Episode 006: Bagian 3
Sejak menikah dengan We Cudai, Sawerigading semakin jarang mengunjungi kamarnya. Keberadaan istrinya di istana membuatnya merasa tenang, namun hal ini memunculkan berbagai gosip di kalangan para pembantu. We Cudai, yang marah mendengar bisik-bisik itu, tegur mereka dengan tajam, "Kalian tak tahu apa-apa! Hubungan ini adalah pilihan kami, bukan urusan kalian!"
Sementara itu, Sawerigading menikmati kebahagiaan barunya, bayangan We Tenriabeng semakin memudar. Namun, kerisauan menghampiri We Tenriabeng saat melihat saudara kembarnya yang seolah tersesat dalam cintanya. "Kau tidak bisa mengabaikan semua ini, Sawerigading. Kenapa kau tak berjuang untuk cinta sejatinya?" desak We Tenriabeng dalam doa yang dilanjutkan menjadi angin sakti, membangunkan Sawerigading dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan, We Tenriabeng? Angin ini...?" tanya Sawerigading, nubuatnya membuatnya terbangun dalam kebingungan.
"Aku hanya ingin kau ingat," jawab We Tenriabeng. "Ingatlah pada We Cudai!"
Mendengar panggilan itu, Sawerigading segera berangkat ke Ale Cina. Sesampainya di sana, ia mendapati istana yang sumpek dan dingin. Kamar We Cudai tidak terkunci, membuatnya merasa terdesak untuk melangkah masuk. We Cudai yang berada di dalam tampak terkejut, "Kau datang? Aku pikir kau tak akan pernah lagi!"
Sawerigading tersenyum, "Sudah saatnya kita berbicara dengan jujur. Tidak ada lagi penghalang di antara kita, bukan?"
"Aku... tidak tahu apa yang harus kukatakan setelah semua yang terjadi," We Cudai menjawab, wajahnya berwarna merah padam.
"Apakah kau masih membenci aku?"
"Hatiku masih dingin melihatmu," jawabnya, meski suara itu terdengar bergetar.
"Kau boleh membenciku, tapi jika kau tidak berjuang untuk cinta ini... maka kita akan kehilangan satu sama lain."
Pertemuan itu melahirkan kembali percikan-percikan yang tadinya padam. Keduanya semakin sering dipertemukan dalam bayangan, hingga akhirnya hubungan itu terwujud dalam kenangan. We Cudai meminta Sawerigading untuk menjaga rahasia mereka agar tak akan sekadar jadi gosip.
Namun, meski bahagia, Sawerigading merasa ada yang mengganjal. Dia berujar, "Jika masa depan kita berbeda, aku tidak akan menyesal."
We Cudai menatapnya, "Lalu apa yang kau inginkan, Sawerigading?"
"Aku ingin kita bisa bahagia, meski ada banyak rintangan."
Malam demi malam mereka habiskan bersama, hubungan ini tetap dirahasiakan dari dunia luar. Tetapi kerinduan We Tenriabeng menggoda hatinya untuk terus membujuk Sawerigading. "Kau tak bisa melupakan semuanya, kakak. Aku melihat betapa bahagianya kau, tapi tetap saja..."
"Lupakan semua itu! Bagaimana dengan istri baruku?" bentak Sawerigading.
"Saat kau menyetujui jabatan ini, kau membuat semua harus berjuang lebih baik lagi. Bukan untuk pertempuran, tetapi untuk cinta."
Ketika We Tenriabeng kembali ke istana, ia lebih dekat dengan We Cudai. "Kau tahu, We Cudai, hubungan ini mungkin lebih rumit dari yang kita kira. Jika Sawerigading tidak ingat kenangan kita, pernikahan ini mungkin hanya akan menjadikan segalanya lebih buruk."
We Cudai menahan air mata, "Itu bukan pilihan yang bisa aku buat! Sawerigading adalah segalanya bagiku."
Namun, benak We Tenriabeng tak bisa tenang, "Ingatlah, cintamu akan memakanmu. Ingat, Sawerigading telah mempersembahkan segalanya untukmu, apalagi saat ia berjuang di Ale Cina."
dalam sisa waktu, cuaca tak menentu membawa badai. Mitsu yang tajam menyentuh permukaan air, mengaduk keheningan malam. Di luar, suara gelombang menggelegar. Seakan semesta tahu perjalanan cinta ini adalah segalanya: pertemuan, konflik, pelarian tanpa akhir.
Di tengah badai perasaan, suara tegas Sawerigading membangkitkan harapan, "Takkan ada penghalang antara kita! Mari hadapi semua yang datang dengan berani!"
Mereka berdua saling tatap, seakan menghadapi takdir, dan sebuah janji terucap di antara air mata dan tawa bahagia. "Aku akan melindungimu selamanya, apapun yang terjadi."
Mengajak perahu menuju ke Pantai Ale Cina, Sawerigading merenungi langkah mereka: "Ada sesuatu yang kuingat... Iwe Tenriabeng, kau yang menginginkannya. Kita harus berjuang demi nama dan kebahagiaan kita."
Namun, tension menyelimuti perahu saat tiba di pantai. "Sawerigading, ingat semua yang kau tinggalkan!" teriak We Tenriabeng, yang meraih lengan Sawerigading saat mereka berdua bergandeng tangan menatap ke depan, menantikan badai baru.
Dalam hati, mereka tahu bahwa perjalanan cinta ini akan melahirkan lebih banyak cerita, konflik, dan harapan baru-membentuk aliran tak berujung menuju masa depan yang telah ditentukan oleh sang Patoe.