Episode 086: La Galigo Dengan Anaknya La Mappanganro

Story DNA

Genre
legend
Tone
hopeful
Themes
identity, legacy, courage, filial piety
Plot Summary
La Mappanganro, a skilled young man, grows up without his father, La Galigo, a legendary king. After his mother reveals his father's identity, La Mappanganro embarks on a journey to Ale Cina to meet him. Upon arrival, he immediately seeks out the cockfighting arena and, unaware of their relation, challenges his own father, King La Galigo, to a high-stakes match, leaving their true relationship to be revealed in the ensuing confrontation.

Episode 086: La Galigo Dengan Anaknya La Mappanganro

Setelah melewati hari-hari panjang di Pujananting, La Mappanganro tumbuh menjadi pemuda gagah dengan semangat menyabung ayam yang membara. Namun, tidak seperti ayahnya, La Galigo, ia lebih melankolis dan selalu bertanya-tanya tentang keberadaan ayahnya. Suatu malam, ketika ia pulang setelah berlatih, La Mappanganro melihat anak-anak lain dijemput dengan hangat oleh orang tua mereka.

"Kenapa ayahku tidak pernah pulang?" tanya La Mappanganro pada ibunya, Putri Tompo, dengan tatapan penuh harap.

"Ibumu tahu, sayang. Ayahmu sedang berjuang untuk kedamaian," jawab Putri Tompo sambil mengelus kepala anaknya.

Senyum La Mappanganro kaku. "Tapi, ibu, jika ia benar-benar ada, mengapa ia tidak datang menemuiku?"

Tak tahan melihat rasa penasaran anaknya, Putri Tompo akhirnya memutuskan untuk bercerita tentang sosok ayahnya yang legendaris itu. "La Mappanganro, ayahmu adalah La Galigo, raja yang memerintah di Ale Cina. Ia lahir untuk menjadi pemimpin, dan kini, ia tengah mempertahankan kerajaan."

Mendengar kata-kata itu, mata La Mappanganro berbinar. "Bagaimana? Apa raja itu seagung yang kau katakan?"

"Lebih dari itu, anakku. Kerajaan Cina adalah tempat teramat ramai, penuh keseruan dan petualangan," jawab Putri Tompo, berharap untuk menggugah semangat anaknya.

Namun, pada usia yang masih belia, Putri Tompo merasa berat untuk membiarkan anaknya pergi ke Ale Cina. "La Mappanganro, kau belum cukup dewasa untuk menjalani kehidupan di sana."

"Tapi, ibu! Aku ingin bertemu dengan ayah!" dia memohon, dengan keyakinan dalam suaranya.

Hari-hari pun berlalu, La Mappanganro tidak berhenti berlatih. Akhirnya, Putri Tompo luluh. "Baiklah, pergi. Tapi ingat, kamu harus kembali. Janji!"

"Demikian, Ibu! Aku akan kembali!" ucap La Mappanganro sambil memeluk ibunya erat.

Dengan penuh semangat, La Mappanganro bersama rombongannya berlayar menuju Ale Cina. Selama perjalanan, ia tak henti-hentinya membayangkan pertemuan dengan ayahnya.

Setibanya di Ale Cina, La Mappanganro langsung menyusuri jalan menuju lapangan sabung ayam. Ia tak sabar untuk menunjukkan kemampuannya.

"Siapa kau, anak muda?" tanya Sawerigading, sang kakek, yang juga tengah berada di sana.

"Saya La Mappanganro, ingin menantangmu!" jawabnya penuh percaya diri.

Saat pertarungan berlangsung, La Mappanganro berhasil menang, membuat semua orang bersorak. Namun, La Galigo merasakan ada sesuatu yang spesial tentang anak itu.

"Siapakah yang kau sebut?" tanya La Galigo, berlari ke lapangan.

"Saya ingin menantang Anda, Raja La Galigo!" La Mappanganro mengeluarkan tantangan yang menggema di antara kerumunan.

La Galigo menatap anak itu, kagum dengan keberaniannya, tetapi tidak mengira bahwa ini adalah putranya. "Kalau aku kalah, aku akan memberi kau dua kerajaan. Apa kau berani?"

La Mappanganro merespons dengan senyuman penuh percaya diri. "Saya siap!"

Momen ini menciptakan ketegangan luar biasa. La Mappanganro tidak hanya berhadapan dengan lawannya tetapi juga dengan sosok ayahnya yang selama ini hanya ada dalam cerita. Bagaimana kelanjutan pertemuan antara ayah dan anak ini? Semua penasaran menunggu aksi epik yang akan terjadi selanjutnya.

Tokoh dalam Episode Ini

La Mappanganro (protagonist) La Galigo (antagonist) Putri Tompo (supporting) Sawerigading (minor)