Episode 097: Kekalahan Sawerigading Dan Pesan Dari Datu Patoto'e
Ketika armada Sawerigading berhadapan dengan pasukan Lettewarani, ketegangan semakin membara. "Kita tidak bisa melawan dewa!" teriak Lapangan Terang, terlihat sangat cemas. Namun, Lama Saguni berdiri tegar, menatap ke arah line lawan. "Tak ada yang mustahil! Mari kita buktikan!" ujarnya sambil menghunus senjatanya.
Dengan semangat membara, Lama Saguni menerjang ke arah musuh. Suaranya menggema, "Kita harus melawan demi kehormatan!" Dia berhasil menebas beberapa prajurit yang mencoba menghalangi jalannya. Namun, Lettewarani yang menyaksikan kehebatan Lama Saguni berusaha menunjukkan bahwa kekuatan dewa tidak dapat diremehkan. "Bawa mereka semua ke akhir," teriak Lettewarani, memasuki medan perang dengan aura keangkuhan.
Lama Saguni terjebak dalam kegelapan yang diciptakan oleh Lettewarani. "Tidak, aku tidak akan kalah!" dia berusaha melawan, meski kesakitan menyiksa tubuhnya. Di sisi lain, Sawerigading bergumul dengan ketidakpastian. "Kita harus mundur!" seru Lapangan Terang, mulai kehilangan harapan. Namun, Sawerigading tidak ingin menyerah. "Kita tidak bisa pergi dengan cara ini!" katanya dengan determinasi.
"Jangan takut!" kata Sawerigading, menghunus pedangnya. "Aku akan memimpin kita. Jika kita harus mati, kita akan mati dengan terhormat!"
Berkat motivasinya, pasukan Sawerigading kembali bersatu meski dihadapi oleh kekalahan. "Kita adalah keturunan pejuang! Untuk kehormatan, marilah kita berjuang!" teriak Sawerigading dengan suara membara. Mereka kembali menyerang, meski di hadapan mereka terdapat dewa.
Setelah dua hari pertempuran yang sengit, Lettewarani merasakan keangkuhannya mulai goyah. Ia pun berdoa kepada Datu Patoto'e untuk mendapatkan kekuatan. Alih-alih, ia malah menerima pesan yang mengejutkan. "Jangan berperang satu sama lain. Itu adalah tindakan bodoh, apalagi melawan cucu dari kakakmu, Sawerigading."
Mendengar pesan itu, Lettewarani terperenyak. Tatapannya memandang Sawerigading, dua generasi, dua roh, saling mengenali. "Kau adalah cucuku?" ujarnya, terbisik.
Sawerigading pun terdiam, "Aku tak tahu siapa lawanku," katanya pelan. "Mengapa aku harus melawan keluargaku?" Perang yang tadinya menggema kini terasa sunyi.
Lettewarani kemudian mengulurkan tangan. "Mari kita hentikan semua ini," serunya, bergetar. Dengan kesedihan, Sawerigading menerima pelukan Lettewarani. "Maafkan aku karena terlalu emosi," katanya.
Keduanya sepakat untuk berdamai. "Mari kita gabungkan kekuatan untuk memperkuat hubungan antar kita," kata Sawerigading. Lettewarani mengangguk, merasa lega. "Datanglah ke kerajaanku. Kita akan membangun masa depan bersama."
Dan dengan itu, pertempuran yang mengerikan berakhir dengan pelukan hangat dan janji untuk membangun jembatan antara dua dunia yang dulunya saling bentrok.