Episode 094: Akhir Hidup Sawerigading Dan Akhir Kisah La Galigo
Di ruang pertemuan istana Ale Cina, Sawerigading berdiri tegar di tengah pengawal dan pembesar, matanya berbinar penuh tekad. "Aku ingin berlayar mengelilingi dunia," ucapnya, suaranya bergema dalam keheningan yang menyelimuti ruangan. "Aku ingin melihat berbagai negeri yang telah kita taklukkan dan mencari keturunan yang bisa menyebarkan darah Luwuk ke seluruh penjuru."
La Galigo, sebagai raja tunggal, angkat bicara, "Jika itu niatmu, maka kami semua mendukungmu. Tetapi ingat, banyak bahaya di lautan."
Sawerigading tersenyum dan menjawab, "Aku siap menghadapi segala tantangan. Kehidupan adalah perjalanan, dan aku ingin melaluinya dengan sebaik-baiknya."
Dari barisan belakang, La Togeq Langi' angkat bicara, "Jika Kakanda akan berlayar, biarkan aku menyertaimu! Aku ingin melihat dunia sebelum hayatku berakhir."
"Mengapa kau ingin pergi? Bukankah sudah cukup kau di istana, menjaga rakyat kita?" tanya La Galigo, suara khawatir mencoba membendung kerinduan.
"Karena aku ingin merasakan petualangan itu, sebelum waktu memanggilku kembali," La Togeq menjawab tegas, meyakinkan semua yang hadir akan niatnya.
Akhirnya, setelah berbagai kajian dan pembicaraan, mereka sepakat. Persiapan dimulai untuk mengarungi lautan. Sebanyak 72 kapal siap mengudara, setiap awak kapal penuh harapan dan semangat.
"Ini adalah misi terakhirku, wahai para pengawal," kata Sawerigading, menatap raut wajah penuh keyakinan. "Dengarlah, aku akan berdoa kepada Patoto'e untuk mengganti wajah kalian sama sepertiku. Dimulai dari kalian berpencar ke seluruh dunia dan menebar benih keturunan Luwuk dan Ugi!" Suara Sawerigading penuh semangat dan ketegasan.
Setelah melihat pengawalnya mengangguk dan menyetujui ide itu, ia melanjutkan, "Aku sudah tua, dan ini adalah kesempatan terakhirku sebelum aku kembali ke Ale Luwu."
Namun di tengah segerombolan harapan, sebuah gelombang besar menerjang kapal Sawerigading. "Ini tidak mungkin!" teriaknya, saat ombak yang tak terduga menghantam kapal. Dalam sekejap, semua berubah menjadi huru-hara.
Salindrung Langit, yang kini berbaring mendampingi putri bungsunya, hanya bisa memandang dalam ketakutan. "Ayah, tidak!" teriak Mutia Toja, air mata mengalir di pipinya.
Saat kapal tenggelam, hilanglah sosok Sawerigading. Lalu, seisi dunia terasa hampa. Di lautan yang tenang, tak ada yang tahu nasibnya. "Apakah dia telah pergi selamanya, atau adakah secercah harapan?" La Galigo berbisik, meratapi kehilangan sang ayah.
Dengan pelayaran ini, babak baru dimulai-namun dengan kesedihan yang menyelimuti. Kisah Sawerigading berakhir, tetapi impian dan harapan akan tetap hidup dalam ingatan mereka.