Episode 112: Akhir Dari Kebahagiaan Dan Perginya We Tenridio
Di tengah meriahnya pesta yang digelar untuk mengingat jasa Batara Guru dan We Nyili' Timo, suasana di Ale Luwu masih bergetar akibat kedatangan Datu Patoto'e dan rangkaiannya. Sawerigading dengan energik memainkan tarian, mendandani keramaian dengan gerakan lincah.
"We Nyili' Timo, lihatlah betapa hebatnya tarian ini! Datu Patoto'e pasti terkesima!" jerit Sawerigading.
"Saya harap begitu, Sawerigading. Tapi ingatlah, kita harus berhati-hati dengan segala yang terjadi di sekeliling kita," jawab We Tenriabeng, terlihat cemas saat air mata menyiratkan kebahagiaan bercampur kesedihan.
Di sudut, Datu Palinge' mengawasi, "Pesta ini adalah simbol peralihan kekuasaan. Jangan biarkan satu tangan pun mengalihkan perhatian kita."
Namun, kegembiraan seketika sirna ketika Gutu Patalo yang terpesona dengan We Tenriabeng mendekatinya. "Saya ingin mengenalmu lebih dekat, We Tenriabeng. Kehadiranmu seperti cahaya di bumi yang redup ini!" ucapnya berani, membuat seisi ruangan menahan napas.
"Jangan pernah menyentuhku!" jawab We Tenriabeng tegas, menyisakan rasa kaget dan khawatir di antara para tamu. "Saya sudah ada yang menjaga."
Datu Patoto'e memperhatikan dengan serius, "Kita tidak akan membiarkan tindakan semena-mena. We Tenriabeng, bersabarlah. Gutu Patalo tahu posisi dan batasnya."
Tetapi saat meraih tangan We Tenriabeng, Gutu Patalo menantang, "Hanya sayalah yang layak bersanding dengan dewi sepertimu."
Kelegaan berbalik menjadi ketegangan ketika We Cudai menghampiri. "Kita harus pergi! Jika tidak, pernikahan mereka bisa menjadi lebih dari sekadar ancaman," bisiknya kepada Sawerigading.
Namun We Tenriabeng pun sudah tak tahan, "Saya harus pergi! Ini bukan lagi masalah cinta, tetapi melindungi seluruh kerajaan!" Suaranya menggetarkan hati Sawerigading.
"Saya akan bersamamu, apapun yang terjadi," Sawerigading berjanji, suaranya padat dengan keteguhan. "Kita tidak akan menyerah pada ancaman ini."
Tetapi ketika perpisahan semakin dekat, suasana di antara mereka perlahan menjadi amuk rasa cemas. We Tenriabeng sanggup berpisah, namun hati Sawerigading terombang ambing oleh kesedihan.
"Kalau saya pergi, kamu harus jaga kerajaan ini, Sawerigading. Jangan lupakan aku," ujar We Tenriabeng, matanya berkilauan menahan air mata.
"Aku akan mengingatmu, dan berjanji akan terus berjuang. Kita pasti akan bertemu lagi!" jawab Sawerigading dengan penuh harapan.
Pesta berjalan menuju titik puncak, namun kedamaian menjadi tanya ketika mereka menghadapi kemungkinan perpisahan yang sulit. Saat Gutu Patalo meraih perhatian kembali, ketegangan di udara menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melupakan nasib yang lebih besar menanti.