Episode 083: Puncak Peperangan Kedatangan Malaka Dan Ancaman Kekalahan La Galigo
Peperangan yang dinanti pun pecah dengan ganas di tengah lautan. La Galigo berdiri di atas kapal kecil, mendampingi tujuh puluh pengawalnya. "Kita tidak bisa mundur! Bersiaplah!" serunya, mengayunkan pedang dengan semangat membara.
Menyaksikan berbagai kerusuhan, Las Lolipu berteriak, "La Galigo, musuh semakin dekat! Kita harus mempertahankan garis belakang!" Dengan lihai, mereka menerobos barisan pasukan Sundari Aja, menciptakan celah untuk melarikan diri ke dermaga.
"Tetaplah dekat, jangan ada yang tertinggal!" La Galigo mengingatkan, namun ketegangan segera meningkat ketika mereka dikejutkan oleh hujan panah dari pasukan Ale Luwu. "Mundur! Mundur!" Las Lolipu memerintahkan, tapi sayangnya beberapa pengawal terjatuh.
Di sisi lain, La Mappanganro merawat luka para prajurit, berkata, "Kita tidak boleh kalah! Bantuan harus segera datang!" Situasi mulai genting, dan saat mereka mencapai dermaga, La Mappanganro meminta, "La Galigo, kita butuh rencana baru!"
"Jangan khawatir," La Galigo menjawab percaya diri, "mereka tidak akan mengalahkan kita dengan mudah. Kami memiliki kekuatan Tuhan di pihak kami." Dalam momen itu, pasukan Malaka secara tiba-tiba muncul dan menyerang dari belakang.
"Tidak mungkin!" Las Lolipu terkejut. "Mereka datang untuk melawan kita!"
La Galigo mengamuk, "Kita harus bertindak cepat! Kumpulkan semua kekuatan kita dan serang balik!" Hujan darah dan air dari lautan menjadi satu, meninggalkan jejak peperangan yang mengerikan.
Dalam kekacauan, La Galigo merasa kehilangan arah. "Demi Tuhan!" serunya, "kami membutuhkan dukungan! Bantu kami dalam pertempuran ini!" Tiba-tiba, suara dari Kerajaan Langit mengalun, "Doamu didengar, La Galigo."
Seorang dewa muncul, "Aku adalah Rambang Silangi dari langit. Gunakan cincin ini; ia akan memberikanmu kekuatan dalam perang." Tanpa berpikir panjang, La Galigo menerima cincin itu.
"Saya harus memakai ini!" La Galigo membentak. Hujan turun, dan musuh menjadi gatal, memecah kekacauan. "Bersiaplah menyerang!" Dengan semangat baru, La Galigo memimpin pasukannya bertarung kembali.
"Saatnya kita balas dendam!" teriak La Mappanganro dengan gertakan, memotivasi rekan-rekannya. Kekuatan La Galigo berlipat ganda. "Tetap bersamaku!" La Galigo berteriak, merangsek ke depan untuk bertarung dengan pemimpin pasukan Malaka secara langsung.
Perang berlangsung semakin sengit. La Galigo dan pemimpin pasukan Malaka bertukar serangan. "Kau tidak dapat menghentikanku!" seru La Galigo. Akhirnya, dengan energi terpendam, La Galigo mengakhiri pertempuran tersebut dalam satu serangan kuat.
"Kalahkan mereka semua!" perintah La Galigo, dan pasukannya mengikuti. Meski angin perang berhembus kuat, harapan untuk kemenangan masih menyala di dalam hati setiap prajurit.