Episode 102: Perang Melawan Kerajaan Arwah Dan Terbantainya Pasukan Sawerigading
Setelah bertemu kembali, Sawerigading berdiri tegak di hadapan Lettewarani, raja dari kerajaan langit. "Aku tidak menyangka ada hubungan darah di antara kita. Maukah kau memaafkanku atas segala yang terjadi?" tanya Sawerigading, suaranya penuh rasa penyesalan.
Lettewarani mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Akhirnya kita bertemu, tidak seharusnya kita berseberangan. Mari, aku akan menghidupkan kembali para prajuritmu," jawabnya mengerti.
Selama jamuan makan malam, Sawerigading menceritakan misi besarnya dalam mencari Weleri Cina, wanita yang dicintainya meskipun telah tiada. "Tanpa bersandar pada arti hidupku, aku terpaksa berlayar ke kerajaan arwah," ujarnya dengan penuh harapan.
Batara Mega, istri Lettewarani, ikut berbicara. "Di negeri ini, kami akan membantumu. Berlayarlah, walau tak mudah, kami ada bersamamu," tawar Batara Mega, senyum hangat menyiratkan dukungan.
Sawerigading menunduk, merasakan hati yang penuh rasa syukur. "Terima kasih, tetapi aku tidak bisa menjadi pemimpin di kerajaan para Dewa," katanya rendah hati.
Usai pertemuan, Sawerigading dan awak kapalnya bersiap untuk kembali. "Demi mencintainya, aku bahkan melawan takdir," jelas Sawerigading kepada para awak.
Mereka berlayar menuju kerajaan arwah, dan begitu tiba, Sawerigading memerintahkan kepada Lapan Andrang dan Lama Saguni untuk mencari Weleri Cina. "Kita harus menemukan dia sebelum terlambat!" tegasnya.
Di kerajaan arwah, mereka bertemu Batara Sengon. "Weleri Cina telah bertahun-tahun tinggal bersamaku. Dia menunggu kehadiranmu," ungkap Batara Sengon.
Saat mendengar ini, Lapangan Terang dan Lama Saguni terkejut, memikirkan betapa jauh perjalanan yang dilakukan Sawerigading. Namun, ketegangan langsung menyelimuti saat tahu bahwa Weleri Cina telah dilamar oleh Lada yang Lebih. "Kita harus menghadapinya," ujar Lapangan Terang dengan semangat.
Karena situasi tersebut, pertemuan di antara mereka menjadi semakin rumit. Tak lama, Lada yang Lebih muncul dengan amarah. "Siapa pun yang mengganggu pertunangan ini, akan kuhadapi!" teriaknya, menimbulkan ketegangan.
"Sawerigading tidak akan mundur, meski musuh terlalu kuat," tegas Lapangan Terang, siap melawan meski risiko mengancam.
Namun, dalam pertempuran yang berlangsung sengit, keperkasaan salah satu panglima lawan mengejutkan. Dalam sekejap, Lama Saguni terjatuh terkena serangan. Kabar kematiannya cepat menyebar, menambah amarah di kalangan pasukan Sawerigading. "Kita harus menyerang untuk membalas," seru Sawerigading, emosinya mendidih.
Ketika pertempuran semakin berkecamuk, setiap langkah berhapus harapan. Sawerigading menyaksikan sepupunya terjatuh, membuatnya runtuh secara emosional. Ia harus berjuang untuk menghentikan kekalahan total.
"Saatnya kita mundur!" teriak Lapangan Terang, tetapi legiun arwah sangat kuat, memaksa mereka menjauh. "Kami tidak bisa kalah, kita akan bangkit kembali," ucap Sawerigading sambil menahan air mata.
Malam itu, pasukan kembali ke kapal, dan keraguan menyelimuti perjalanan mereka. "Apakah semua ini sia-sia?" pikir Sawerigading, bersiap menghadapi segala kemungkinan di depan. Nasib mereka bergantung pada keputusan yang akan diambil selanjutnya.