Episode 096: Sawerigading Melawan Adik Batara Guru

Story DNA

Genre
legend
Tone
hopeful
Themes
courage in the face of the unknown, diplomacy vs. conflict, divine intervention, territoriality
Plot Summary
Sawerigading and his fleet, on a voyage to revive Weleri Cina, encounter a giant wall and a mysteriously receding sea. After Sawerigading's prayer restores the water, an enemy fleet led by Lettewarani, Batara Guru's sibling, attacks them for trespassing. Sawerigading's attempt at diplomacy fails, leading to a fierce battle where his forces emerge victorious. Though Sawerigading shows mercy, Lettewarani, enraged by the defeat, vows to retaliate with a larger army, indicating the conflict is far from over.

Episode 096: Sawerigading Melawan Adik Batara Guru

Setelah berpamitan dengan Sinau Toja, Sawerigading dan armadanya berlayar kembali menuju tujuan utama: menghidupkan Weleri Cina. Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah. Dalam tiga hari pelayaran, mereka tiba di sebuah dinding raksasa yang menjulang tinggi, membuat seluruh awak kapal terpesona.

"Lihat, apa itu?" seru La Togeq, menunjuk dinding tersebut yang terlihat megah.

"Sepertinya itu batas antara kerajaan bumi dan langit!" jawab Lama Saguni dengan bersemangat.

Ketika mereka berusaha mendekati, air laut di sekitar mereka tiba-tiba surut. "Apa yang sedang terjadi?" teriak La Palinge', kebingungan.

"Aku tidak tahu! Tetapi kita harus berdoa kepada Patoto'e!" seru Sawerigading, berusaha tenang.

Namun, upaya mereka tampaknya sia-sia. "Doaku tidak dikabulkan!" keluh Palawagao, merasa putus asa. "Kita terjebak!"

Saat panic menyelimuti awak kapal, Sawerigading terbangun dari tidurnya dan langsung merespons. "Tenangkan diri! Berdoalah bersamaku," kata Sawerigading penuh semangat. Mereka semua berdoa bersama, dan seolah keajaiban terjadi, air laut kembali melimpah.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik dinding, kapal perang meluncur menghampiri. "Mereka datang!" seru Lama Saguni. "Pasukan dari dalam dinding itu sedang mengejar kita!"

Di balik dinding itu terdapat Lettewarani, adik Batara Guru yang merasa terancam akan kehadiran mereka. "Siapa mereka ini?" tanyanya dengan nada tinggi kepada Batara Mega.

"Manusia, yang berani memasuki perbatasan kita!" jawab Batara Mega dengan tegas.

"Berikan mereka pelajaran!" teriak Lettewarani, lekas memerintahkan pasukannya untuk menyerang.

"Mereka tidak boleh terus! Kita harus melawan!" La Togeq bersiap dengan senjatanya. Namun, Sawerigading menenangkan, "Sebelum bertindak, kita harus berdiplomasi!"

Lapangan Terang maju menemui pemimpin pasukan Lettewarani. "Kami tidak berniat mengganggu. Ini semua kesalahan pelayaran," katanya, berharap bisa meredakan ketegangan.

"Tidak ada ampun!" sahut pemimpin pasukan itu. "Bawa upeti atau bersiaplah untuk bertempur!"

Melihat situasi semakin memanas, Lapangan Terang cepat kembali ke kapal. "Kita tidak punya pilihan lain, serang!" perintahnya.

Peperangan pun pecah. Lama Saguni berjuang baik, menebas prajurit dengan terampil. "Kita tidak boleh mundur!" teriaknya sambil berlari memasuki barisan musuh.

"Di sini, lihat kekuatanku!" Sawerigading ikut beraksi, mengalahkan lawan-lawan di depannya.

Dalam pertempuran yang sengit, Lama Saguni berhasil merobohkan komandan musuh. "Biarkan dia pergi! Selamatkan kekuatan kita!" kata Sawerigading, mengizinkan musuh yang kalah untuk melarikan diri sebagai pelajaran bagi Lettewarani.

Tepat ketika semua tampak terkendali, berita kekalahan pasukan sampai kepada Lettewarani. "Siapa mereka? Mengapa begitu kuat?" pikirnya, wajahnya berang.

"Tak kan kubiarkan ini berlanjut!" Serunya, siap menyahut tantangan dengan membawa pasukan lebih besar, melawan Sang Gading. Kejutan dan tantangan baru menanti mereka, sepertinya pertempuran ini baru saja dimulai.

Tokoh dalam Episode Ini

Sawerigading (protagonist) La Togeq (supporting) Lama Saguni (supporting) La Palinge' (minor) Palawagao (minor) Lettewarani (antagonist) Batara Mega (minor) Lapangan Terang (supporting)