi, arwah Ila Paseweng dan We White menemukan makna baru, berpelukan dalam kebahagiaan yang abadi. "Semua akan baik-baik saja di sini," kata Ila Paseweng. "Kita akan saling menjaga satu sama lain," jawab We White penuh harapan.
Ketika panggilan jati diri kembali datang, huru-hara pun menyelimuti bait-bait kehidupan yang tersisa. "Saatnya aku mengambil alih tahta," ucap La Galigo pada dirinya, pendekatan baru dalam hidupnya harus dimulai.
Dengan pengangkatan La Galigo sebagai raja, kisah cinta yang penuh luka ini akan segera menemukan penyelesaian. Semua mata tertuju kepadanya, menanti langkah selanjutnya dari pujian dan kutukan yang telah menjadi warisannya.