Episode 081: La Galigo Menjadi Raja Dan Perang Pertama Yang Menantinya

Story DNA

Genre
legend
Tone
hopeful
Themes
leadership, destiny, war, responsibility
Plot Summary
The kingdom of Ale Cina is without a leader, prompting its nobles to reluctantly appoint La Galigo as king, despite his initial desire for leisure. Meanwhile, King Ilingna Io of Sundari vows revenge and plans to attack Ale Cina. Upon learning of the threat, La Galigo, initially overconfident, decides to launch a preemptive strike. He mobilizes his kingdom, constructs a massive fleet, and sets sail with his army, leaving his people to pray for his victory in the impending war.

Episode 081: La Galigo Menjadi Raja Dan Perang Pertama Yang Menantinya

Hari-hari berlalu di Ale Cina, tahun berganti tanpa adanya pemimpin yang sah. Para pembesar istana mengumpulkan kekuatan untuk membahas masa depan kerajaan. Di tengah perdebatan tegang, Sawerigading bersuara, "Kita perlu pemimpin yang mampu menyatukan kita! La Galigo adalah jawaban untuk masalah ini."

"Iya, meskipun tampaknya kurang kompeten, dia bisa tumbuh menjadi pemimpin," tambah Datu Palinge' penuh harap. "Kedewasaannya mungkin akan muncul ketika diberikan amanah."

Di luar, La Galigo melamun sambil melihat hujan yang menerpa tanah. "Aku hanya ingin bersenang-senang," katanya pada dirinya sendiri, tetapi ada rasa gelisah di hati.

Dalam pertemuan tersebut, keputusan diambil. "Mari kita angkat La Galigo menjadi raja," seru We Nyili' Timo. "Kita akan memberinya kesempatan!"

Kabar pengangkatan La Galigo menyebar cepat. Rakyat bersorak, sementara Datu Patoto'e merasakan campur aduk dalam hatinya. "Apakah ini yang terbaik untuk mereka?" pikirnya, sambil melihat ke langit.

Namun, di kerajaan Sundari, Ilingna Io merencanakan balas dendam. "La Galigo tak akan menguasai kerajaan kami dengan mudah," bentaknya kepada bawahannya. "Kita akan serang Ale Cina dan buktikan bahwa kekuasaan tidak bisa diwariskan!"

"Jangan khawatir, Raja Ilingna Io," jawab bawahannya, bersiap. "Pasukan kita akan siap dalam waktu singkat."

Sementara itu, La Galigo hanya tertawa terbahak-bahak. "Apa mereka serius? Kita sudah kuat! Jika mereka berani menyerang, mereka akan merasakan akibatnya!" ia menjawab, mengambil gelas dengan percaya diri, lalu membantingnya ke tanah. "Seperti gelas ini, mereka akan hancur!"

Tak lama setelah itu, terlintas ide di benak La Galigo. "Bagaimana jika kita menyerang mereka lebih dulu? Kita tak bisa menunggu musuh datang!"

"Bagus, La Galigo! Kita perlu segera bersiap!" Sawerigading menimpali, bangkit penuh semangat. "Persiapkan armada kapal dan pasukan kita!"

Dalam waktu singkat, La Galigo mengerahkan semua upaya untuk mempersiapkan perang. Ia mengarahkan pembuat perahu di Gunung Latimojong untuk membuat kapal raksasa. "Pastikan semuanya sempurna! Kita ingin menunjukkan kekuatan Ale Cina!"

"Saya siap memimpin pasukan ini ke medan perang, Raja La Galigo!" seru La Mappanganro dengan semangat membara.

Begitu semua siap, La Galigo mengarak pasukannya ke pelabuhan, siap menuju peperangan. "Rakyat, berdoalah untuk kami! Kami akan membawa kemenangan kembali ke Ale Cina!" teriaknya, mengangkat pedangnya dengan penuh percaya diri.

Di tengah kekacauan ini, rakyat mematuhi perintah. Mereka mengenakan kain hitam sebagai lambang harapan dan duka. "La Galigo pasti akan pulang sebagai pemenang!" gema suara harapan dari setiap sudut kerajaan.

Dengan semangat membara, armada Ale Cina berlayar menuju takdir mereka. Bagaimana kelanjutan kisah ini? Apakah La Galigo akan berhasil dalam peperangan pertamanya? Kita akan lihat dalam episode berikutnya.

Tokoh dalam Episode Ini

La Galigo (protagonist) Sawerigading (supporting) Datu Palinge' (supporting) We Nyili' Timo (supporting) Datu Patoto'e (supporting) Ilingna Io (antagonist) La Mappanganro (supporting)