Episode 084: Akhir Dari Peperangan Dan Kekejaman I La Galigo
Peperangan yang telah berlangsung kini mencapai puncaknya. La Galigo, yang telah mendapatkan kemenangan dari pasukan Sundari Aja, tampak ceria meski hawa kekacauan menyelimuti lingkungan.
"Melihat musuh tak berdaya, rasanya menyenangkan!" seru La Galigo sambil tertawa. Namun, pandangannya yang gelap menunjukkan gelagat lain. Terlalu sering mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak, pasukannya, dalam kegirangan, mulai menjarah rumah dan barang-barang milik rakyat yang tidak bersalah.
"Tidak, hentikan!" teriak La Mappanganro, berusaha menghentikan kekacauan itu. "Kita tidak begitu, kita pasukan, bukan penjarah!"
"Siapa yang peduli?" jawab salah satu prajurit, "Kekuasaan ini milik kita sekarang!"
Mendengar keributan, Datu Patoto'e yang berada di kerajaan langit merasa tertegun. "Apa yang dilakukan oleh putraku? Ini bukan perang yang diajarkan. Kekuasaan tanpa rasa hormat tidak akan bertahan," keluhnya.
Dari sisi lain, La Galigo mulai meresapi dampak dari tindakannya. "Apa yang telah kita lakukan?" bisiknya. Ia teringat ajaran Datu Patoto'e dan menyesali tindakannya yang melampaui batas.
"Lapangan terang," panggilnya, "persiapkan pertemuan. Kita harus memulihkan kehormatan dan meraih kembali kepercayaan yang hilang!"
Setelah mengumpulkan semua pasukan, La Galigo menginformasikan, "Kita harus bertindak bijak. Tidak lebih ada penjarahan! Kita berperang untuk menghormati yang lemah, bukan menghancurkan mereka!"
Haru memenuhi suasana saat prajurit menyadari kebenaran dalam kata-kata La Galigo. "Mari kita berjuang untuk keadilan!" teriak mereka, terbangun semangat bertarung yang lebih murni.
Setelah mengontrol pasukan, La Galigo melanjutkan perjalanan menuju istana Pujananting, bertekad untuk mendapatkan pengakuan dan menghormati perjanjiannya dengan kerajaan tersebut. Sesampainya di sana, Weber Yaji terlihat ragu dan khawatir.
"Kenapa kau datang lagi, La Galigo?" tanya Weber Yaji dingin. "Aku sudah memperingatkan agar tidak ada lagi peperangan yang terjadi!"
La Galigo tersenyum santai. "Aku di sini bukan untuk perang, tapi untuk merayakan dan mengukuhkan pernikahan."
"Namun, kau telah merusak segalanya!" Weber Yaji menjawab dengan marah. "Saudaraku masih hidup dalam ancamu!"
"Saya tidak akan mengganggu lagi," ucap La Galigo, mencoba menenangkan. "Kami hanya ingin merayakan dengan damai."
"Merayakan? Ini bukan pemandangan yang bisa dirayakan!" ujar Weber Yaji skeptis, tetapi tampaknya ingin mempercayai La Galigo.
Kedua belah pihak dihadapkan pada kenyataan pahit. Setiap keputusan berada di tangan La Galigo dan tanggung jawabnya atas konsekuensi yang telah berlaku. Sementara itu, kebimbangan menyelimuti hati La Galigo, terutama dengan anak yang ada dalam kandungan Putri Tompo.
"Sebentar lagi kita akan melahirkan seorang pejuang," ungkap La Galigo pada dirinya sendiri. "Semoga anakku bisa menjadi simbol persatuan, bukan kebencian."
La Galigo merasakan gelombang baru harapan dalam hatinya, sembari berdoa agar perdamaian dapat terjalin kembali, dengan pengorbanan yang lebih berarti.